24 Syawal 1443  |  Kamis 26 Mei 2022

basmalah.png

Enny Kenyowati Bersyahadat di KUA

Fiqhislam.com - Pemilik nama lengkap Rr Enny Kenyowati ini sudah dibaptis sejak kecil. Ia lahir dan besar di tengah keluarga Katolik Ortodoks. Warna Katolik sangat dominan di keluarga ayahnya.

Enny, begitu ia akrab disapa, menghabiskan masa kecil di Tulung Agung, Jawa Timur. Ia rajin mengikuti Sekolah Minggu.  Beranjak remaja, ia juga aktif menjadi aktivis di gereja, ikut bakti sosial, dan retret ke tempat-tempat ziarah. Ayahnya bersikeras Enny harus masuk ke sekolah Katolik sewaktu menginjak bangku SMA.

Lulus SMA pada 1983, perempuan kelahiran Juli 1964 itu, melanjutkan kuliah D3 bahasa Inggris di sebuah universitas swasta di Malang. Ia masih rajin pergi ke gereja, meski tidak lagi menjadi aktivis.  Ia tak pernah menduga, perpindahannya ke Kota Apel ini akan menjadi awal perubahan yang ekstrem dalam hidupnya.

Selama kuliah di Malang, Enny mengon trak sebuah rumah. Rumah itu berpenghuni sekitar 25 orang. Mayoritas berasal dari Trenggalek, Tulung Agung, Blitar, dan sekitarnya. Kebanyakan penghuni rumah itu Muslim. Yang memeluk Nasrani hanya Enny dan dua atau tiga teman lain.

Enny mengakui, kebanyakan teman dekatnya waktu itu memang Muslim, ham pir tidak ada yang Nasrani. "Saya ke betulan satu kamar dengan teman dari Kediri. Ini rupanya yang banyak berpengaruh, mungkin hidayah juga," ujar Enny. Teman sekamarnya itu bernama Sulistiyowati atau akrab disapa Tiyo.

Lazimnya perempuan, mereka sering curhat sampai malam. Mereka bercerita tanpa ada pretensi.  Azan Bukan sebuah kebetulan, di belakang rumah kontrakan itu berdiri Masjid Jami'  Malang. "Saya tidak tahu kapan mulainya dan apa penyebabnya, saya tidak tahu.  Pokoknya, setiap saya mendengar azan Maghrib, hati saya bergetar. Merinding, kalau kata orang Jawa," kata Enny.

Dia hanya diam. Satu per satu dia perhatikan temannya mulai beranjak mengambil air wudhu, kemudian shalat berjamaah. Mereka menghadap Allah dalam kondisi sama, mengenakan mukena yang suci, kemudian tempatnya juga harus suci. Semua itu tak lepas dari pengamatannya.

Enny pun mulai merenung. Ia lantas timbul ketertarikan untuk membaca buku-buku Islam. "Aku dikasih buku- buku tentang Islam dong, Yo," pinta Enny pada Tiyo. Ia kemudian mulai membaca tentang tauhid, Muhammad, dan soal- soal keislaman. Sejak itu, debat mereka berubah serius. Hampir setiap ada kesempatan, mereka gunakan untuk berdebat. Dari situ, Enny terus belajar.

Perasaan aneh itu juga masih terus bergetar setiap kali dia mendengar azan, tapi Enny tidak berani memberi tahu siapa pun. Tidak juga pada Tiyo atau teman- teman lain. "Saya sering, kalau malam itu saya amati gerakan dia (Tiyo) shalat. Dia nggak tahu, cuma saya amati," ungkap Enny. Getar-getar itu semakin kuat muncul di lubuk hatinya.

Sampai tibalah masa Ramadhan.  Lantaran kebanyakan penghuni kontrakan Muslimah, setiap malam mereka pergi ke masjid untuk shalat Tarawih. Saat itulah, tebersit keinginan di hati Rr Enny Kenyowati untuk ikut ke masjid.

"Ah, kowe ki guyon to? Opo o kon. (Ah, kamu bercanda ya? Mengapa?) Takut ya di rumah sendiri?" sahut Tiyo tak percaya, mendengar keinginan sahabatnya. Enny pun meyakinkan. Pertama, dia tidak ingin sendirian di rumah. Kedua, dia memang ingin ikut.

Tiyo kemudian menyampaikan keingin an Enny pada Mbak Nanik. Di rumah kontrakan itu, mereka punya seseorang yang paling dituakan. Mbak Nanik, namanya, pegawai pemerintah daerah (pemda). Mbak Nanik-lah yang mengorganisasi rumah kontrakan mereka.

