18 Dzulhijjah 1442  |  Rabu 28 Juli 2021

basmalah.png

Garaudy Ungkap Kontribusi Peradaban Arab-Islam

Roger Garaudy, Filsuf Muslim Prancis


Roger Garaudy, Filsuf Muslim Prancis


Fiqhislam.com - Roger Garaudy (lahir di Marseille, 17 Juli 1913) ialah pengarang Prancis dan penyangkal Holocaust. Selama PD II, Garaudy ditawan sebagai tahanan perang di Aljazair. Garaudy ialah seorang komunis yang mencoba mendamaikan Marxisme dengan agama Katolik pada 1970-an dan kemudian meninggalkan kedua doktrin itu dan masuk Islam pada 1982, dengan nama Ragaa.

Pemikir Islam Prancis, Roger Garaudy, tentang Politik ZIONISME.

Musuh terburuk keyakinan Yahudi yang jauh ke depan adalah logika para nasionalis, rasis, dan kolonialis dari Zionisme kebangsaan, yang dilahirkan dari nasionalisme, rasisme, dan kolonialisme abad ke-19 di Eropa. Logika ini, yang menginspirasi semua penjajahan Barat dan semua perang antara satu nasionalisme dengan nasionalisme lainnya, adalah sebuah logika yang membunuh diri sendiri. Tidak ada masa depan atau keamanan bagi Israel dan tidak ada keamanan di Timur Tengah kecuali jika Israel meninggalkan paham Zionismenya dan kembali ke agama Ibrahim, yang adalah warisan bersama, bersifat keagamaan, dan persaudaraan dari tiga agama wahyu: Yudaisme, Nasrani, dan Islam. Garaudy juga menegaskan, dirinya tidak memusuhi Yahudi sebagai sebuah agama. Ia memerangi Zionisme sebagai gerakan politik yang lepas dari agama, dan harus diperangi karena paham rasialis dan imperialis yang diajarkan. Zionisme tak punya hubungan dengan agama, murni soal politik. Ini adalah bentuk imperialisme Zionis.

Dengan cara ini, Zionisme memasuki politik dunia sebagai sebuah ideologi rasis yang menganut paham bahwa Yahudi seharusnya tidak hidup bersama dengan bangsa-bangsa lain. Pertama-tama, ini adalah gagasan yang keliru yang menciptakan masalah parah bagi dan tekanan atas orang-orang Yahudi yang hidup dalam belenggu ini. Kemudian, bagi orang-orang Islam di Timur Tengah, paham ini membawa kebijakan Israel tentang pendudukan dan perebutan wilayah bersama-sama dengan kemiskinan, teror, pertumpahan darah, dan kematian.Pendeknya, Zionisme sebenarnya adalah sebuah bentuk nasionalisme sekuler yang berasal dari filsafat sekuler, bukan dari agama. Akan tetapi, seperti dalam bentuk nasionalisme lainnya, Zionisme juga berusaha menggunakan agama untuk tujuannya sendiri.

Awal Mula Gagasan Rasis Zionisme.

Rasisme bangkit di abad ke-19. Gagasan rasis, terutama akibat pengaruh teori evolusi Darwin, tumbuh sangat subur dan mendapatkan banyak pendukung di kalangan masyarakat Barat. Zionisme muncul akibat pengaruh kuat badai rasisme yang melanda sejumlah kalangan masyarakat Yahudi.

Kalangan Yahudi yang menyebarluaskan gagasan Zionisme adalah mereka yang memiliki keyakinan agama sangat lemah. Mereka melihat “Yahudi” sebagai nama sebuah ras, dan bukan sebagai sebuah kelompok masyarakat yang didasarkan atas suatu keyakinan agama. Mereka mengemukakan bahwa Yahudi adalah ras tersendiri yang terpisah dari bangsa-bangsa Eropa, sehingga mustahil bagi mereka untuk hidup bersama, dan oleh karenanya, mereka perlu mendirikan tanah air mereka sendiri. Orang-orang ini tidak mendasarkan diri pada pemikiran agama ketika memutuskan wilayah mana yang akan digunakan untuk mendirikan negara tersebut. Theodor Herzl, bapak pendiri Zionisme, pernah mengusulkan Uganda, dan rencananya ini dikenal dengan nama ‘Uganda Plan’. Kaum Zionis kemudian menjatuhkan pilihan mereka pada Palestina. Alasannya adalah Palestina dianggap sebagai ‘tanah air bersejarah bangsa Yahudi’, dan bukan karena nilai relijius wilayah tersebut bagi mereka.

Sang Zionis melakukan upaya-upaya besar untuk mengajak orang-orang Yahudi lainnya menerima gagasan yang tak sesuai agama ini. Organisasi Zionis Dunia yang baru melakukan upaya propaganda besar di hampir semua negara yang berpenduduk Yahudi, dan mulai berpendapat bahwa Yahudi tidak dapat hidup dengan damai dengan bangsa-bangsa lainnya dan bahwa mereka adalah “ras” yang terpisah.

Oleh karena itu, mereka harus bergerak dan menduduki Palestina. Sebagian besar orang Yahudi mengabaikan himbauan ini.Kaum Yahudi radikal, melihat bahwa “bangsa yang terpilih” adalah sebagai karakter rasial dan oleh sebab itu mereka berpandangan bahwa setiap orang Yahudi mendapatkan keunggulan melalui kelahiran dan setiap anak-anak Yahudi dianggap sebagai seseorang yang unggul di banding bangsa-bangsa lain.

Penyimpangan kedua yang terbesar dari sudut pandang ini menampilkan anggapan sebagai “suatu perintah untuk melakukan kekejaman atas bangsa lain.” Untuk tujuan ini, para Zionis membenarkan perilaku mereka melalui kebencian-kebencian turun-temurun yang bisa ditemukan dalam beberapa hal pada Yudaisme Talmud. Kenyataan menunjukkan, semua ini adalah kejahatan yang melecehkan agama sejati, karena Allah memerintahkan kita untuk melestarikan keadilan, kejujuran, dan hak orang-orang tertindas, dan hidup dalam kedamaian dan cinta.

Lebih jauh lagi, pernyataan anti-non-Yahudi ini bertentangan dengan Taurat itu sendiri, seperti ayat-ayat yang mengutuk penindasan dan kekejaman. Akan tetapi, ideologi rasis Zionisme mengabaikan ayat-ayat seperti itu untuk menciptakan sistem kepercayaan berdasarkan amarah dan kebencian. Tanpa mempedulikan pengaruh ideologi Zionis, beberapa orang Yahudi yang benar-benar percaya pada Allah akan mengetahui bahwa agama mereka mengajarkan mereka untuk tunduk pada ayat-ayat lainnya ini yang memuji perdamaian, cinta, kasih, dan perilaku etis, seperti:

Selanjutnya, anggapan sebagai bangsa pilihan menjadikan legitimasi atas “sebuah perintah untuk melakukan kekejaman kepada bangsa-bangsa lain.” Kaum Yahudi melegitimasi tindakan brutal mereka melalui kebencian yang dalam yang dapat ditemukan di dalam beberapa aspek dari Yudaisme Talmud. Menurut pandangan tersebut, hal yang wajar apabila kaum Yahudi mencurangi non-Yahudi, merampas tanah dan bangunan mereka, apabila perlu membunuh mereka, wanita dan anak-anak. Bagi mereka seorang Yahudi yang percaya kepada Tuhan pasti menyadari bahwa agama mereka menganjurkan untuk menghargai kedamaian, cinta, pengampunan dan tingkah laku.

