fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Ramadhan 1442  |  Selasa 13 April 2021

Tayyibah Taylor: Suarakan Muslimah dengan Media Massa

Tayyibah Taylor: Suarakan Muslimah dengan Media MassaFiqhislam.com - Dari sederet majalah skala nasional yang beredar di Amerika, ada satu yang berbeda, yaitu majalah Azizah. ‘Berbeda’ karena majalah ini satu-satunya media yang ditulis oleh Muslimah dan tentunya diperuntukkan pangsa pasar perempuan Islam.

Majalah yang edisi perdananya terbit Oktober 2000 hadir setiap empat kali dalam setahun sesuai dengan empat musim di Amerika. Se uluh tahun kemudian (2010), tercatat Azizah memiliki oplah rata-rata setiap edisinya sebanyak 40 ribu eksemplar.

Adalah Tayyibah Taylor, Muslimah yang ada di balik Majalah Azizah. Ide awalnya, Taylor ingin menjadikan Azizah sebagai majalah yang me representasikan perempuan Muslim di seluruh dunia. Kare na, selama ini gambaran ten tang mereka justru datang dari kalangan pria Muslim atau dari golongan non-Muslim sekali pun. Kenyataan inilah yang mendorongnya menerbitkan majalah khusus Muslimah.

“Majalah Azizah ini muncul menjadi alat bagi Muslimah untuk menyuarakan pikirannya. Langsung dari mereka sendiri, bukan orang lain,” ujar Tayyibah dalam sebuah diskusi yang dikutip dari www.ascertainthetruth. com. Ia pun bertutur kisah seputar ide membuat majalah Muslimah pertama kali. Saat itu, ia duduk di bangku kuliah pada 1970-an.

Para mahasiswa di Universitas Toronto, Kanada, ini aktif berbicara tentang posisinya sebagai seorang Muslimah yang memiliki kulit ber arna. Ketika itu, ia melihat bahwa persepsi tentang masyarakat dengan warna kulit lebih gelap cenderung negatif. Representasi positif dari golongan masyarakat itu hanya ia da patkan dari sebuah majalah ber nama Ebony. Majalah itulah yang kemudian menjadi ide dasar dirinya untuk membentuk sebuah majalah yang mam pu menampilkan prestasi-pres tasi bagi sebagian besar Mus limah di dunia. Masa-masa itu adalah embrio dasar terbentuknya Azizah.

Keinginannya itu kian mengkristal saat ibu lima anak ini mengikuti pertemuan Mus imah seluruh dunia pada 1990-an. Di pertemuan itu, ia bertemu para Muslimah dari ber bagai mazhab yang berbeda dengan pencapai an yang ber macam-macam. Me urutnya, energi dan kemampuan dari perempuan-perempuan di ruangan ini sangat luar biasa dan memberikan kekuat an ter sendiri.

Ia pun meyakin kan diri sendiri, kegembirannya tak terhingga bila suatu masa bisa menceritakan dan merang kum pencapaian para Muslimah da lam sebuah majalah. “Sehing ga, orang-orang bisa melihat bagaimana sebenarnya perempuan Islam,” kata perempuan yang telah berkeliling ke 31 negara itu.

Hasratnya itu tak terkabul dengan mudah, semudah membalikkan tangan. Namun, akhirnya impian Tayyibah menjadi kenyataan. Kini, Azizah yang dalam bahasa Arab berasal dari kata ‘azza yang berarti kekuatan atau yang terkasih, telah mendapat peng akuan dari masyarakat Ame rika sebagai satu-satunya ma ja lah yang menjadi representasi Muslimah. Hal ini dibuktikan dengan penghargaan New American Media National Ethnic Journalism. Apresiasi itu diberikan pada majalah Azizah pada 2009.

Majalah Azizah tidak akan lepas dari figur Tayyibah. Perempuan cerdas berusia 57 tahun ini lahir di Pulau Trinidad, namun dibesarkan di Kanada sejak berusia tujuh tahun. Perempuan yang sempat belajar filosofi dan biologi di Universitas Toronto ini menjadi mualaf pada usia 19 tahun.

Ketertarikannya pertama kali dengan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW kala masih duduk di bangku SMA. Ketika itu, sekolahnya mengadakan kunjungan ke beberapa tempat untuk melihat dan mempelajari tentang agama-agama yang berkembang di dunia.

Salah satu tempat yang dikunjungi adalah sebuah masjid di Toronto. Saat berada di masjid, suara merdu azan yang dide ngarnya mampu menggetarkan hati Tayyibah. Sejak itulah, ia berkenalan dan menyatakan masuk Islam.

Melalui Azizah, Tayyibah memang mampu memberikan ruang bagi perempuan Muslim untuk berekspresi dan aktif me nyuarakan isu-isu yang ter kait kehidupan mereka. Akan tetapi, pencapaian dari perempuan yang pernah enam tahun tinggal di Jeddah, Arab Saudi, ini tidak berhenti di seputar majalah saja.

Ia banyak memberikan kuliah tentang Islam dan perempuan Muslim di berbagai konferensi nasional dan internasional.

Di antaranya, seperti dikutip dari wisemuslimwomen.org, Tayyibah tampil di Konferensi Marketing Muslim Women yang diselenggarakan oleh Uni versitas Duke. Ia juga pernah ditunjuk sebagai pembicara di Simposium Fulbright di Perth, Australia, serta konferensi ten tang Islam di Amerika yang diadakan oleh Harvard Divi nity School.

Ia juga hadir di konferensi tentang Islam dan Muslim pada abad ke-21 yang di gelar International Islamic Uni versity of Malaysia dan beberapa kuliah di International Islamic University of Islamabad, Pakistan.

Selain aktif berbagi dengan ilmu yang ia miliki, aktivis Mus limah ini meraih berbagai penghargaan bergengsi.

Pada 2005, ia menerima Media Awards dari Concerned Black Clergy of Atlanta, pada 2003 menjadi Honoring Women pada pemberian Media Award dari Muslim Women’s League, dan pada 2002, ia menerima penghargaan dari Sisters United in Human Service. Pada 2009, Tayyibah dinobatkan sebagai salah satu dari 500 Muslim di dunia yang paling berpengaruh dalam sebuah buku yang dihasi kan oleh Georgetown Un versity di Washington DC serta Pusat Studi dan Strategi Islam Kerajaan Yordania.

republika.co.id