20 Jumadil-Akhir 1443  |  Minggu 23 Januari 2022

basmalah.png
ISLAM INDONESIA

New-Khawarij dan Terorisme Gaya Baru?

New-Khawarij dan Terorisme Gaya Baru?Fiqhislam.com - Rangkaian ledakan mengguncang Jakarta, Tujuh orang, lima di antaranya pelaku, meninggal di kawasan belanja Sarinah, Thamrin Jakarta Pusat. Sedikitnya puluhan orang lainnya terluka, enam di antaranya anggota Polisi, peristiwa memilukan itu berlangsung Kamis pagi, 14 Januari 2016 lalu.

Berbagai spekulasi muncul terkait pelakunya atau dalang dari aksi biadab itu. Kapolri terang-terangan menuduh bahwa ISIS atau “Islamic State in Iraq and Suriah” adalah otak utama pelaku teror mengerikan namun menjadi tonotonan sebagian masyarakat Ibu Kota itu, tapi BIN membantah, dan lainnya memepertanyakan, Jika ISIS pelakunya, dari mana informasi itu bisa cepat masuk pada kepolisian padahal penyelidikan belum dilakukan, serta para pelaku semuanya telah meragang nyawa, ada pula yang mempersoalkan kinerja BIN yang dengan mudahnya kecolongan.

Karena itu, diskursus tentang teroris kembali menggema, para mantan praktisi, akademisi, hingga para ahli di bidang teror berlomba-lomba mengutarakan difinisi, latar belakang, ideologi, hingga tujuan yang ingin dicapai para pelaku teror. Tulisan ini berusaha meneropong berbagai sisi tentang terorisme.

Perbuatan yang dikategorikan ke dalam Tindak Pidana Terorisme, diatur dalam ketentuan pada Bab III (Tindak Pidana Terorisme), Pasal 6, 7, bahwa setiap orang dipidana karena melakukan Tindak Pidana Terorisme, jika ‘Dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau menghilangkan nyawa dan harta benda orang lain atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional’, (Pasal 6).

Dari pasal tersebut dapat disarikan bahwa suatu aksi atau tindakan dapat digolongkan sebagai tindak pidana terorisme bila mengandung unsur: Dilakukan dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan; Menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara luas; Menimbulkan korban massal, baik dengan cara marampas kemerdekaan atau dengan menghilangkan nyawa atau harta benda orang lain;Mengakibatkan kerusakan pada obyek-obyek vital, lingkungan hidup atau fasilitas publik.

Berangkat dari definisi di atas, maka prilaku korupsi, kapitalisme, ketimpangan sosial, prostitusi, perjudian, dan semisalnya bukan bagian dari teorisme, walaupun dampaknya bisa melebihi kejahatan teroris, dan pada tahap tertentu bisa masuk dalam extra ordinary crime. Dan, kejahatan-kejahatan tersebut dapat memicu terjadinya terorisme.

Karena itu, terorisme perlu diselesaikan dengan mengevaluasi akar masalah. Jika disederhanakan terdapat dua faktor penyebab: Pertama, faktor eksternal umat, yaitu masalah kesenjangan sosial yang membuahkan ketidakadilan. Data yang ada, satu persen penduduk menguasai limapuluh persen kekayaan Indonesia. Dari duabelas orang terkaya di Indonesia tahun 2015, hanya satu orang muslim. Ketidakadilan dan kemiskinan adalah tanah yang subur bagi terorisme. Yang paling merasakan kemiskinan adalah kaum muslim, tidak heran jika mereka banyak yang melakukan tuntutan keadilan. Jika pemerintah ingin menyelesaikan terorisme, maka jalan keluarnya, tumbukanlah keadilan di tengah masyarakat. Jangan ada perasan bagai numpang di negeri sendiri. Cukuplah pengalaman dari peristiwa Ambon dan Poso yang faktor penyebabnya ketidakadilan sosial. Kedua, faktor internal dari SDM umat sebagai akibat pendidikan yang pradigmanya harus diubah. Kita perlu pendidikan Islam komprehensif dengan memperkenalkan semua aspek yang berkembang dalam sejarah Islam.

Maka, langkah-langkah kongkrit harus ditempuh, setidaknya harus ada gerakan yang sungguh-sungguh untuk menghilangkan ketidak-adilan terhadap umat Islam, di mana kita merasakan antara lain, kebijakan pemerintah dalam mengembangkan pendidikan Islam/pesantren, madrasah, perguruan tinggi Islam, dibandingkan dengan bantuan pemerintah kepada pendidikan umum, walaupun tahun-tahun terakhir ini sudah mulai mengalami perbaikan, dan diharapkan akan terus meningkat. Selain itu, pendidikan Islam yang konprehensif diharapkan melahirkan generasi yang tidak mengkafirkan sesama muslim yang berbeda dalam pengamalan masail furu’iyah, tapi dalam waktu yang sama, mereka mempunyai keyakinan yang kuat terhadap apa itu kekafiran, siapa itu orang kafir dan paham betul bagaimana bergaul dengan orang-orang kafir menurut ajaran Islam.