Para pengikut Zionis berusaha keras untuk menjadikan orang-orang Yahudi lain mau menerima gagasan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama mereka ini. Organisasi Yahudi Dunia, yang didirikan untuk melakukan propaganda masal, melakukan kegiatannya di negara-negara di mana terdapat masyarakat Yahudi. Mereka mulai menyebarkan gagasan bahwa orang-orang Yahudi tidak dapat hidup secara damai dengan bangsa-bangsa lain dan bahwa mereka adalah suatu ‘ras’ tersendiri; dan dengan alasan ini mereka harus pindah dan bermukim di Palestina. Sejumlah besar masyarakat Yahudi saat itu mengabaikan seruan ini.

Dengan demikian, Zionisme telah memasuki ajang politik dunia sebagai sebuah ideologi rasis yang meyakini bahwa masyarakat Yahudi tidak seharusnya hidup bersama dengan bangsa-bangsa lain. Di satu sisi, gagasan keliru ini memunculkan beragam masalah serius dan tekanan terhadap masyarakat Yahudi yang hidupnya tersebar di seluruh dunia. Di sisi lain, bagi masyarakat Muslim di Timur Tengah, hal ini memunculkan kebijakan penjajahan dan pencaplokan wilayah oleh Israel, pertumpahan darah, kematian, kemiskinan dan teror.

Garaudy memandang senjata boikot ekonomi berpengaruh dalam menghadapi konspirasi AS. Dengan sendirinya, langkah ini juga ikut melemahkan Israel. Sebab, negeri Yahudi ini tak mungkin eksis tanpa bantuan Amerika.

Zionis menemui kegagalannya di Barat kini, da-lam mempropagandakan pengakuan-pengakuan bersifat dongeng yang memutar balik fakta, untuk membuktikan bahwa me-reka adalah “manusia pilihan Tuhan”, dan bahwa Palestina adalah “tanah yang di-janjikan” bagi mereka, sehingga karena itu mereka secara leluasa menginjak-injak hak-hak bangsa Palestina.

Ia juga memiliki pemikiran bahwa kebesaran bangsa Yunani hanyalah cerita sejarah yang dibuat karena ketidakpahaman. Hal yang sama juga tentang keunggulan bangsa Yahudi.Mitos keistimewaan Yunani hanya dapat terjadi karena kebodohan yang disengaja atau penolakan terhadap asal-usul dan sejarah kota Athena pada zaman Pericles. Mitos keistimewaan bangsa Yahudi juga disuburkan oleh kebodohan yang disengaja serta penolakan yang sama.

Garaudy mengungkapkan, agama Masehi mengambil bahan dan tradisi Yahudi dan Yunani, negara tetangga terdekat Turki- dari hubungannya bangsa Timur. Selain itu, agama ini juga dipengaruhi oleh biksu-biksu Budha yang dikirim oleh Ashoka, seorang Maharaja India dari Dinasti Maurya (261 SM) sebelum lahirnya Nabi Isa as.

Sangat wajar bila kemudian Islam mengkritik peradaban, moral, dan keyakinan Yahudi, Kristen, dan tentunya Barat. Sebab, dalam pandangan Islam, kedua agama yang turut melahirkan peradaban Barat selama ini salah dan telah diselewengkan oleh para penganutnya.

Roger Garaudy, seorang pemikir Perancis menyimpulkan bahwa peradaban Islam adalah warisan peradaban modern yang ketiga yang diwarisi oleh Barat setelah Yunani dan peradaban Yudeo-Kristiani. Namun sayangnya Barat tidak secara lengkap mewarisi peradaban Islam, hanya sebagian saja yang diambil oleh Barat.
Garaudy mengungkapkan, agama Masehi mengambil bahan dan tradisi Yahudi dan Yunani, negara tetangga terdekat Turki- dari hubungannya bangsa Timur. Selain itu, agama ini juga dipengaruhi oleh biksu-biksu Budha yang dikirim oleh Ashoka, seorang Maharaja India dari Dinasti Maurya (261 SM) sebelum lahirnya Nabi Isa as.Keturunan para biksu itu terdapat masyarakat Essena, dan mereka itu mempunyai pandangan-pandangan dan perilaku tang sangat mirip dengan panadangan serta perilkau masyarakat Gua Qumran atau masyarakat Injil Thomas yang ditemukan di Mesir, Sangat wajar bila kemudian Islam mengkritik peradaban, moral, dan keyakinan Yahudi, Kristen, dan tentunya Barat. Sebab, dalam pandangan Islam, kedua agama yang turut melahirkan peradaban Barat selama ini salah dan telah diselewengkan oleh para penganutnya.

Penguasaan dan penghayatan yang tepat akan ilmu pengetahuan alam dan sosial menjadi pondasi kebangkitan setiap peradaban mulia, dimana di dalam Islam ilmu pengetahuan tersebut menjadi bagian yang utuh dalam perjalanan menuju jalan keyakinan akan kekuasaan Dzat Yang Maha Pencipta.

Pemikiran tentang Agama Islam

Roger R, Garaudy, mengatakan bahwa budaya Qur’ani yang dikembangkan para kaligrafer Muslim, telah berpengaruh di dada perupa Barat, seperti Kandinsky, Mondrian, Monet, Gauguin, Matisse yang juga mengembangkan nilai-nilai keilahian pada karya-karya mereka, utamanya setelah di Munich, Spanyol diselenggarakan pameran seni Islam tahun 1910.

Setiap rasul yang diutus Allah telah meletakkan dasar bagi rasul yang menggantikannya. Allah memilih Nabi Muhammad sebagai penutup para rasul dari agama-agama wahyu itu. Ini berarti bahwa Islam telah sempurna dengan turunnya Al-Qurãn, yang di dalamnya menyebutkan bahwa semua rasul adalah muslim.

Ketika peristiwa-peristiwa dunia telah membutakan dan menekan, melahirkan sejumlah kemajuan dan kekerasan, Al-Qurãn mengajar kita untuk merenungi dunia ini dan kemanusiaan, sebagai suatu kesatuan. Sehingga, dengan demikian, peran yang dimainkan manusia mempunyai beberapa makna. Jika kita melupakan Allah, kita menjadi budak yang bertindak sebagai alat kepentingan luar. Sedangkan dengan mengingat Allah – dalam shalat, kita mendapatkan kesadaran tentang status dan fitrah kita, yang merupakan alasan keberadaan kita.

Al-Qurãn mengimbau untuk memandang segala hal dengan segala kejadian sambil menghubungkannya dengan Pencipta, dan sebagai lambang kenyataan yang buktikan bahwa Dialah yang telah membuat peraturan yang unik ini, yang mengendalikan alam dan manusia.Sifat dasar agama (Islam) ini adalah kerjasama dan persatuan berdasar kehendak Allah, dan (ajaran bahwa) kepadaNya akhirnya kita kembali.Hal yang menyebabkan manusia menjadi manusia adalah kemungkinannya untuk mencapai nilai-nilai yang dirancang Allah.

