pustaka.png
basmalah.png


12 Dzulqa'dah 1442  |  Selasa 22 Juni 2021

Tolak Senjata Nuklir, Bikin Simon Memeluk Islam

Tolak Senjata Nuklir, Bikin Simon Memeluk IslamFiqhislam.com - Simon tumbuh pada masa kekhawatiran terjadinya perang nuklir. Saat itu, Rusia masih menjadi negara adidaya.

Negara yang sebenarnya berjarak cukup jauh dari Rusia khawatir terkena dampak dari perang tersebut. Ini mengingat, Inggris adalah sekutu utama Amerika Serikat yang merupakan musuh Rusia.

Di London, Simon menjadi saksi aksi demonstrasi menentang senjata nuklir. Ia selalu bertanya, apa mungkin Rusia menjatuhkan bom atom di London. Itu membuatnya, sering merasa akan mati sehingga dalam banyak hal, ia lebih memikirkan ketakutan tersebut.

Sepanjang masa kanak-kanak, ia melihat lingkungannya tidak menyadari sesuatu hal yang penting. Ia mulai berpikir untuk berbuat sesuatu.

Ia putus sekolah pada usia 16 tahun. Baginya, hal urgen saat itu adalah mencari kebenaran. Itu dilakukannya dengan melakukan penelitian berbagai budaya dan agama berbeda.

Ia lantas memutuskan tidak lagi sekolah, ia merantau ke AS untuk belajar tentang Agama. Menurutnya, setiap individu tidak akan mengetahui apa yang terjadi ketika bangun dari tidur.

Itulah yang membuatnya khawatir. "Saya pikir, banyak ketidakadilan di dunia. Tentu saja, itu berpengaruh terhadap peradaban," kata dia seperti dinukil onislam.net.
[yy/republika/foto photobucket.com]

Simon: Islam Agama yang Benar

Pada 1974 Simon kembali ke London. Ia bergabung dengan sebuah organisasi keagamaan. Disana Simon mengaku cukup senang menjadi bagian dari organisasi tersebut. Ia pelajari Buddhisme dan Islam. Jadi, untuk tahap tertentu, pengetahuannya tentang Islam cukup mendalam.

"Waktu itu, saya percaya, Islam merupakan agama yang benar. Namun, aku tidak benar-benar tertarik untuk melaksanakan shalat," kenang dia seperti dinukil onislam.net.

Namun ia tak berhenti mempelajari Islam. Guna mempermudah, ia pelajari pula bahasa Arab. Ia mulai belajar zikir.

Keputusannya kembali ke Inggris, bukan perkara mudah. Ia masih meragukan London, sebagai tempat yang baik untuk membesarkan anak-anaknya.

Tapi Allah SWT rupanya punya cerita lain untuknya. Ia bertemu dengan Komunitas Muslim yang beragam.

Mereka menampilkan Islam tanpa menghilangkan identitas mereka. Ini membuatnya mudah kembali mendekatkan diri terhadap Islam.

Yang pasti, ia mulai yakin menerima Islam sepenuhnya. Ia tahu esensi tentang Islam. "Sejak itu, saya mengucapkan dua kalimat syahadat, saya berpuasa dan membayar zakat, Alhamdulillah," ungkapnya. [yy/republika]