15 Jumadil-Akhir 1443  |  Selasa 18 Januari 2022

basmalah.png

MUALAF

William Pickthall Terobsesi Terjemahkan Al-Quran ke dalam Bahasa Inggris

William Pickthall Terobsesi Terjemahkan Al-Quran ke dalam Bahasa Inggris


Fiqhislam.com - Muhammad Marmaduke Pickthall adalah seorang intelektual Muslim Barat yang terkenal dengan karya terjemahan Alqurannya yang puitis dan akurat dalam bahasa Inggris. Ia merupakan pemeluk Kristen Anglikan yang kemudian berpindah agama memeluk Islam. Sosoknya juga dikenal sebagai seorang novelis, jurnalis, kepala sekolah, serta pemimpin politik dan agama.

Terlahir dengan nama William Pickthall pada 7 April 1875. Dia berasal dari keluarga kelas menengah di Suffolk, Inggris. Ayahnya Charles Grayson Pickthall adalah seorang Pendeta Anglikan. Karenanya, tak mengherankan jika William tumbuh dan dibesarkan di tengah keluarga penganut Kristen Anglikan yang taat.

Ketika usianya menginjak lima tahun, sang ayah meninggal. Tak lama berselang, keluarganya pun memutuskan untuk menjual tempat tinggal mereka di Suffolk dan pindah ke Kota London. Kepindahan tersebut sempat membuat William depresi dan sakit-sakitan.
 
Sifat pemalu yang ada pada dirinya membuat dia sulit untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya. Terlebih lagi ketika ibunya Mary O’Brien memasukannya ke Harrow, sebuah sekolah swasta elite khusus bagi murid laki-laki. Satu-satunya yang menjadi teman penghiburnya saat menimba ilmu di Harrow adalah Winston Churchill.

Saat di Harrow, William mulai menunjukkan ketertarikannya terhadap ilmu bahasa. Selepas dari Harrow, ia mulai mempelajari sejumlah bahasa, di antaranya Gaelik (bahasa orang Skotlandia) dan Welsh (bahasa orang Wales). Karena kemahirannya dalam penguasaan kedua bahasa ini, salah seorang gurunya di Harrow mendaftarkan William untuk mengikuti ujian seleksi penerimaan pegawai di Departemen Luar Negeri. Namun, ia gagal dalam ujian.

Kegagalan tersebut tidak membuat William patah arang. Ia kemudian menghabiskan waktunya untuk mempelajari bahasa Arab dengan harapan suatu saat ia bisa memperoleh pekerjaan sebagai seorang konsuler di Palestina. Di usianya yang belum genap 18 tahun, ia memutuskan untuk berlayar ke Port Said, sebuah kota pelabuhan yang berada di kawasan timur laut Mesir.

Perjalanan ke Port Said ini menjadi awal mula petualangannya ke negara-negara Muslim di kawasan Timur Tengah dan Turki. Keahliannya dalam berbahasa Arab telah memikat penguasa Ottoman (Turki Usmani). Atas undangan dari pihak Kesultanan Ottoman, William yang kala itu belum menjadi seorang Muslim mendapat tawaran untuk belajar mengenai kebudayaan Timur.

Selama masa Perang Dunia I (1914-1918), William banyak menulis surat dukungan terhadap Turki Usmani. Saat propaganda perang dikumandangkan pada 1915, yang mengakibatkan pembantaian di Armenia, dia secara terang-terangan menentangnya dan menyatakan bahwa kesalahan tidak bisa ditimpakan kepada Pemerintah Turki atas kejadian tersebut.

Pada saat itu, banyak imigran Muslim asal India di London dibujuk oleh Kementerian Luar Negeri untuk menyediakan bahan-bahan propaganda dukungan terhadap Inggris dalam perang melawan Turki. Namun, ia kokoh dengan sikapnya. Ia tetap tegas dengan pendiriannya guna membela saudaranya sesama Muslim.

Begitu juga saat komunitas Muslim di Inggris diberikan pilihan apakah setia terhadap sekutu (Inggris dan Prancis) atau justru mendukung Jerman dan Turki. Jawaban yang diberikan William cukup mengejutkan. Dia tetap pada pendiriannya tidak akan mendukung negaranya itu.

Perjalanan ke negara-negara Islam dan Turki ini telah membuat William banyak bersentuhan langsung dengan agama Islam. Dari situ kemudian mulai muncul rasa ketertarikan terhadap ajaran Islam.