Dia bisa mematuhi perintah Allah atau menentangnya. Islam tidak merecoki makhluk-makhluk lain seperti tumbuhan, hewan, dan barang-barang yang tidak bisa bebas dari aturan yang mengendalikan mereka. Kita tahu, hanya manusia yang bisa membantah. Manusia bisa menjadi seorang muslim menurut kemauan bebas serta pilihannya, ketika ia menyadari sistem yang menyatukan alam ini. Manusia bertangung jawab sepenuhnya terhadap nasibnya sendiri, sebagaimana ia mempunyai kemampuan untuk menentang atau patuh terhadap tuntunan-tuntnan Allah.

Islam adalah satu-satunya agama yang mengakui agama-agama terdahulu, dan menganggap semua rasul sebagai muslim. Nabi Muhammad tidak mengatakan bahwa ia membawa ajaran baru. Sebaliknya, ia menegaskan bahwa ia diutus untuk mengembalikan manusia pada agama Ibrahim; dan menerangkan bahwa ajaran agama-agama terdahulu telah dipu-tarbalik oleh Yahudi.

Ia juga menyimpulkan bahwa peradaban Islam adalah warisan peradaban modern yang ketiga yang diwarisi oleh Barat setelah Yunani dan peradaban Yudeo-Kristiani. Namun sayangnya Barat tidak secara lengkap mewarisi peradaban Islam, hanya sebagian saja yang diambil oleh Barat.Penguasaan dan penghayatan yang tepat akan ilmu pengetahuan alam dan social menjadi pondasi kebangkitan setiap peradaban mulia, dimana di dalam Islam ilmu pengetahuan tersebut menjadi bagian yang utuh dalam perjalanan menuju jalan keyakinan akan kekuasaan Dzat Yang Maha Pencipta.

Spiritualitas Seni dan Keindahan Kaligrafi Arab

Seni menulis indah atau kaligrafi diciptakan dan dikembangkan oleh kaum Muslim sejak kedatangan Islam, mendapat sambutan luar biasa. Hal ini berbeda bila dibandingkan seni Islam yang lain. Kaligrafi memperoleh kedudukan yang paling tinggi dan merupakan ekspresi spirit Islam yang sangat khas. Oleh karena itu, kaligrafi sering disebut sebagai ‘seninya seni Islam’ (the art of Islamic). Kualifikasi ini memang pantas karena kaligrafi mencerminkan kedalaman makna seni yang esensinya berasal dari nilai dan konsep keimanan. Oleh sebab itu, kaligrafi berpengaruh besar terhadap bentuk ekspresi seni yang lain.

Roger Garaudy: Krisis Peradaban Barat Kontemporer

Roger Garaudy menentang keras sikap membuta-tuli Barat yang mencelakakan itu serta mengajak kepada musyawarah yang sehat antara peradab-an-peradaban yang merupakan saudara dalam sejarah. Ia mengingatkan utang budi Barat kepada Islam yang tak putus-putusnya memberi bahan dan menyuburkan seni, filsafat, begitu juga sains, teknik, hukum dan sastra. Dalam beberapa hal, Timur lebih maju dari Barat yang belum cukup beradab. Dalam pertempuran Poitiers, yang lebih biadab barangkali bukan yang dikalahkan oleh Charles Martel (ta-ngan kanan raja Spanyol, Frank, yang mengalahkan tentara Islam di Poitiers pada tahun 1732).

kebudayaan Barat, yang menon-jolkan individualisme, telah menjauhkan nilai kemanusiaan dari diri manusia sendiri, memisahkannya dari keagungan ruhaniah, merampasnya dari rasa kemasyarakatan, dan meletakkan suatu bentangan di antara sains dan teknologi di satu sisi dan sains dengan akal di sisi yang lain.peradaban Barat mengalami krisis bukan sekedar karena faktor-faktor incidental-temporer, seperti pelanggaran moral, politik dan teknik semata. Lebih dari itu. Faktor penyebab krisis itu berhulu pada faktor inti, struktural,pijakan filsafatnya dalam memandang wujud dan manusia. Sejak masa kebangkitan Eropa, Barat modern dikuasai filsafat atau ideologi yang membatasi pandangannya terhadap Tuhan, manusia dan alam, berdasarkan fokus-fokus berikut:

1) Filsafat yang mengingkari transendensi Tuhan dan nilai-nilai mutlak. Artinya, keimanan kepada Yang Transenden dan pijakan nilai mutlak disingkirkan dari pola peradaban Barat kontemporer. Peradaban ini melihat “manusia adalah ukuran segala sesuatu”.

2) Filsafat yang menekankan individualisme dalam relasi antar manusia (sosial). Individu diyakini cukup dengan dirinya sendiri. Orang lain selalu mengancam kebebasan eksistensialnya.

3) Filsafat yang memandang alam sebagai hak milik khusus manusia, hak mutlak untuk menggunakannya sampai menyalahgunakannya. Pandangan ini berakar pada hukum Romawi kuno.

Garaudy menjelaskan lebih lanjut bahwa, pandangan tentang transendensi tuhan dan nilai-nilai mutlak diganti dengan “agama pertumbuhan” atau “ideologi progresif”. Pertumbuhan adalah keinginan memproduksi lebih banyak dan lebih cepat, dengan ukuran berguna atau tidak berguna (pragmatism). Pertumbuhan menjadi kiblat orientasi dinamika peradabannya. Pertumbuhan jadi tujuan dari perbuatan dan perencanaan. Pertumbuhan menjadi “tuhan tersembunyi”. Garaudy menulis,”tuhan tersembunyi ini adalah tuhan yang ganas karena ia membutuhkan korban manusia.

Masyarakat Barat kontemporer menyatukan tujuan dengan cara, mengubah cara menjadi tujuan. Manusia bukan tujuan, tapi cara dimana ia mengendalikan hukum pasar. Karena itu, Garaudy menyebutnya sebagai “agama sarana-sarana”. Konsekuensi logis dari pengkudusan sarana-sarana itu, kekuataan, pengendalian dan pertumbuhan materi menjadi nilai-nilai trensenden dan tujuan peradaban. Dengan kata lain, peradaban tanpa tujuan-tujuan kemanusiaan dan moral, sebab tujuan-tujuannya adalah sarana-sarana itu sendiri yang tidak tunduk kepada ukuran selain ukuran kekuatan dan kekuasaan.

Sedangkan individualisme, mengubah dunia menjadi hutan belantara dimana kepenting saling bertentangan, membawa pertarungan mematikan antar individu, demi kepentingan individual atau nasional seraya menutup mata dari “yang lain” yang dipandang sebagai pembatas, penolak, lawan atau musuh. Individu kehilangan solidaritas dan tanggungjawab sosial. Manusia terkotak-kotak dalam lembaga-lembaga, Negara-negara dan blok-blok. Negara-negara industri tumbuh degnan menggusur,menambah miskink negeri terbelakang. Logika kekerasan dan teror berkembang biak. Yang kuat memaksakan kekuasaan dan syarat-syaratnya pada yang lemah. Memang, tampak kadang ada perimbangan. Namun, perimbangan yang menyembunyian perang dingin. “Perimbangan ketakutan,” tulis Garaudy. Perang semua melawan semua.

