fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Ramadhan 1442  |  Selasa 13 April 2021

Fikih Waria Atur dari Ibadah Hingga Berhubungan Seksual

Fikih Waria Atur dari Ibadah Hingga Berhubungan SeksualFiqhislam.com - Ketua Pesantren Waria Al-Fatah, Shinta Ratri mengatakan, kitab fikih waria yang akan disusun akan mengatur tata cara beribadah untuk waria hingga berhubungan seksual dengan suami atau istri. Dia mencontohkan, fikih itu akan mengatur apakah waria tersebut dapat shalat  menggunakan mukena atau pakai sarung.

Menurutnya, penggunaan mukena atau sarung diserahkan kepada waria. Dia menjelaskan, yang terpenting, syarat sah shalat adalah menutup aurat."Didasarkan kenyamanaan dia, yang terhitung hal pribadi. Apakah memakai sarung atau tidak,"kata Shinta saat berbincang dengan Republika.co.id, Sabtu (6/2).

Dia menjelaskan, kenyamanan ini berhubungan langsung dengan kekhusyukan saat sang waria berhadapan dengan Allah SWT. Di pesantren waria Al-Fattah, kata dia, terdapat dua shaf pertama di depan dan kedua di belakang. "Yang memakai sarung di depan, dan memakai mukena di belakang," tutur dia.

Shinta menjelaskan, para waria saat melakukan shalat tak menyebutkan laki-laki atau perempuan. Sedangkan niatnya sebagai manusia yang ingin bertemu Tuhan-nya."Kita memakai kitab Al-Hikam (dan kitab-kitab tauhid), karena di sana tidak pernah membahas oleh laki-laki ataupun perempuan," terang dia. "Tetapi menjelaskan sebagai manusia."

Upaya Shinta untuk menyusun kitab fikih waria ini mendapat sorotan dari para ulama. Didalam Alquran dan hadis, jelas disebutkan bahwa laki-laki atau perempuan dilarang berperilaku dan berpakaian seperti lawan jenis.

Jika tak Berlandaskan dengan Sunah Jangan Diikuti

Fikih waria akan disusun dengan berlandaskan tasawuf. Pondok Pesantren khusus untuk Waria, Al Fatah, Yogyakarta yang akan menginisiasi penyusunan fikih tersebut hendak meminta pandangan sepuluh kiai untuk menyusun kitab tersebut.

Menanggapi upaya tersebut, Pakar tafsir Muchlis Hanafi menjelaskan, akidah, Alquran dan Sunah, serta akhlak adalah satu paket yang tidak dapat dipisahkan dalam penyusunan fikih. Karena itu, keempatnya tidak bisa dipisahkan."Tasawuf harus sejalan dengan syariah dan tidak boleh bertentangan. Yang namanya Aqidah, Syariah, Tasawuf (Akhlak) satu paket. Tidak bisa dipisahkan," tutur dia, Sabtu (6/2).

Muchlis menambahkan untuk membuat kitab agama Islam tetap harus berpedoman kepada Alquran dan Hadist. Di dalam Alquran juga hadis, dia menjelaskan,  sampai kapan pun tidak akan ditemukan legitimasi tentang Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT). Kata dia, yang ada malah larangan untuk melampiaskan orientasi seksual sesama jenis. 

"Jika kitab fikih bertentangan dengan sunah jangan diikuti," tutur dia.

Di dalam Alquran dan hadis, kata dia, juga diatur bahwa laki-laki dilarang menggunakan pakaian atau berpenampilan seperti perempuan dan sebaliknya. 

Dasar Penyusunan Fikih Waria Tidak Ditemukan

Pakar Tafsir, Dr Muchlis Hanafi mengungkapkan Lesbi, Gay, Biseks dan Transgender (LGBT) sebagai fenomena sosial perlu disikapi serius oleh para tokoh agama, lebih-lebih Islam sangat tegas melarangnya.

Menurut doktor ilmu tafsir dari Universitas Al Azhar Kairo, Mesir ini, bila ada saudara atau keluarga sesama Muslim memiliki orientasi seksual sesama jenis, maka harus dibimbing dan didampingi agar bisa lepas dari orientasi seks yang menyimpang.

Ketua Lajnah Pentashih Mushaf Alquran (PMA) ini menjelaskan, LGBT sebagai gaya hidup, tidak perlu diberi ruang dalam ranah sosial, dan bila itu bersifat bawaan, maka dengan bimbingan dan pendekatan agama secara maksimal, akan dapat diminimalisir dampaknya.

''Mudah-mudahan, dengan izin Allah SWT, mereka yang mengalami penyimpangan seks dengan mendapatkan bimbingan dan pendekatan  agama secara maksimal, bisa disembuhkan,'' ujarnya menambahkan.

Menurut Muchlis Hanafi, penyusunan fikih waria bila ingin mencari dasar/legitimasi LGBT, dapat dipastikan tidak ditemukan, karena Alquran dan hadits secara tegas melarangnya. ''Karena itu, tidak perlu dilakukan,'' kata Muchlis Hanafi menjelaskan.

Bila dimaksudkan untuk panduan bimbingan dan pendampingan dengan pendekatan agama, agar yang bersangkutan bisa melepaskan diri dari itu, maka petunjuk-petunjuk agama terkait itu, menurut Muchlis, banyak ditemukan. 

Fiqh Waria Sangat Membahayakan

Cendekiawan Muslim, Prof Dr KH Didin Hafidhuddin mengungkapkan, dalam Alquran surat Al Hujurat ayat 13 dijelaskan bahwa Allah SWT menciptakan manusia hanya dua jenis, yaitu laki-laki dan perempuan.

''Tidak ada yang di antara keduanya. Jika ada yang mengaku sebagai waria, maka harus dikembalikan statusnya laki-laki atau perempuan, karena bertentangan dengan sunnatullah,'' ungkap Prof Didin kepada Republika.co.id, Sabtu (6/2).

Menurut Direktur Program Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor ini, fiqh yang ada selama ini hanyalah berkaitan dengan laki-laki atau perempuan. ''Fiqh waria sangat mustahil,'' kata Prof Didin menegaskan.

Mantan ketua umum Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) ini lebih lanjut mengungkapkan, jika ada yang memaksakan akan membikinfiqih waria, maka sama dengan melecehkan fiqh itu sendiri.

Prof Didin menegaskan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kementrian Agama Republik Indonesia harus mampu mengantisipasi masalah ini dengan tegas.

''Ini sangat membahayakan dunia fiqh di masa mendatang sekaligus membahayakan kehidupan umat manusia yang wajar dan normal,'' kata Prof Didin mengingatkan. [yy/republika]