Dan, kita juga tidak berharap liberalisme agama Islam semakin menyebar sebagai keyakinan yang semakin mendominasi generasi muda, demikian pula, harus ada keseriusan dalam membendung dan memfilter aliran yang telah diwaspadai bahkan disesatkan oleh MUI Pusat, antaranya, penyimpangan akidah Syiah, dan amalan nikah mut’ah yang kian marak di kota-kota besar, termasuk Makassar. Bahkan yang sedang santer diberitakan adalag aliran Gafatar yang merupakan reingkarnasi dari Al-Qiyadah Al-Islamiyah besutan nabi palsu Ahmad Mushaddeq.

New-Khawarij

Sekte Khawarij memiliki ciri-ciri, rajin beribadah kepada Allah, menegakkan kewajiban, dan berjihad di jalan Allah. Sayang, mereka berbuat tanpa ilmu, sehingga membuat mereka keluar dari Islam tanpa mereka sadari, bahkan merasa paling mulia kedudukannya. Abu Said Al-Khudri meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab pernah berniat membunuh salah satu dari mereka, lalu Rasulullah bersabda, Biarkan mereka, mereka punya sahabat yang mana kalian merasa rendah jika membandingkan salat dan puasa kalian dengan salat dan puasa mereka. Mereka membaca Al-Qur’an tetapi tidak melampaui tenggerokan. Mereka melesat keluar dari Islam sebagaimana anak panah melesat keluar dari busurnya, (Al-Bukhari, Kitab Al-Manakib, Bab Alamaatin Nubuwah fil Islam, no. 3414; Muslim, Kitab Al-Zakat, Bab Dzikrul Khawarif wa Shifatihim. No. 1064).

Kesalahan terbesar kaum Khawarij adalah berjihad tanpa ilmu yang melemparkan mereka dalam kancah jihad di jalan batil. Salah seorang tokoh mereka, Abdullan bin Muljam, menyangka bahwa pembunuhan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib yang dilakukannya merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allah, padahal Ali yang merupakan menantu Rasulullah merupakan salah satu sahabat yang mendapat kabar semasa hidupnya sebagai penghuni surga. Akidah yang salah, beramal tanpa ilmu, menjadikan mereka berbuat konyol, memandang pembunuhaan Ali sebagai perbuatan terpuji.

Saya sendiri memandang bahwa para pelaku teor Sarinah adalah Khawarij Modern, tanpa melihat dari organisasi apa mereka berasal. Khawarij karena mereka tidak mengakui pemerintahan yang sah di mana pun mereka berada, kecuali jika yang memerintah adalah golongan mereka. Inti ajarannya, menganggap bahwa selain dari golongannya adalah kafir harbi yang wajib ditumpas. Karena mereka ini berada dan berasal dari Indonesia sehingga melihat pemerintah dan segenap aparaturnya, termasuk polisi adalah bagian yang harus dihabisi. Keyakinannya mengatakan bahwa, perbuatan menghilangkan nyawa pemimipin dan aparat pemerintah dan siapa saja yang menghalangi tindakan mereka, adalah bagian dari jihad, di sinilah letak inti pemahamannya, memaknai jihad dengan serampangan, hanya sebatas jidad dan dengkul.

New Khawarij, karena gaya mereka tidak lagi memperlihatkan simbol-simbol agama dalam mengenakan pakaian. Aksesoris seperti jubah, jenggut panjang, kumis dipotong rapi, celana cingkrang, dan semisalnya berubah mengenakan pakaian pop, staylish and trendy. Topi ala rapper dipadu dengan baju casual, celana jeans, dan sepatu nike, menjadikan para new Khawarij ini seperti masyarakat metropolitan lainnya, tidak terlihat ada aura kebengisan. Ideologi yang terpatri dalam benak dan hati merekalah yang membedakan.

Maka, tugas utama para ulama dan cerdik pandai adalah menjelaskan bahwa syariat jihad adalah anak kandung dalam Islam. Namun, jihad memiliki rukun dan syarat, aturan dan ketentuan yang diberlakukan secara ketat. Tidak brutal seperti ‘anjing gila’ dengan membunuh warga sipil yang tidak bersalah secara membabi buta. Tidak boleh mengumbar peluru dan menumpahkan darah di sembarang wilayah. Pun tidak boleh serampangan mencap orang atau kelompok tertentu sebagai kafir atau murtad, sehingga halal darahnya. Kita sepakat bahwa jihad di jalan Allah adalah ibadah bernilai pahala tinggi dan akan bagi yang gugur dinyatakan sebagai syahid. Beda dengan jihad di Jalan Muhammad Husni Thamrin selain berdosa pelakunya dapat menyandang mati konyol. Wallahu A’lam! [yy/islampos]