Menurut Garaudy, individualism berkembang dalam kapitalisme menjadi totalitarisnisme, seperti di nagara sosdialis, dimana monopoli kekuasaan dan keputusan terletak di tangan partai berkuasa dan melarang individu, rakyat untuk berinisiatif dan hak berbeda.

Sedangkan, dalam pemikiran budayanya, peradaban kontemporer berciri “kebudayaan putus asa”. Di dalamnya, terjadi penciutan manusia dalam satu dimensi tunggal dan memandangnya sebagai individu produsen dan konsumen. Masyarakat konsumerisme menciptakan gairah, kebutuahan yang membuat manusia terikat pada sistemnya, membawa pada kematian.

Sebabnya, sarana dan teknik telah berubah menjadi tujuan, dan hikmah menjadi terpisah dari ilmu pengetahuan sehingga membuka jalan bagi “para nabi” dari “tuhan tersembunyi” ini menyebarluaskan keputusasaan dan nihilisme. Yakni, mengajak manusia jauh dari tuhan dan nilai absolut seraya menuhankan manusia sebagai penguasa alam. Akibatnya, kedaulatan dan kekuasaan minus tuhan itu menjelma menjadi kekerasan, perang antar kelompok, dan manusia jadi satu dimensi. Muncul paganisme dan pesimisme baru. Ilmu penfetahuan berubah menjadi scientisme, teknik menjadi teknokratisme, dan politik menjadi machiavelianisme. Tersebarlah gagasan-gagasan absurdisme,nihilisme, pembesar-besaran masalah sistem ekonomi dan politik dunia, seolah-olah seperti ketentuan Ilahi yang tidak bisa berubah. Rasionalisme berwajah “akal alat” dan “akal Negara” menghasilkan derision (cara berfikir rusak). Singkatnya, bagi Garaudy, peradaban Barat modern kehilangan tujuan kemanusiaanya, yang bila berkelanjutan hanya akan bermuara pada kehancuran, kematian, dan tragedy.

FUNDAMENTALISME

Roger Garaudy, mendefinisikan fundamentalisme dengan ‘suatu pandangan yang ditegakkan atas keyakinan, baik yang bersifat agama, politik, dan budaya, yang dianut oleh pendiri yang menanamkan ajaran-ajarannya di masa lalu dalam sejarah.

istilah fundamentalis ini pada mulanya mengalami perkembangan perluasan makna, bukan hanya terbatas pada kaum Katolik, tapi juga meluas ke gerakan-gerakan lain yang identik dengan statis, fanatik dan konservatif. Maka muncul istilah fundamentalisme Yahudi (Zionisme), Fundamentalisme Vatikan dan juga fundamentalisme Islam dan lain-lain..

Pemikiran Roger Garaudy tentang Zakat

Menurut Roger Garaudy, zakat bukanlah suatu kebaikan hati dari orang yang memberikannya, tetapi suatu bentuk keadilan yang diatur menurut cara-cara Islami—zakat adalah suatu yang diwajibkan sampai solidaritas yang bersumber dari keimanan itu seseorang dapat menaklukkan egoism dan kerakusan dirinya. Garaudy adalah seorang mualaf dari Perancis di mana sejak mudanya ia adalah seorang komunis totok. Karena keilmuannya yang tidak pernah puas mencari sesuatu yang hakiki dalam dirinya, terutama di dalam mencari kebenaran, ia pun sempat pindah-pindah agama dan terakhir ia sendiri takluk untuk masuk Islam.

Hukum mengeluarkan zakat adalah “wajib”. Kewajiban seseorang pembayar zakat dianggap gugur dengan menyerahkan zakat harta yang diwajibkan kepada empat golongan pertama yang berhak menerima zakat yaitu; fakir miskin, orang miskin, amil zakat dan mualaf. Penyerahan zakat kepada mereka merupakan syarat terlaksananya kewajiban zakat. Penyerahan zakat tidak lain menyerahkan sejumlah uang kepada orang-orang yang berhak menerima zakat atau membeli sesuatu alat yang bias menghasilkan pendapatan seperti peralatan kerja dan mesin-mesin perindustrian, kemudian diserahkan kepada orang-orang yang berhak menerima zakat yang mampu bekerja sebagai miliknya.

Bagi Garaudy (1981), zakat bukanlah karitas, tapi suatu sikap solidaritas yang utuh, yang diwajibkan, sehingga rasa solidaritas yang bersumber dari keimanan itu dapat menaklukkan egoisme dan kerakusan diri. Al-Qur’an dan Sunnah mengatur pembagian kekayaan dengan jalan menginstitusionalisasi lembaga zakat, suatu pungutan wajib, bukan berdasarkan penghasilan, melainkan atas dasar kelebihan harta. Dengan demikian, dalam suatu masyarakat di mana zakat dilaksanakan secara konsisten, tak akan ada orang yang hidup sebagai parasit karena kekayaan yang diwarisi orangtuanya, dan tak akan ada orang yang (terpaksa) mencuri karena ia lapar.

Roger Garaudy tentang ilmu sosial profetik.

Sehubungan dengan itu mas Kunto terlihat sangat setuju dengan pandangan Roger Garaudy. Garaudy -sebagaimana dikutip oleh mas Kunto- mengatakan bahwa filsafat Barat (filsafat kritis) “tidak memuaskan, sebab hanya terombang ambing antara dua kubu, idealis dan materialis, tanpa kesudahan. Filsafat Barat (filsafat kritis) itu lahir dari pertanyaan: bagaimana pengetahuan itu dimungkinkan. Dia [Garaudy] menyarankan  untuk mengubah pertanyaan itu menjadi: bagaimana wahyu itu dimungkinkan..” (2006: 97). Garaudy berpendapat bahwa “Filsafat Barat sudah “membunuh” Tuhan dan manusia”. Oleh karena itu dia menyarankan “supaya umat manusia memakai filsafat kenabian dari Islam (Garaudy, 1982: 139-168) dengan mengakui wahyu”.

Semangat profetik, menurut Roger Garaudy, timbul karena adanya dorongan untuk menyampaikan makna dari realitas yang tidak tampak, yang berada di balik gejala yang tampak. Para penyair yang memiliki semangat profetik menyadari bahwa gejala-gejala kehidupan yang terlihat oleh mata dan pikiran yang biasa ini hanyalah ungkapan lahir dan simbol dari kenyataan hakiki yang tersembunyi. Gejala-gejala lahir ini adalah alamat-alamat Tuhan dan ayat-ayat-Nya yang mesti dibaca dan dihayati secara mendalam. Karena ia adalah kebenaran yang hakiki, maka bagi penyair relegius tugas utamanya ialah menyampaikan berita kenabian, berita bahwa ayat-ayat Tuhan terbentang dan tersembunyi di dalam alam dan di dalam diri manusia.

Gagasan Garaudy mengenai wahyu sebagai salah satu sumber pengetahuan rupanya sangat , karena ini merupakan sebuah alternatif yang  ditawarkan oleh Garaudy untuk mengatasi kelemahan yang ada dalam ilmu pengetahuan empiris.  Roger Garaudy bahwa informasi dan pengetahuan ilmiah tidaklah cukup dijadikan dasar transformasi sosial di masa depan. Menurutnya. “Kekuatan yang dahsyat bukan saja berasal dari penyebaran kebudayaan besar-besaran seperti surat kabar, radio, televisi, bioskop, serta lembaga-lembaga yang mempergunakan media-media ini untuk merekayasa perilaku orang per orang demi tujuan ekonomi, politik, dan moral tertentu. Namun juga dari pandangan yang menomorduakan peran dan tanggung jawab manusia sebagai subjek yang berkesadaran dan berkepribadian, bukan manusia sebagai benda yang sejarahnya hanya merupakan permainan struktur-struktur”.