Pada 1917, William memutuskan untuk memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Muhammad Marmaduke Pickthall. Bahkan, sebelumnya William sempat menjadi pembicara pada diskusi yang diadakan Muslim Literary Society bertajuk Islam and Progress” pada 29 November 1917 di Notting Hill, London Barat.

Setelah memeluk Islam, William banyak berkecimpung dalam berbagai kegiatan yang terkait dengan syiar Islam. Pada 1919, ia aktif di Biro Informasi Islam yang berkedudukan di London serta beberapa usaha penerbitan media Islam lainnya, seperti Muslim Outlook.

Usai merampungkan novelnya berjudul Early Hours pada 1920, dia mendapat penugasan di India sebagai editor di surat kabar Bombay Chronicle. Kemudian pada 1927, William pindah ke penerbitan jurnal tiga bulanan Islamic Culture selaku editor yang berkantor di Hyderabad.

Ada satu lagi sumbangsihnya selama tinggal di Hyderabad terkait dengan upaya menegakkan syiar Islam. Pada 1925, Pickthall diundang oleh Komite Umat Muslim di Madras untuk memberikan kuliah umum tentang segala aspek mengenai Islam. Koleksi dari bahan-bahan kuliahnya ini sudah dipublikasikan pada 1927 dengan harapan agar kalangan non-Muslim lainnya dapat mengerti agama Islam yang sebenarnya.

Pada awal 1935, Pickthall kembali ke Inggris. Kemudian pada 1936 ia berpindah ke St Ives dan meninggal di kota kecil itu pada 19 Mei 1936. Ia dimakamkan di pemakaman Muslim di Brookwood, Surrey (dekat Woking, Inggris) empat hari kemudian. Oleh kaum Muslim Inggris, Pickthall dijuluki sebagai pejuang agama dan pelayan Islam sejati. Semoga Allah SWT menerimanya di tempat yang paling istimewa.

Menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Inggris merupakan salah satu obesesi hidup Muhammad Marmaduke Pickthall. Keinginan itu bahkan telah muncul dalam dirinya sebelum memeluk Islam. Obsesi itu terwujud setelah pria yang dijuluki pejuang dan pelayan Islam sejati itu mengucap dua kalimat syahadat.

William berpendapat, setiap Muslim memiliki tanggung jawab untuk memahami Alquran dengan sebenar-benarnya. Ia mewujudkan obsesinya itu pada 1928. Proyek penerjemahan Alquran yang dilakukannya berbuah kesuksesan.

Hasil kerja kerasnya itu baru diterbitkan pada 1930 dan diberi judul The Meaning of the Glorious Koran. Ribuan umat Muslim pun segera mendapat manfaat dari karya Muhammad Marmaduke Pickthall yang lantas dianggap oleh banyak kalangan sebagai karya monumental.

Tak hanya itu, umat Muslim pun kemudian menyadari bahwa The Meaning of Glorious Koran yang diselesaikan di Kota Nizamate, Hyderabad—sebuah kawasan yang di Selatan India—yang didominasi umat Islam itu sangat penting dan bermanfaat.

Seperti ilmuwan Muslim lainnya, ia tidak menerjemahkan kata Allah SWT dalam Alquran. Ia menulis dalam kata pengantarnya, Alquran tidak bisa diterjemahkan.” Jadi, terjemahannya tetap berdampingan dengan teks asli Alquran dalam bahasa Arab.

Dalam kata pengantar dalam karyanya itu, Pickthall juga menulis mengenai keutamaan Alquran dibandingkan kitab-kitab suci lainnya. Sebelum memulai mempelajari Alquran, seseorang haruslah menyadari bahwa ia tidak seperti bahan bacaan lain, ini merupakan sebuah buku yang unik dan berasal dari Yang Mahatinggi, pesan-pesan abadi, serta universal,” ungkapnya.

Kandungan isinya tidak merujuk pada tema atau gaya tertentu, melainkan fondasi dari seluruh sistem kehidupan, mencakup segala spektrum permasalahan yang cakupannya mulai dari ayat-ayat kepercayaan, perintah, serta sumber pengajaran, kewajiban, hukuman bagi yang melanggar, hukum umum dan pribadi, solusi terhadap persoalan pribadi maupun sosial kemasyarakatan, serta cerita kaum di masa lampau teriring apa-apa yang dapat dipetik pelajaran darinya.”

Karya Pickthall menjadi karya pertama penulisan makna Alquran dalam bahasa Inggris oleh orang Inggris asli. Selain itu, tulisan Pickthall juga menjadi salah satu dari dua karya terjemahan Alquran dalam bahasa Inggris yang sangat populer. Karya lainnya ditulis oleh Abdullah Yusuf Ali. [yy/republika]