3 Rabiul-Awwal 1444  |  Kamis 29 September 2022

basmalah.png

Detha Sari Mencari Hidayah dengan Berzikir

Detha Sari Mencari Hidayah dengan Berzikir

Fiqhislam.com - Tak sedikit kasus, mualaf memutuskan bersyahadat karena pernikahan. Melalui pernikahan inilah, Detha Sari memperoleh hidayah.

Pria idamannya adalah seorang Muslim taruna AKABRI (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia).  Mereka menjalin hubungan kurang lebih empat tahun. Setelah Detha lulus Sekolah Pendidikan Guru (SPG), lelaki itu mengungkapkan keseriusan. Dia ingin menikahi Detha.

Namun, karena tentara, calon suami terikat sumpah prajurit, tidak bisa menikah dengan orang berbeda agama. Tak ada pilihan lain, Detha memeluk Islam. Bukan karena dipaksa, melainkan demi membentuk keluarga yang sakinah. "Mau tidak mau salah satu harus mengalah. Tak ada dua nakhoda dalam satu kapal," tuturnya.

Perempuan itu juga memikirkan masa depan anak-anaknya kelak. Detha sadar, agama adalah hal paling mendasar dalam sebuah bahtera rumah tangga. Anak-anak akan bingung bila orang tua mereka tidak seagama. Memeluk Islam lewat pernikahan bukan berarti tanpa pergulatan spiritual.

Ibunda Detha sempat menentang keputusannya menikah dengan Muslim. Tapi, dia sudah menetapkan pilihan.
Tepat 2 Oktober 1982, perempuan itu menikah. Eyang dari pihak ayahnya yang bertindak sebagai wali. Kebetulan, ia seorang Muslim. Sejak itulah, Detha resmi memeluk Islam.

Sosok kelahiran Tulung Agung, 31 Oktober 1962, ini mengaku tidak mudah membalikkan hati dari Katolik ke Islam.
"Pada awal pernikahan, masih berat. Shalat atau belajar Islam masih berat. Apalagi, saya aktif di gereja, berat sekali," ungkap Detha.

Perempuan yang lahir dengan nama baptis Bernadeth Detha Sari ini dibesarkan di lingkungan keluarga Katolik. Meski keluarga besarnya sangat majemuk, ayahnya baru memeluk Katolik setelah menikah dengan ibunya.

Mayoritas keluarga besar ayahnya menganut Islam. Sementara, keluarga ibunya juga tidak semua beragama Katolik.
Ketaatan keluarga pada ajaran Katolik membuat Detha kecil aktif ke gereja dan hadir di Sekolah Minggu.  Seiring berjalannya waktu, Detha dan suami dikaruniai dua orang anak.  Waktu itu, mereka tinggal di Lembang.

Sampai detik itu, Detha mengaku belum bisa menjadi Muslim yang taat. Shalatnya masih bolong-bolong, hatinya juga belum sepenuhnya tunduk. Tapi, dia memiliki komitmen untuk mengajarkan Islam pada anak-anak.

Ketika dua buah hatinya mulai masuk sekolah dasar, Detha memanggil guru mengaji ke rumah. Dari situ, dia merasa hatinya mulai terbuka. Detha bersyukur melihat anak-anaknya mulai pintar mengaji dan rajin shalat. Kebetulan, sang suami bukan tipikal orang yang suka memaksa, namun gemar membelikan buku agama dan mengajari ibadah.

"Kadang, waktu saya menyuruh anak- anak shalat, mereka menyahut, lho ma- ma sendiri kok nggak shalat?" kata Detha menirukan. Barangkali, anak-anak nya itu juga bagian dari hidayah yang mengan tarkan Detha pada ketaatan. Hatinya malu apabila menyuruh shalat, sementara dia tidak melakukan. Dari situ, Detha pun mulai shalat meski belum tertib lima waktu.

Detha terus berusaha untuk menjalankan ibadah. Apabila Ramadhan tiba, ia ikut shalat Tarawih. Waktu Lebaran, Detha bersama keluarganya beramai- ramai ikut shalat Id. Hanya, dia merasa ibadahnya belum sampai ke hati. Semua dia lakoni lebih supaya situasi keagamaan anak-anak kondusif.