Gambaran yang telah disajikan mengenai masyarakat modern ini saya kira telah cukup untuk menggugah orang mempertanyakan kembali peranan agama di masa depan dalam proses transformasi budaya masyarakat kita. Seperti kata Roger Garaudy, pertama oleh karena perilaku individu dalam masyarakat modern direkayasa semata-mata demi tujuan ekonomi, politik dan moral tertentu. Sedangkan di dalam Islam tujuan terakhir dari kehidupan bukanlah tujuan ekonomi atau politik. Kedua, Al-Qur’an Al-Karim menekankan bahwa manusia diturunkan ke dunia ini sebagai khalifah (wakil) Tuhan, dalam arti ia harus memiliki kesadaran subjektif dan kepribadian. Sedangkan kehadirannya di muka bumi jauh lebih penting daripada apa pun saja termasuk mesin-mesin dan peralatan teknologi modern.

Teori Pengetahuan dalam Filsafat

Roger Garaudy: “Ilmu-ilmu mengajarkan kita bahwa manusia itu muncul di muka bumi pada tahap yang akhir sekali, demikian pula pikirannya. Menyatakan bahwa pikiran itu ada di bumi sebelum materi, berarti menyatakan bahwa pikiran itu bukanlah pikiran manusia. Idealisme, dalam segala bentuknya, tidak dapat terlepas dari teologi”. Lebih lanjut Roger Garaudy mengatakan: “Bumi sudah ada bahkan sebelum segala yang sensitif, yaitu sebelum segala maujud hidup. Tak ada materi organik apa pun di atas bola bumi pada tahap terawal eksistensi planet ini. Jadi, materi non-organik mendahului kehidupan yang harus tumbuh berkembang selama beribu-ribu tahun sebelum munculnya manusia beserta pengetahuannya. Jadi, ilmu menuntun kita kepada keyakinan bahwa alam sudah ada dalam keadaan yang di dalamnya bentuk apa pun dari kehidupan atau sensibilitas tidak mungkin ada.

Makna kematian menurut Filsof

Beberapa Marxist kontemporer, seperti Roger Garaudy menekankan nilai edukatif dari kematian. Kematian mengajarkan bahwa hidup manusia tidak terletak dalam ”memiliki”, karena kematian menghapus segala kepemilikan personal dan segala milik pribadi.

Roger Garaudy : zaman renaisans tidak mewarisi secaralangsung ajaran-ajaran kebudayaan Yunani, sebab baru setelahmelalui terjemahan dan komentar sarjana dan filosof Islamterhadap karya-karya pemikir besar Yunani, kebudayaan Yunanikemudian dijadikan objek kajian akademis zaman renaisans.

Islam Agama Terbuka

Islam sebagai agama terbuka dinyatakan Roger Garaudy, seorang failasuf Prancis yang telah menyatakan diri masuk Islam, dan mulai banyak memberi sumbangan pikiran. Ia merasa gusar sekali dengan munculnya fundamentalisme (Prancis: intégrisme; Arab: ushûliyah) dalam Islam, bersamaan dengan munculnya fundamentalisme agama-agama lain di seluruh dunia, yang ia nilai sangat merugikan kemanusiaan pada umumnya. Bagi kaum Muslim, untuk mengatasi fundamentalisme itu dan memberi sumbangan kepada kemanusiaan masa mendatang, perlu mereka berusaha kembali menemukan seluruh dimensi Islam yang dahulu pernah membuatnya demikian agung dan jaya. Rincian pandangan Garaudy itu adalah sebagai berikut:

Pertama, memahami dan mengembangkan dimensi Qurani Islam, yang tidak membatasi Islam hanya kepada suatu pola budaya Timur Tengah di masa lalu, dan yang akan melepaskan ketertu-tupannya sekarang.

Kedua, memahami dan mengembangkan dimensi keruhanian dan kecintaan Ilahi sebagaimana dikembangkan oleh kaum Sufi seperti Dzu Al-Nun dan Ibn Arabi. Untuk melawan paham kea-gamaan yang formalistik-ritualistik serta liberalisme kosong, agar dihayati makna shalat sebagai penyatuan dengan Allah, zakat sebagai penyatuan dengan kemanusiaan, haji sebagai penyatuan dengan seluruh umat, dan puasa sebagai sarana ingat kepada Allah dan orang kelaparan sekaligus.

Ketiga, memahami dan mengembangkan dimensi sosial Islam guna menanggulangi masalah kepentingan pribadi yang saling bertentangan, dan untuk mewujudkan pemerataan pembagian kekayaan.

Keempat, menghidupkan kembali jiwa kritis Islam, setelah jiwa itu dibendung oleh kaum vested interest dari kalangan ulama dan penguasa (umara) tertentu dalam sejarah Islam, dengan menghidupkan kembali semangat ijtihad, yang menurut Muhammad Iqbal merupakan satu-satunya jalan menyembuhkan Islam dari penyakitnya yang paling utama, yaitu “membaca Al-Quran dengan penglihatan orang mati.”

Kelima, secara radikal mengubah program pengajaran agama, sehingga formalisme keagamaan yang kering dapat diakhiri.

Keenam, meningkatkan kesadaran tanggung jawab pribadi kepada Tuhan dalam memahami ajaran-ajaran agama, tanpa mengizinkan adanya wewenang klerikal dan kependetaan, karena Islam memang tidak mengenal sistem kependetaan.

Ketujuh, mengakhiri mentalitas isolatif, dan membuka diri untuk kerja sama dengan pihak-pihak lain manapun dari kalangan umat manusia, dalam semangat perlombaan penuh persaudaraan, meskipun dengan mereka yang mengaku atheis, guna meruntuhkan sistem-sistem totaliter.

Untuk dapat melakukan itu semua amat diperlukan usaha-usaha pengayaan intelektual (intellectual enrichment), baik tentang masa lalu, masa kini, maupun perkiraan masa depan. Dan karena khazanah Islam di masa lalu sedemikian kayanya, maka salah satu usaha pengayaan intelektual itu ialah dengan membaca kembali, memahami, dan memberi apresiasi yang wajar kepada warisan budaya umat. Tetapi pembacaan dan pemahaman masa lalu hanya untuk mencari otoritas adalah tidak benar, sebab masa lalu tidak selamannya absah dan otentik. Sejarah, termasuk sejarah pemikiran, harus dipahami secara kritis di dalam kerangka dinamika faktor ruang dan waktu yang menjadi wadah atau lingkungannya. Pandangan kepada masa lalu sebagai dengan sendirinya absah dan otentik, sambil meninggalkan sikap kritis kepada fakta-fakta historisnya, adalah pangkal sikap-sikap tertutup, konservatif, dan beku yang justru amat berba-haya. Tetapi pemahaman kepada masa lalu secara kritis dan dinamis, disertai apresiasi ilmiah yang adil, akan menjadi pangkal tolak pengayaan intelektual yang subur dan produktif. Sebab manusia tidak mungkin menciptakan segala sesuatu dalam budayanya mulai dari nol setiap saat. Manusia bagaimana pun harus mengembangkan unsur-unsur warisan masa lalu yang sehat, dengan digabungkan kepada unsur-unsur baru yang lebih sehat lagi. Tidak adanya kontinuitas kultural dan intelektual masa sekarang dengan masa lalu akan mengakibatkan pemiskinan (impo-verishment) kultural dan intelektual; dan pemahaman masa lalu secara dinamis, kritis, dan dalam semangat penghargaan yang adil dan wajar adalah amat diperlukan untuk pengayaan kultural dan intelektual guna memperoleh pijakan konfidensi baru yang kukuh menghadapi masa depan.

