fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


7 Ramadhan 1442  |  Senin 19 April 2021

Habib Rizieq: Jangan Adu Domba Adat & Syariat

Habib Rizieq: Jangan Adu Domba Adat & Syariat

Fiqhislam.com - Ketua Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq angkat bicara terkait laporan Angkatan Muda Siliwangi (AMS) ke Polda Jawa Barat dalam kasus dugaan penghinaan.

"Sampurasun adalah ucapan selamat masyarakat Sunda yang sangat terkenal dan mengandung unsur penghormatan kepada sesama," kata dia dalam situs habibrizieq.com, seperti dikutip Okezone, Kamis (26/11/2015).

Menurutnya, sampurasun adalah adat Sunda yang punya makna sangat baik dan amat bagus, serta boleh digunakan untuk menyapa sebagai penghormatan. "Selama tidak dijadikan sebagai pengganti syariat 'Assalaamu 'alaikum'," ujarnya.

Oleh karena itu, dia menegaskan, jangan disamakan antara adat dan syariat. "Jadi, jangan adu domba adat dan syariat, karena masing-masing ada tempat dan syarat serta cara penggunaan," pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Habib Rizieq dilaporkan ke Polda Jawa Barat oleh AMS kemarin. Itu gara-gara Habib Rizieq memplesetkan ucapan sampurasun menjadi campur racun.

Hal itu dilakukan Habib Rizieq saat mengisi ceramah di Purwakarta pada 13 November. Plesetan itu dinilai melecehkan budaya dan orang Sunda. Sebab sampurasun merupakan salam yang memiliki nilai luhur. [yy/okezone]

Dedi Mulyadi Jelaskan Makna dari Sampurasun

Bagi sebagian masyarakat Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, sudah tak asing lagi dengan kata Sampurasun. Salam Sunda itu selalu disuarakan saat ada kegiatan resmi di lingkungan pemkab, ataupun untuk saling menyapa antarsesama.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengatakan, Sampurasun itu terdiri dari dua kata. Yaitu, Sampuring dan Ingsun. Makna dari kata ini, ajakan seseorang untuk berbuat kemuliaan dalam hidup. Dengan bahasa sederhananya, Sampurasun artinya menyempurnakan diri.

"Sampurasun ini intinya tentang ajakan penyempurnaan hidup," ujar Dedi kepada Republika.co.id, Rabu (25/11).

Sempurna yang dimaksud, yaitu menyempurnakan mata supaya semakin tajam penglihatannya. Menyempurnakan telinga, untuk memertajam pendengaran. Menyempurnakan lidah supaya tidak asal bicara yang berbuntut bisa menyakiti perasaan orang lain.

Semua kesempurnaan itu, bermuara dari hati. Salam Sunda itu, kata dia, selalu diucapkan dari dalam hati yang paling dalam. Sampurasun tidak bisa diplesetkan atau diparodikan. Nanti, lanjutnya, makna sesungguhnya akan hilang.

"Karena itu, saya sangat menyayangkan bila ada tokoh besar dari organisasi keagamaan, yang telah memplesetkan salam tersebut. Berarti, dia telah menghina budaya leluhur kami," ujarnya. [yy/republika]

Pelapor: Kita Mempermasalahkan Habib Rizieq, Bukan FPI

Rencana kedatangan para laskar Front Pembela Islam (FPI) Jawa Barat ke Sekretariat DPP Angkatan Muda Siliwangi (AMS) di Kota Bandung siang ini akan disambut dengan terbuka. Para laskar akan diterima dengan baik.

Meski begitu, AMS dan 15 organisasi Sunda yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Sunda Menggugat belum tahu persis apa yang akan disampaikan FPI Jawa Barat.

Tapi informasi awal, mereka dikabarkan akan mengklarifikasi plesetan sampurasun menjadi campur racun yang diucapkan pentolan FPI, Habib Rizieq.

"Kalau dari FPI Jawa Barat mau datang dan klarifikasi, kita terima dengan terbuka. Tapi harus dilihat dulu konteksnya apa," ujar Sekjen DPP AMS, Denda Alamsyah, saat ditemui di lokasi, Kamis (26/11/2015).

Jika kedatangan mereka hanya untuk klarifikasi dan minta maaf, menurutnya itu tidak perlu dilakukan. Sebab pihaknya tidak bermasalah dengan FPI. Mereka hanya bermasalah dengan Habib Rizieq secara personal, bukan atas nama FPI.

