19 Safar 1443  |  Senin 27 September 2021

basmalah.png

Kisah Mualaf Lara Memeluk Islam

Kisah Mualaf Lara Memeluk Islam

Fiqhislam.com - Hidayah bisa menyentuh hati siapa saja yang Allah kehendaki, termasuk pada seseorang yang awalnya tidak memiliki keyakinan terhadap agama apa pun. Seperti kisah Lara, seorang Muslimah Kanada yang memeluk Islam pada Februari 1993 ketika ia berusia 23 tahun.

Lara merupakan perempuan keturunan Skandinavia yang lahir dan dibesarkan di Kanada. Seiring tumbuh besar, ia tidak pernah berafiliasi dengan agama apa pun dan juga bukan seorang ateis (tidak percaya keberadaan Tuhan).

Ketika masih remaja, ia mulai berpikir tentang agama. Pada saat itu ia percaya pada keesaan Tuhan (tauhid). Kendati begitu, kekristenan tidak pernah membuatnya tertarik.

Perjalanan Lara hingga akhirnya memeluk Islam berawal dari kontak pertamanya dengan Muslim, ketika ia diperkenalkan dengan beberapa siswa Muslim internasional pada 1988. Melalui mereka, Lara belajar sedikit tentang Islam, seperti halnya puasa Ramadhan.

Namun, baru pada 1992 ia mulai tertarik pada Islam. Pada musim panas tahun itu, sebuah surat kabar Kanada menerbitkan serangkaian artikel yang menyerang Islam dengan menggunakan contoh perilaku anti-Islam dari beberapa Muslim dalam upaya menjelekkan Islam.

Kala itu, Lara memiliki pemikiran bahwa non-Muslim cenderung menilai Islam atas dasar perilaku (yang belum tentu islami) dari orang Muslim. Saat itu, Lara belum menjadi seorang Muslimah. Namun, artikel tersebut dinilainya sangat memalukan sehingga, ia mengirim surat ke editornya untuk membela Islam. Hingga perlahan, ia memiliki rasa penasaran tentang Islam.

Lara kemudian membaca kembali beberapa artikel yang ia ambil beberapa bulan sebelumnya dari pajangan MSA Islam Awareness Week di universitasnya. Salah satu isi artikelnya memuat tentang Isa sebagai nabi Islam.

Ketertarikannya mendorongnya meminta seorang Muslim memberikannya beberapa buku tentang Islam, tentang ideologi Islam secara keseluruhan dan buku yang ditulis oleh dua penulis Muslim terkenal. Lara mulai terkesan dan semakin penasaran dengan Islam.

Selama beberapa bulan berikutnya, ia kerap mempelajari tentang Islam dari buku-buku Islam yang otentik di sela-sela waktu luangnya saat kuliah. Salah satunya, buku berjudul The Life of Muhammad SAW karangan Dr. Muhammad Haykal.

aLara berpikir mempelajari kebenaran tentang Islam tidak bisa diperoleh dari media massa. Selain itu, ia mengatakan para mualaf khususnya hendaknya berhati-hati untuk menghindari tulisan dari kelompok sesat yang mengaku terikat dengan Islam. Ia berpandangan, hanya karena penulisnya memiliki nama Arab tidak selalu berarti dia adalah seorang Muslim yang berpengetahuan atau bahkan Muslim sama sekali.

Selain menggali ilmu dari buku, Lara juga belajar tentang Islam dari beberapa Muslim yang berpengetahuan dan Muslim yang tidak menekannya. Sementara itu pula, ia mulai mengislamkan perilakunya yang dirasa tidak sulit.

Misalnya, ia mulai menghindari konsumsi alkohol dan daging babi. Selain itu, ia selalu lebih suka berpakaian sederhana dan tidak memakai riasan, parfum atau perhiasan di luar rumah. Lara mulai hanya mengonsumsi daging yang disembelih secara Islam. Selama itu, ia juga mengunjungi masjid di kotanya untuk pertama kalinya.

"Hingga saya menemukan Islam, saya hampir tidak tahu apa-apa tentangnya. Saya katakan menemukan karena Islam yang selama ini saya dengar melalui media massa bukanlah Islam yang benar. Saya selalu berasumsi Islam hanyalah agama buatan manusia, tanpa mengetahui itu adalah kebenaran. Saya juga berasumsi seseorang harus dibesarkan sebagai seorang Muslim untuk menjadi seorang Muslim. Saya tidak menyadari fakta semua manusia terlahir sebagai Muslim (dalam keadaan Islam, tunduk kepada Sang Pencipta)," kata Lara, dalam artikel yang diterbitkan di Islamweb.

Seperti banyak orang Barat, Lara juga menghubungkan Islam dengan 'Timur' dan tidak mengetahui Islam itu universal dalam waktu dan tempat. Kendati begitu, ia tidak pernah memiliki perasaan negatif tentang Islam.

Semakin banyak pengetahuan tentang Islam ia peroleh, semakin ia merasa benar-benar bisa menjadi Muslim. Ia merasa banyak dari keyakinan yang telah ia miliki sebenarnya islami dan bukan hanya sekadar 'akal sehat'.