Ancaman Terhadap Garaudy

Garaudy menerima sembilan buah surat kaleng dan telpon yang mengancam akan membunuhnya. Sebuah LSM yahudi LICRA menuntutnya ke pengadilan atas tuduhan anti yahudi. Banyak pengacara mengatakan bahwa yang dikecam dalam iklan itu adalah negara Israel, bukan komunitas Yahudi. Garaudy dan kedua sahabatnya berpendapat bahwa yang disampaikan mereka adalah ajaran dari nabi-nabi orang Yahudi. Sionisme politik telah menggantikan Tuhan orang Israel dengan Negara Israel.

Garaudy berpendapat bahwa sionisme politik itu harus dilawan sebagaimana juga gerakan anti yahudi ditentang. Keduanya sejalan. Garaudy kemudian menerbitkan buku La Palestine, terre des messages divins. Dalam buku ini Garaudy mengungkapkan bahwa sionisme politik yang dipelopori oleh Theodor Herzl (yang sebetulnya juga ditentang oleh pendeta/rabbi yahudi di seluruh dunia) bersumber bukan dari kepercayaan yahudi melainkan dari nasionalisme dan kolonialisme Eropa abad XIX.

Garaudy tetap pada keyakinannya bahwa ia bukan mengecam agama/komunitas yahudi tetapi sionisme politik. Itulah sebabnya ia mengunjungi tokoh yahudi Nahum Golman. Atas saran Garaudy, Presiden Mesir Naser bertemu dengan Nahum Goldman.

ROGER GARAUDY: Jalan Berliku Mencari Tuhan

Sebagai seorang putra veteran, semasa pelajar, ia menerima beasiswa dari pemerintah, kemudian ia mendalami filsafat di Universitas Aix-en-Provences, Perancis Selatan. Sebagai mahasiswa jurusan filsafat ia seakan-akan diajari bahwa dunia yang sebenarnya adalah dunia Plato dengan ide-idenya yang menembus ke seberang dari realitas. Schopenhauer menyatakan bahwa kemanusiaan adalah mereparasi orang-orang jahat dan orang-orang yang teralienasi. Namun absurditas — absennya makna — selalu ada bersama eksistensi. Kebijakan adalah menghilangkan ilusi bahwa orang bisa mengubah dunia, kebijakan adalah berbalik dari melakukan aksi.

Garaudy yang semula mengikuti pemikiran seperti di atas berubah pandangan setelah mendengar dosen filsafatnya memberikan komentar atas kerusuhan 6 Februari 1934: “Kita harus menyelamatkan manusia”. Garaudy berkata “Sejak itu aku tidak bisa lagi melakoni dua kehidupan yang tersobek-sobek ini” (maksudnya antara filsafat yang di awang-awang dengan kehidupan nyata). Di sini kekerasan, absurditas, kekerasan, kemiskinan dan dominasi. Di sana ada hal-hal ideal dari filsafat kejiwaan di mana filsuf bermain dengan kontradiksi yang jinak seperti Marie-Antoinette (Ratu Perancis yang terkenal dengan kehidupan mewahnya) memainkan peran seorang wanita penggembala (yang tentu miskin).

Suasana ketika itu (sekitar tahun 30-an) memang penuh kemelut. Hitler mulai berkuasa. Krisis bursa New York tahun 1929 dan malaise ekonomi yang menyebar ke seluruh dunia menyebabkan 74 juta jiwa penganggur di negara-negara industri. Berarti 74 juta jiwa berada dalam hukuman mati percobaan, hanya perang yang bisa menyerap tenaga kerja sebanyak itu. Dalam situasi seperti itu muncul pertanyaan mendasar bagi pemuda Garaudy: “Mau kuapakan hidupku ini ?”

Filsafat Hamelin (Hegel kecil) mengungkapkan tentang kecongkakan orang yang mengurung –dalam sistem ide — kontradiksi-kontradiksi yang ada di dunia ini. Hamelin menjadikannya transparan dalam pemikiran. Itulah yang mendorong Garaudy untuk menelusuri asal-asul pemikiran tersebut kepada filsuf satu abad sebelumnya yakni Kierkegaard dan Marx.

Buku Kierkegaard Crainte et Tremblement adalah buku pertama yang dibacanya dengan mata hatinya. “Renungan filsuf ini tentang pengorbanan Ibrahim tertancap dalam hati seumur hidupku”, ujar Garaudy. Tuhan mencobai Ibrahim dan berfirman “Bawalah anakmu satu-satunya yang engkau cintai, Ishak. Pergilah ke negeri Morija dan di sanalah kurbankanlah anakmu di salah satu gunung yang nanti akan Kusebutkan. (Genese, XXII, 1-2) (Catatan Redaksi: Dalam Quran putra Ibrahim yang dikurbankan adalah Ismail).

Putranya merupakan suatu mukjizat, ia harus menunggu seratus tahun untuk mendapatkannya, dalam penantiannya yang panjang, putra dari seorang yang sudah berusia lanjut, tatkala harapan untuk mendapatkan anak sebetulnya absurd. Putra ini adalah “janji”nya terhadap keturunannya di masa mendatang. Ibrahim dengan mengurbankannya, telah mengingkari “janji” terhadap keturunannya, tetapi dengan ini sekaligus ia melibatkannya kepada masa depan dunia, dengan memperjuangkan firman Tuhan. Harapan dan perjuangan Ibrahim ini dilandasi oleh suatu kebijaksanaan yang tidak bisa ditangkap hanya dengan akal.

Kontras dengan logika (yang “kecil”) dan moral kita (yang juga “kecil”), contoh inkondisional dari Tuhan ini selalu kuingat dalam hidupku, demikian pengakuan Garaudy.

Orang dapat melibatkan dirinya dalam mengambil keputusan tanpa alasan yang “objektif”, itulah yang disebut keyakinan. Bahkan seperti diajarkan oleh Kerkegaard, keyakinan itu mendesak untuk menerima paradoks yang kontras dengan visi tradisional bahwa citra Tuhan itu hanya kekuatan dan kemenangan: Kristus adalah Tuhan dan ia dipermalukan dan disalib.

Perlu keputusan agar hidup ini memiliki makna. Pengakuan tanpa bukti. Aku melihat matahari tetapi aku tidak bisa membuktikannya. Pernyataan kebalikannya: hidup ini tidak punya makna dan juga sebuah postulat. Para ahli mengatakan bahwa ilmu pengetahuan tidak mampu menjawab semua persoalan, termasuk pertanyaan tentang awal penciptaan dan tentang akhirat.