Rindu Tanah Suci Tahun demi tahun berlalu. Pada 2003, perempuan itu menunaikan ibadah umrah bersama teman-temannya. Ketika itu, anaknya gagal diterima di Akademi Polisi (Akpol). "Di situ, saya introspeksi. Mengapa ya doa saya kok tidak dikabulkan? Saya akhirnya umrah," kata dia terus terang.

Pengalaman pertama Detha menginjakkan kaki di Makkah. Di sana, dia merasa ada ketenangan yang menyentuh hati. Detha merasa bahagia dan kerasan. Perempuan itu mengaku tidak pernah meninggalkan shalat lima waktu di sana.

Ia tidak ingin menyia-yiakan kesempatan jauh-jauh datang ke Tanah Suci. Religiusitas Tanah Suci rupanya menyisakan kerinduan di hati Detha.  Kerinduan yang memaksanya ingin kembali dan kembali lagi. Pada 2007, untuk kedua kalinya, Detha umrah.

Ia merasa keimanannya seperti diisi ulang setiap kali pulang dari Tanah Suci. "Saya sudah ke sana hampir lima kali ini. Saya di sana itu senang. Kerasan. Saya ingin ke sana setiap saat." Setahun kemudian, Detha mulai belajar memakai jilbab. Selama ini, dia berjilbab hanya pada saat hari besar Islam. Di luar itu, jilbabnya dia lepas. Dukungan untuk berjilbab secara konsisten muncul dari lingkungannya di Mabes TNI.

Kebanyakan teman-teman Detha memakai jilbab. Mereka mendorong perempuan itu untuk berjilbab. Suaminya juga sama, dia tak kalah mendukung.  Keputusan itu makin mantap lantaran Detha merasa jilbab lebih praktis. "Saya pikir-pikir, pakai jilbab lebih simpel dan praktis. Saya lebih mantap," ungkapnya.

Sejak awal 2009, Detha pun konsisten memakai jilbab. Bahkan, sekarang, kata dia, malah terasa ada yang kurang kalau tidak memakai jilbab.

Nikmat Pada usianya ke-53, Detha kini bisa melakukan kilas balik kehidupan. Ia mengakui, proses transisinya dari Katolik ke Islam membutuhkan waktu lama. Semua tidak semudah membalikkan telapak tangan. Menurutnya, menyesuaikan hati adalah pekerjaan berat.

Detha yang biasanya ke gereja tiba- tiba mendapati dirinya masuk ke agama yang berbeda. Ia mengaku bisa sampai menangis saat mendengar lagu-lagu rohani menjelang Desember. "Tapi, itu dulu. Sekarang tidak," sahut Detha.

Kini, ia justru bersyukur dengan keadaannya. Ia tinggal menikmati hari tua. Suaminya sudah pensiun enam bulan yang lalu. Mereka berdua baru saja menunaikan ibadah haji 2014.  Anak-anaknya telah menikah.

Perempuan itu bahkan sudah memiliki cucu. Selepas berislam, Detha merasa segala urusan lebih dimudahkan. Seiring waktu, seiring bertambahnya ketaatan, dia mendapat banyak kelancaran.  Oposisi yang sempat muncul dari ibu dan adik-adiknya sudah lama lenyap.  Lama-kelamaan mereka bisa menerima.

Yang tak bisa terlupakan, ibunya bahkan pernah memberikan hadiah mukena ketika dia pulang Lebaran. Sulung tujuh bersaudara ini mengatakan, adiknya yang nomor empat juga menikah dengan Muslim dan menjadi mualaf.

Detha pun selalu menjadikan zikir sebagai senjata untuk memohon pada Allah SWT. "Nggak tahu dari mana, nanti selalu saja ada jalan," kata perempuan yang berdomisili di Cibubur itu. Tanah Suci seolah juga menyimpan magnet kuat di hatinya. Akhir tahun ini, Detha kembali berencana mengunjungi tanah kelahiran Rasulullah SAW itu. [yy/republika]