"Jadi setelah membiasakan diri dengan apa Islam itu pada dasarnya dan apa tugas dan tingkah laku seorang Muslim, serta berpikir dan merenung, saya merasa siap menerima Islam dan hidup sebagai Muslimah," ujarnya.

Hingga suatu hari, Lara memutuskan mengucapkan kalimat syahadat di rumahnya dan mulai melaksanakan sholat lima waktu. Keputusannya menjadi mualaf itu terjadi pada Februari 1993, beberapa hari menjelang bulan puasa Ramadhan. Ia merasa antusias untuk mulai menunaikan puasa.

Meski baru pertama kalinya, namun puasa baginya terasa jauh lebih mudah daripada yang diperkirakan. Sebelum membiasakan berpuasa, ia sempat khawatir akan pingsan.

Awalnya, Lara memang membutuhkan sedikit periode penyesuaian dalam membiasakan diri dengan rutinitas baru untuk sholat dan puasa. Ia juga pernah membuat beberapa kesalahan. Namun, akhirnya ia menjadi lebih terbiasa dan merasa mudah.

Selain itu, Lara juga mulai membaca Alquran (terjemahan Abdullah Yoosuf Ali) ketika ia diberi satu salinan begitu ia menerima Islam. Sebelumnya, ia hanya membaca kutipannya di buku lain. Di awal-awal ia masuk Islam, Lara juga menemukan buku berjudul The Lawful and the Prohibited in Islam oleh Dr. Yoosuf Al-Qaradawi sebagai panduan yang bermanfaat.

Pemahaman akan Islam yang kian bertambah mendorongnya untuk mulai mengenakan jilbab (hijab). Hal itu dilakukannya pada Januari 1996. Saat itu, ia menyadari ia tidak bisa sepenuhnya berserah diri kepada Allah sebagai seorang Muslim tanpa mengenakan jilbab.

"Islam harus diterima dan dipraktikkan secara keseluruhan. Islam bukan agama mengubah-untuk-menyesuaikan diri. Sejak menjadi Muslimah, saya menyadari jilbab diperlukan oleh wanita Muslim dan saya berniat memakainya pada akhirnya," lanjutnya.

Lara menyadari ia seharusnya memakai jilbab begitu ia menerima Islam. Akan tetapi, bagi banyak Muslim (bahkan beberapa dari keluarga Muslim), tidak mudah mengambil langkah demikian dan memakainya di lingkungan masyarakat non-Muslim.

Namun akhirnya, ia berpikir bahkan seorang biarawati Kristen pun tidak pernah dikritik karena menutupi kepala mereka. Beruntung, dalam hidupnya Lara sendiri tidak pernah memiliki perasaan negatif terhadap muhajjabas (wanita berhijab) ketika melihat mereka. Namun, yang membuat Lara ragu memakainya kala itu adalah takut menerima perlakuan buruk dari orang lain, terutama keluarga.

"Tapi kita harus takut kepada Allah saja, bukan orang lain," tegasnya.

Beberapa bulan sebelum ia memakai hijab secara permanen, ia mulai berlatih memakai jilbab. Ia memakainya ketika bepergian antara rumahnya dan masjid setempat pada Jumat ketika ia mulai mengikuti sholat Jumat. Namun sejak menjadi Muslim, Lara pun selalu memakai hijab setiap kali sholat.

Beberapa pekan sebelumnya, dalam doanya Lara mulai meminta kepada Allah agar dimudahkan untuk memakai jilbab. Pada hari ia akhirnya memakai jilbab secara permanen, ia telah mencapai titik di mana ia merasa ia tidak bisa lagi keluar dengan kepala telanjang.

Meskipun orang lain mungkin tidak suka ia memakainya, namun Lara berpikir ia bertanggung jawab atas tindakannya dan ia harus melalukan kewajiban Islamnya. Setelah mengenakan jilbab, Lara justru merasa terlindungi dan akhirnya bisa keluar dan tidak menjadi sasaran tatapan/sorotan laki-laki.

"Awalnya saya merasa agak minder, tetapi setelah beberapa pekan saya merasa benar-benar terbiasa memakai jilbab. Terkadang orang lain terlihat bingung, menurut saya karena mereka tidak terbiasa melihat Muslimah yang berwajah pucat bermata biru! Ngomong-ngomong, memakai jilbab adalah dakwah karena menarik perhatian pada Islam," ujarnya.

Sejak menerima Islam itulah, ia terus mencari ilmu tentang Din (agama) yang merupakan kewajiban seumur hidup bagi semua Muslim. Lara juga kemudian belajar bahasa Arab agar ia bisa membaca Alquran.

Setelah menjadi Muslimah, rutinitas yang ia lakukan termasuk membaca, berdiskusi tentang Islam dengan Muslim lain, dan mendengar khutbah Jumat. "Berjuang untuk menjadi orang yang shaleh dan memerangi hawa nafsu (jihad al-nafs) membutuhkan usaha yang terus menerus dan tidak pernah berakhir bagi umat Islam. Saya merasa Islam semakin menarik, dan saya menikmati hidup sebagai Muslimah," katanya. [yy/republika]