Berpuluh tahun kemudian, aku baca kembali ucapan Kierkegaard, aku sadar bahwa keatheisanku adalah pemurnian dari gagasan tentang Tuhan, penolakan terhadap semua “Tuhan” yang bukan Tuhan. Atheisme “tahap terakhir sebelum mencapai akidah yang sempurna”. Tahap ini tak berhasil kucapai, Tuhan menghardikku, Kierkegaard “menjadi postulat…keputusasaan terhadap keyakinan adalah pendekatan Tuhan”. Aku tahu bahwa pusat segala sesuatu bukanlah individu, manusia atau bangsa: untuk mengatasi khaos …, aku mengemukakan postulat bahwa ada sesuatu yang absolut/mutlak.

Dalam situasi kejiwaan sedang mencari Tuhan dan dengan pandanganbahwa filsafat itu itu harus terlibat menyelamatkan manusia, Roger Garaudy dalam usia 20 (tahun 1933) menjadi anggota partai komunis Perancis. Ketika mendaftar ia berkata: “Aku ingin berterus terang bahwa aku adalah seorang Kristen. Masuk partai bagiku adalah tuntutan dari keyakinanku. Aku mahasiswa filsafat. Aku sudah membaca karya lengkap Karl Marx sampai jilid XXIII. Aku tidak mencari metafisika dalam karya Marx. Tetapi aku temukan di situ metodologi untuk melakukan prakarsa historis. Ilmu untuk menganalisis kontradiksi-kontradiksi yang ada di masyarakat dan berangkat dari situ program untuk mengatasi kesenjangan itu…”

Petugas yang menerima pendaftaran berucap “Lenin pernah berkata bahwa Paus pun bisa masuk Partai bila bersedia menerima politik dan disiplin.” Maka tugas yang pertama diberikanya kepadanya adalah menempel poster-poster di waktu malam di Marseille dengan menghindari polisi. Isi poster-poster itu berupa ajakan demonstrasi menentang kelompok ekstrem kanan. Enam bulan setelah masa percobaan ini, salah seorang pengurus partai bertanya: Kamu masih mau tetap jadi anggota partai ? Ya, jawab Garaudy. Memang, ia tetap dalam partai ini selama 37 tahun.

Tahun 1945 atas permintaan kelompok militan ia ditunjuk partai untuk mengikuti pemilihan parlemen. Sampai tahun 1962 ia menjadi wakil rakyat, pernah menjadi ketua komisi pendidikan nasional di parlemen bahkan sempat pula jadi wakil ketua parlemen Perancis.

Ketika ia menjadi ketua komisi pendidikan di parlemen, wakilnya adalah Marc Sangnier dari partai demokrasi kristen. Garaudy menyenangi definisi demokrasi yang diberikan oleh sang wakil ketua: Demokrasi adalah rezim yang menciptakan bagi semua anak-anak, kondisi ekonomi, politik dan spiritual yang memungkinkan mereka mengembangkan secara penuh kemampuan manusiawi yang diberikan Tuhan kepada mereka.

Sebagai pimpinan partai komunis Perancis ia sering bepergian ke luar negeri seperti ke Vatikan, pada saat Paskah tahun 1948. Ia bertemu seorang anggota komunis Italia.

Bulan Agustus 1949, Garaudy keliling Amerika Latin. Dari rencana semula hanya 10 hari, ternyata ia menghabiskan waktu empat bulan. Ia mengunjungi 14 dari 21 negara yang ada di benua Amerika ini. Di Meksiko ia menghadiri kongres perdamaian Pan-Amerika. Di Bresil ia mengunjungi Eldorado, negeri emas. Kesannya tentang Bresil dan negeri Amerika Latin: negeri-negeri yang kaya dengan berjuta-juta penduduk miskin.

Bulan November 1949 ketika pulang ke Perancis ia tidak dikenali lagi oleh anaknya yang berusia satu tahun.”Aku seperti orang asing di rumah. Aku tidak pernah menangis, kecuali hari itu. Aku menangisi kontradiksi hidupku sebagai seorang militan partai.” Putra tadi adalah dari istrinya yang kedua. Istri garaudy yang pertama adalah teman semasa kuliah di jurusan filsafat yang kemudian bercerai secara baik-baik dengannya setelah tidak mempunyai anak.

Tahun 1953 ia mempertahankan disertasinya di Universitas Sorbonne yang berisi sintesis filsafat sains di Uni Soviet dan dari intelektual komunis berbagai negara (dari Inggris sampai Bresil). Garaudy tidak puas dengan disertasi ini, setelah dicetak satu kali, berlainan dengan banyak karyanya yang lain, ia tidak mau buku tersebut dicetak ulang.

Padahal buku-bukunya bukan hanya dicetak ulang tetapi juga diterjemahkan ke berbagai bahasa. Lebih dari 50 buku yang telah ditulisnya dari sejarah marxisme, agama, moral, estetika, dialog antar peradaban, sampai kepada berbagai esei mengenai masa depan yang berwajah manusiawi. Bukunya mengenai Karl Marx (1965) diterjemahkan ke 11 bahasa dunia. Le grand tournant du socialisme” (1969) diterjemahkan ke 12 bahasa. Buku Garaudy mengenai estetika. D’un realisme sans rivages” diterbitkan dalam 13 bahasa. Buku Promesses de l’Islam (1991) diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Portugis, Spanyol dan Indonesia (menjadi Janji-Janji Islam) Demikian pula Biographie du XX siecle. Le testament philosophique de Roger Garaudy (1985) telah diterjemahkan pula ke dalam bahasa Indonesia.

Pemikirannya dibahas sebagai disertasi pada berbagai Universitas di Perancis, Jerman, Belgia, Spanyol, Belanda, Italia dan Zaire.

Tahun 1953 ia bertugas sebagai koresponden suratkabar komunis Perancis l’Humanite di Moscow selama setahun. Di sini ia mempelajari tentang praktik komunisme di masa Staline dan penggantinya yang dalam berbagai hal bertentangan ide Karl Marx sendiri. Tahun 1966 mulailah hubungannya dengan partai komunis Perancis merenggang. Ketika itu Uni Soviet sedang gencar melakukan propaganda menyerang RRC. Garaudy berpikir apakah benar dan adil kecaman Uni Soviet terhadap Cina tersebut. Itulah sebabnya ia memusatkan perhatian dan waktu untuk mempelajari tentang Cina (hanya lewat literatur, karena ia tidak boleh masuk negeri itu). Rapat politburo partai komunis Perancis makin jarang dihadirinya. Hasil pemikirannya ini kemudian diterbitkan dengan judul Le Probleme Chinois, salah satu buku laris di Perancis ketika itu.

Tahun 1968 pecah gerakan mahasiswa yang sangat militan di Perancis. Para mahasiswa di Sorbonne meminta tokoh-tokoh partai untuk berbicara di Sorbonne dan mempermalukan. Garaudy diundang untuk membicarakan sikapnya mengenai pemberontakan mahasiswa tersebut. Rekan-rekannya di politburo telah melarangnya tampil di pertemuan tersebut. Tetapi Garaudy tidak gentar, dengan melalui barikade pasukan polisi anti huru-hara, ia maju ke mimbar bebas mahasiswa. Ia mulai mengutip Galbraith, tatkala menyebut nama itu cemoohan mahasiswa mulai terdengar. Tetapi ia meneruskannya: ” Dalam masyarakat yang terlalu mengagungkan pertumbuhan ini, seakan-akan Malaikat Maut sebelum melemparkan seseorang ke neraka atau memasukkannya ke surga, mengajukan pertanyaan tunggal “apa yang telah engkau kerjakan di muka bumi ini untuk meningkatkan produk nasional bruto’?” Para mahasiswa terdiam. Garaudy bertanya: Betul nggak suasananya seperti itu ? Hadirin serempak menjawab “ya”. Garaudy melanjutkan ceramahnya yang diikuti mahasiswa dengan tertib.

