pustaka.png
basmalah.png.orig


15 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 25 Juni 2021

Kari Ann Owen, Hidayah dalam Lantunan Adzan

Kari Ann Owen, Hidayah dalam Lantunan AdzanFiqhislam.com - “Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai rasul-Nya,” ujar Kari Ann Owen tanpa ragu.

Baginya hanya ada Allah, Tuhan dengan banyak nama, Tuhan yang terkenal dengan kuasanya yang tidak terbatas. Yaitu, yang mampu hadir sebagai manifestasi dari cinta, toleransi, dan kasih sayang di tengah manusia.

Jalan Kari untuk berkenalan dengan Islam dan Allah terjadi saat usianya 14 tahun. “Ini terjadi ketika sutradara yang saya kagumi, Tony Richardson, meninggal karena AIDS,” tutur perempuan yang dikenal sebagai penulis puisi dan drama ini.

Richardson menderita AIDS setelah dia mengikuti hasratnya menjadi seorang homoseksual. Kabar kematian Richardson menyentak Kari, membuatnya kecewa dengan sistem masyarakat di AS yang terlalu mendewakan kebebasan.

Sejak saat itu dia mulai tertarik untuk mengenal sistem kemasyarakatan di luar Amerika dan negara Barat. Dia kemudian mengintip kondisi sosial di negara yang menjunjung tinggi Islam sebagai tuntunan moral.

Keinginan Kari untuk mempelajari kondisi sosial di negara Islam juga didorong oleh cerita tentang asal usul nenek moyangnya. Nenek moyang Kari berdarah Spanyol. Mereka merupakan penganut agama Yahudi yang tinggal di lingkungan Muslim.

Pada 1492, komunitas Yahudi diusir, tetapi Khalifah Utsmani menunjukkan belas kasihnya dengan membantu para pengungsi Yahudi saat itu. Kisah itu membuatnya merasa semakin dekat dengan Islam dan mulai belajar tentang Islam. Tak main-main, ia bahkan melakukan sejumlah penelitian tentang Islam.

Dia memulai penelitiannya dengan melakukan wawancara di sebuah toko makanan halal di San Fransisco.

Di situ, Kari melihat lalu mengagumi seorang Muslimah berjilbab yang menjadi pelanggan toko tersebut.

“Dia bersikap sangat baik dan anggun. Dia juga rajin membaca, menulis, dan mampu berbicara dalam empat bahasa. Dia sangat brilian, tetapi sama sekali tidak sombong,” katanya.

Dari sana, Kari belajar bagaimana Islam mampu memengaruhi dan membentuk perilaku manusia. Penelitian tersebut juga mengantarnya pada lebih banyak fakta tentang Islam. “Saya mempelajari bagaimana Muslim mampu mengendalikan dan menampilkan dirinya sebagai manusia yang terhormat dan penuh dengan kebaikan,” katanya seperti dikutip whymuhammad. com.

Dia juga belajar bahwa Muslim perempuan dan laki- laki mampu mengaktualisasikan diri satu sama lain dengan tidak saling menyakiti secara verbal maupun fisik. Islam memberikan perempuan hak yang sama dengan lelaki dalam masyarakat.

Dia pun terkesan dengan aturan Islam tentang pernikahan. Juga, bagaimana Islam memerhatikan cara berkapakaian umatnya, terutama aturan berpakaian bagi perempuan agar selalu menutup auratnya.

Layaknya kebanyakan perempuan Amerika, Kari tumbuh di sistem masyarakat yang mendewakan dunia. Yaitu, kelompok sosial yang menilai seseorang dari penampilannya, bukan dari kebaikannya atau kasih sayang yang dimilikinya, atau bahkan intelektualitasnya. “Sejak kecil, anak laki-laki dan perempuan harus berjuang untuk mendapatkan penerimaan di antara teman-temannya,” katanya.

Mereka harus terlihat cantik atau tampan atau setidaknya tahu caranya berdandan agar bisa menjadi populer. “Dalam Islam, manusia tidak dinilai dari penampilannya, tetapi ketakwaannya pada Allah.”

Drama dan Spiritualitas
Bagi Kari, aktivitasnya menulis naskah drama dan puisi adalah salah satu caranya untuk terus meningkatkan tingkat spiritualitas dan emosionalnya.

Berdamai dengan dirinya sendiri dan dunia yang ditemuinya semakin brutal. “Ketimbang berjibaku melawan dunia, aku lebih baik membiarkan konflik yang aku alami mengalir dalam drama yang kubuat,” ungkapnya.

Telah banyak naskah drama yang digubah Kari. Bahkan, beberapa di antaranya membuat perempuan yang lahir di Boston, AS, ini meraih sejumlah penghargaan. Ia pernah memenangkan peng hargaan Academy of American Poets Prize di Universitas New York pada 1972.

Puisi-puisinya pun telah diterbitkan dalam The Humanist dan majalah lainnya. Sementara itu, esai dan artikelnya dipublikasikan dalam sejumlah jurnal. Drama gubahannya juga telah ditampilkan dalam sejumlah pentas seni di San Francisco dan Chicago.

Meski dia merepresentasikan konflik dalam drama yang dibuatnya, Kari sangat yakin bahwa tak ada konflik dalam Islam meskipun dia tak bisa menutup mata akan adanya sejumlah pergolakan di antara kelompok Islam di negara-negara Timur Tengah. Tetapi, dia yakin Islam paralel dengan kedamaian.

Kari adalah salah satu dari banyak mualaf yang terkesima dengan lantunan azan. “Hal yang membuat aku merasa pada level yang sangat dalam ketika mendengar azan,” katanya.

Azan adalah panggilan yang sangat kuat dan dalam. “Yang mampu meredakan ombak di lautan dan menghentikan kapal yang bergoncang hebat.” [yy/republika/foto ning.com]