"Kita mempermasalahkan plesetan Habib Rizieq secara personal, tidak bawa-bawa FPI," ungkapnya.

Meski begitu, Dendi menyatakan tidak masalah jika FPI ingin datang dan berdialog dengan Aliansi Masyarakat Sunda Menggugat. Sebab ia belum tahu persis apa yang akan disampaikan FPI.

"Kalau FPI mau memfasilitasi (penyelesaian masalah ini) silahkan," ucapnya.

Ia menegaskan, yang dituntut oleh belasan organisasi Sunda adalah permintaan maaf secara langsung oleh Habib Rizieq, bukan diwakilkan. [yy/okezone]

Habib Rizieq Tidak Lecehkan Adat Sunda, Ini Transkrip Ceramah Lengkapnya

Tokoh Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab menuai kecaman atas ceramahnya di Purwakarta pada 13 November 2015. Potongan video Rizieq saat berceramah tersebut beredar di YouTube dan ramai diperbincangkan di media sosial. Habib Rizieq dianggap melecehkan tradisi masyarakat Sunda. Ia dianggap mempelesetkan istilah “Sampurasun” menjadi “Campur Racun” yang memunculkan persepsi negatif terhadap tradisi masyarakat Sunda.

Atas pernyataan itu, sebanyak 16 organisasi massa dan lembaga swadaya masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Sunda Menggugat (AMSM) melaporkan pentolan FPI itu ke Polda Jawa Barat.

Dikutip dari laman Facebooknya Muhammad Rizieq Syihab, berikut isi ceramah lengkap biar kita tidak menghakimi sebelum tahu isi sebenarnya. Zaman akhir seperti sekarang banyak FITNAH menimpa Umat Islam. Yang baik digambarkan jelek, yang jelek digambarkan baik. Berikut isi lengkap ceramah Beliau:

Bismillaah wal Hamdulillaah …
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah …

Sampurasun adalah ucapan selamat masyarakat Sunda yang sangat terkenal dan mengandung unsur penghormatan kepada sesama.

Sampurasun sebagai ADAT Sunda yang punya makna sangat baik dan amat bagus, serta boleh digunakan untuk menyapa sebagai penghormatan, selama tidak dijadikan sebagai pengganti SYARIAT “Assalaamu ‘Alaikum”.

Jadi, jangan adu domba ADAT dan SYARIAT, karena masing-masing ada tempat dan syarat serta cara penggunaan.

SALAM NUSANTARA

Di masyarakat Indonesia ucapan Selamat Pagi, Selamat Siang, Selamat Sore, Selamat Petang dan Selamat Malam merupakan salam pergaulan nasional untuk penghormatan terhadap sesama. Tentu sah-sah saja digunakan oleh masyarakat Indonesia, sebagaimana di masyarakat Arab ada ungkapan “Shobaahul Khoir” di pagi hari dan “Masaa-ul Khoir” di petang hari.

Namun, ketika ada pihak yang ingin menjadikan salam pergaulan nasional sebagai pengganti “Assalaamu ‘Alaikum” di tengah umat Islam, dengan alasan karena “Assalaamu ‘Alaikum” hanya merupakan Adat dan Tradisi Arab yang tidak ada kaitan dengan ajaran Islam, tentu jadi persoalan yang sangat serius.

ASSALAAMU ‘ALAIKUM

Salam masyarakat Arab Jahiliyyah pada mulanya adalah “Wa Shobaahaa”, atau yang sejenisnya, lalu datang Islam mengajarkan umatnya untuk menggunakan “Assalaamu ‘Alaikum” sebagai Tahiyyatul Islam yaitu salamnya kaum muslimin.

Sejak itu “Assalaamu ‘Alaikum” adalah Salam Islam bukan Salam Arab. Dan Salam Islam menjadi salah satu rukun Shalat yang tidak sah Shalat tanpanya.

Nah, jika “Assalaamu ‘Alaikum” mau diganti dengan salam pergaulan nasional, lalu apakah nanti salam Shalat Shubuh jadi Selamat Pagi, dan salam Shalat Zhuhur jadi Selamat Siang, serta salam Shalat Ashar jadi Selamat Sore, kemudian salam Shalat Maghrib jadi Selamat Petang, sedang salam Shalat Isya jadi Selamat Malam ???

Camkan … !!!