Bagi kolega di politburo sukses Garaudy ini tetap dianggap pembangkangan. “Kesalahan” Garaudy lainnya terhadap Partai adalah ketika terjadi invasi Uni Soviet ke Praha tahun 1968, Partai Komunis Perancis menyatakan dukungannya. Tetapi Garaudy mengeluarkan pernyataan mengecam Rusia. Ia dicap “indisiplin” oleh suratkabar partai. Tanggal 6 Februari 1970 berlangsung kongres partai komunis ke-29. Bila pada kongres-kongres sebelumnya, selama 25 tahun belakangan, Garaudy selalu diminta untuk menyampaikan pidato pengarahannya, kali ini ia menyampaikan kata perpisahan.

Ia dipecat daripartai. Pidato singkat berakhir, kawan-kawannya menyingkir, ia seperti seorangpenderita lepra yang dikucilkan. Setelah berjuang bersama puluhan tahun, ia sadar bahwa sebuah partai — apa pun namanya — adalah sebuah mesin yang akan menjungkirbalikkan inisiatif yang mendasar. Ia mengendarai mobilnya, berat nian menyampaikan berita sedih kepada anak-anaknya tercinta, ia tidak langsung pulang. Akhirnya tanpa tujuan ia sampai ke rumah mantan istrinya yang diceraikannya tahun 1945 dan sudah 25 tahun tidak pernah bertemu dengannya. Pintu rumah itu terbuka, seakan menyilakannya masuk.

Di dalam sudah tersediadua piring. “Aku mendengar berita di radio. Aku menunggu engkau. Aku tahuengkau pasti akan ke sini”, ujar mantan istrinya. Mereka makan bersama, lalu Garaudy mencium kening perempuan itu dan pergi. Ia merasa hidup kembali, di dunia ini masih ada orang yang memperhatikannya dengan tulus.

Setelah keluar dari partai komunis, Garaudy mulai menulis beberapa buku yang umumnya berisi alternatif. Alternatif dari pembangunan yang mendewakan pertumbuhan, alternatif dari kehidupan agama yang monolog (ia selalu menganjurkan dialog antar agama bahkan dialog antara agama dengan ideology besar seperti kapitalisme dan marxisme), alternatif dari masyarakat yang boros energi (Garaudy termasuk tokoh yang anti pengembangan nuklir Perancis).

Pukulan berat bagi Garaudy berikutnya adalah pemboikotan penerbitanartikel dan bukunya serta pemunculannya di layar televisi. Tanggal 17 Juni 1982 bersama dengan dua pemuka agama Kristen/Kataholik Michel Lelong dan Matthiot, ia membiayai iklan sehalaman penuh pada suratkabar terkemuka Perancis Le Monde yang berisi himbauan dan kecaman terhadap pembantaian oleh Israel di Libanon. Di dalam advertorial itu dikatakan bahwa agresi Israel itu adalah logika internal dari sionisme politik yang didanai oleh negara Israel. Dicantumkan juga agar masyarakat yang bersimpati kepada perjuangan anti sionisme politikmenyumbangkan dana.

Garaudy menerima sembilan buah surat kaleng dan telpon yang mengancam akan membunuhnya. Sebuah LSM yahudi LICRA menuntutnya ke pengadilan atas tuduhan anti yahudi. Banyak pengacara mengatakan bahwa yang dikecam dalam iklan itu adalah negara Israel, bukan komunitas Yahudi. Garaudy dan kedua sahabatnya berpendapat bahwa yang disampaikan mereka adalah ajaran dari nabi-nabi orang Yahudi. Sionisme politik telah menggantikan Tuhan orang Israel dengan Negara Israel.

Garaudy berpendapat bahwa Zionisme politik itu harus dilawan sebagaimana juga gerakan anti yahudi ditentang. Keduanya sejalan. Garaudy kemudian menerbitkan buku La Palestine, terre des messages divins. Dalam buku ini Garaudy mengungkapkan bahwa sionisme politik yang dipelopori oleh Theodor Herzl (yang sebetulnya juga ditentang oleh pendeta/rabbi yahudi di seluruh dunia) bersumber bukan dari kepercayaan yahudi melainkan dari nasionalisme dan kolonialisme Eropa abad XIX.

Garaudy tetap pada keyakinannya bahwa ia bukan mengecam agama/komunitas yahudi tetapi sionisme politik. Itulah sebabnya ia mengunjungi tokoh yahudi Nahum Golman. Atas saran Garaudy, Presiden Mesir Naser bertemu dengan Nahum Goldman.

Putusan pengadilan Perancis menolak gugatan terhadap Garaudy. Biaya iklan di Le Monde itu 50.000 Franc. Dana yang disumbangkan masyarakat (1/3 di antaranya orang yahudi termasuk 2 orang rabbi/pendeta yahudi) berjumlah 70.000 Franc. Dengan itu mereka akan meneruskan perjuangan menentang sionisme politik.

Akan Tetapi sebelum menerbitkan iklan anti sionisme politik yang menghebohkan di suratkabar le Monde, di Jenewa tanggal 2 Juli 1982 di depan Imam Bouzouzou, Garaudy mengucapkan dua kalimat syahadat: “Tiada Tuhan selain Tuhan dan Muhamad itu utusannya”. Dengan masuk Islam ia merasa tidak dicampakkan lagi, tetapi bersama dengan para sufi, guru spritual Islam, serta pejuang yang mati syahid. Dengan komunitas yang terbuka dan planeter, ia yakin bahwa Islam adalah agama yang lahir sejak ada manusia pertama, yang ditiupkan rohnya oleh Tuhan.

Konferensi tersebut diadakan 21 Maret 1982. “Saya masuk Islam dengan Injil di tangan kanan dan Capital karangan Karl Marx di tangan kiri”. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Garaudy tidak serta merta secara sekaligus merubah cara berpikir dan sudut pandangnya, tetapi ia sudah berikrar masuk Islam dan terus mendalaminya.

Berita bahwa Garaudy telah masuk Islam segera tersebar ke mana-mana. Ia pun diundang ke negeri-negeri muslim. Juga oleh kalangan Gereja seperti Pastur Richard Mollard di Belford. Pada kesempatan itu Garaudy berceramah tentang “Yesus sebagai nabi Islam”. Islam mengakui Yesus (Isa) sebagai nabi, tetapi tradisi Kristen tidak mengakui Muhammad sebagai Rasul sebagaimana orang Yahudi juga tidak mengakui Yesus. Muhammad tidak mengembangkan agama baru, ia hanya meneguhkan pesan-pesan yang telah disampaikan olah nabi-nabi terdahulu seperti Ibrahim, Musa dan Yesus. [yy/pesantrenglobal]