Siapa yang piket masak, bersih-bersih, semua digilir, ia sering menjadi imam saat shalat jamaah, tempat anak-anak mengadukan permasalahan, atau meminta saran. "Mbak, Enny lho mau ikut ke masjid,"  kata Tiyo.

Mbak Nanik menjawab, "Yo nggak popo, diajak wae (Tidak apa-apa, diajak saja)."

Mendengar jawaban Mbak Nanik, berangkatlah Enny ke masjid.  Oleh Tiyo, dia suruh memakai mukena, kemudian dibariskan di bagian belakang.  "Nek kesel, lungguh nggak popo (Kalau capai duduk nggak apa-apa),"  kata anak Kediri tersebut.

Begitu masuk masjid, kisah Enny, dia langsung merasa, "Ya Allah, petunjuk apa ini." Ia merasa luruh. Pada malam-malam berikutnya, berulang kali Enny ikut ke masjid.

Perasaan yang menggeliat di batinnya itu mengubah laku Enny. Dia jadi jarang ke gereja. Setiap kakaknya datang menjemput pergi kebaktian, Enny berdalih. Ketika kakaknya datang Sabtu, Enny bilang besok dia baru akan ke gereja.

Lain hari, ketika kakaknya datang hari Ahad, dia bilang sudah ke gereja hari Sabtu. Perempuan asal Tulung Agung itu selalu berusaha menghindar. Alih-alih ke gereja, dia malah aktif mencermati dan ingin tahu tentang Islam.
Sekira beberapa hari kemudian, terlintas keinginannya untuk belajar shalat. Dia ungkapkan itu kepada Tiyo.

Sahabatnya pun kaget. "Lho, En. Kowe saiki kok berubah ngene. Engko ndang kon gara-gara aku (Lho, En. Kamu sekarang kok berubah seperti ini. Nanti jangan- jangan gara-gara aku)," ucap Tiyo dengan logat Jawa Timurnya. Saat itulah, Enny mulai menangis dan menumpahkan semua perasaan.

Tiyo kemudian menyampaikan masalah itu kepada Mbak Nanik. Dengan bijak, Mbak Nanik mengatakan, "En, kamu kalau memang mau masuk Islam, ada syaratnya. Syaratnya, mengucapkan kalimat syahadat dan harus ada saksi."
Diberi tahu seperti itu, esok harinya Enny memutuskan tidak berangkat kuliah.

Pagi-pagi, dia kendarai sepeda motornya menuju ke Kantor Urusan Agama (KUA).  Sampai di sana, dia sampaikan maksud kedatangannya pada seorang petugas.

Setengah kaget bercampur senang, petu gas itu menyuruh Enny masuk ke ruangan kepala KUA. Kepada beliau, Enny mengisahkan semua mulai dari awal, latar belakang keluarga, sampai akhirnya ingin masuk Islam.
"Kalau mau masuk Islam, harus tidak ada paksaan, Mbak. Harus ikhlas," kata kepala KUA waktu itu.

"Yang namanya masuk Islam juga tidak sekadar Islam KTP, tapi harus patuh dengan aturan-aturan."

Singkat cerita, Enny mengikrarkan syahadat di KUA pagi itu juga. Saksinya, dua pegawai kantor tersebut.
Begitu surat pernyataan dibuat, langsung dia melaminasinya. Hari itu Enny tidak kuliah sama sekali. Dia langsung pulang ke kontrakan.

"Saya tenger-tenger. Senang dan haru jadi satu. Saya nge-blank di kamar. Saya menangis saja, saya nggak tahu apa yang saya tangisi. Mau shalat belum bisa waktu itu. Wudhu juga masih harus dituntun," kenang Enny, sambil menahan luapan memori. Air matanya mengalir saat ia berkisah.

Malamnya, Enny bercerita pada Tiyo kalau dia sudah masuk Islam. Ia perlihatkan bukti sertifikat keislaman dari KUA. Kepada Tiyo pula, Enny minta diajari shalat waktu itu. Langsung malam itu juga, tanpa sepengetahuannya, anak- anak kontrakan berkumpul.

Esok harinya, saat dia pulang kuliah, sudah ada nasi tumpeng. Dia dipanggil, kemudian satu per satu teman sekontrakan bergantian memeluknya. "Itu yang tidak bisa saya lupakan. Saya nggak tahu teman-teman saya itu ke mana sekarang,"  kata Enny mengenang.

Meski sempat men da pat penolakan dari sang ayah dan kakak-kakaknya, kini hati mereka luluh. Terutama setelah Enny dikarunia anak beberapa bulan kemudian. Enny bersyukur, saat ini semua kakaknya bahkan sudah memeluk Islam. [yy/republika]