BUPATI PURWAKARTA

Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, sejak memimpin Purwakarta terus berusaha menghidupkan kembali ajaran “Sunda Wiwitan”, sehingga ia menghiasi Purwakarta dengan aneka patung pewayangan seperti patung Bima dan Gatotkaca, bahkan ditambah dengan aneka patung Hindu Bali.

dedi-mulyadi-sin-purwakarta-400x242Dia pun mengaku telah melamar Nyi Loro Kidul dan mengawininya. Selanjutnya, ia membuat Kereta Kencana yang konon katanya untuk dikendarai sang isteri, Nyi Loro Kidul. Kereta Kencana tersebut dipajang di Pendopo Kabupaten Purwakarta, dan diberi kemenyan serta sesajen setiap hari, lalu dibawa keliling Purwakarta setahun sekali saat acara Festival Budaya, dengan dalih untuk membawa keliling Nyi Loro Kidul buat keberkahan dan keselamatan Purwakarta.

Dedi juga menganjurkan agar siapa yang mau selamat lewat di jalan Tol Cipularang agar menyebut nama Prabu Siliwangi. Dan beberapa tahun lalu, Dedi juga pernah menyatakan bahwa suara seruling bambu lebih merdu daripada membaca Al-Qur’an.

Selain itu, pohon-pohon di sepanjang jalan kota Purwakarta diberi kain “Poleng”, yaitu kain kotak-kotak hitam putih, bukan untuk “Keindahan”, tapi untuk “Keberkahan” sebagaimana adat Hindu Bali, dan Dedi pun mulai sering memakai ikat kepala dengan kembang seperti para pemuka adat dan agama Hindu Bali.

Dedi tidak bangga dengan Islamnya, tapi ia bangga dengan patung, sesajen dan takhayyulnya, yang dikemas atas nama Kearifan Lokal (Local Wisdom).

Saat banyak Ulama dan para Da’i mulai memprotes dan mengkritik peri laku “Syirik” Dedi, maka serta merta Dedi membuat Perbup (Peraturan Bupati) tentang larangan ceramah provokatif yang menentang kebijakannya.

Belakangan, Dedi mulai sering meninggalkan Salam Syariat Islam “Assalaamu ‘Alaikum” dan diganti dengan Salam Adat Sunda “Sampurasun”. Dimana saja dan kapan saja, Dedi terus mengkampanyekan aneka budaya “Syirik” nya yang dibungkus dengan nama “Adat” dan “Budaya”, serta dikemas dengan salam santun masyarakat Sunda “Sampurasun”.

Bahkan Dedi dalam salah satu bukunya yang berjudul SPIRIT BUDAYA menyebut bahwa Islam adalah BUDAYA. Padahal, Islam adalah Aqidah, Syariat dan Akhlaq yang bersumber dari WAHYU ALLAH SWT, sedang Budaya bersumber dari akal pemikiran dan perilaku manusia.

Pada halaman latar belakang buku tersebut tertulis : “Warga Baduy mengajarkan kepada kita untuk tidak melawan alam. Dalam pemahaman saya (Dedi Mulyadi, red) merekalah yang beragama dan yang bertuhan secara benar.”

Selanjutnya di halaman 16 tertulis : “Kebudayaan itu derajat manusia, persis seperti agama.” Lalu pada halaman 17 : “Saya sendiri menginginkan Sunda yang sesuai dengan wiwitan atau identitas awalnya, Sunda yang menyerahkan diri terhadap alam yang tidak mengenal simbolisasi penyembahan.”

Akhirnya, banyak kalangan pemuka masyarakat Islam Purwakarta menyebutkan bahwa Dedi bukan sedang memasyarakatkan “Sampurasun”, tapi sedang merusak umat Islam Purwakarta dengan “Campur Racun”.

Tentu kita setuju, bahwasanya Dedi Mulyadi memang bukan sedang memasyarakatkan kesantunan salam Sunda “Sampurasun”, tapi dia memang sedang merusak umat Islam Purwakarta dengan “Campur Racun”, yaitu meracuni aqidah umat dengan aneka perbuatan “Syirik”.

Karenanya, kami serukan jaga kesantunan ADAT “Sampurasun” dalam rawatan SYARIAT “Assalaamu ‘Alaikum”, sehingga ADAT dan SYARIAT tetap seiring sejalan.

Ayo, selamatkan “Sampurasun”, dan tolak “Campur Racun”.

Hasbunallaahu wa Ni’mal Wakiil …
Ni’mal Maulaa wa Ni’man Nashiir …

Muhammad Rizieq Syihab

yy/eramuslim