fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


30 Ramadhan 1442  |  Rabu 12 Mei 2021

Misteri Terowongan Belanda di Masjid Istiqlal

Misteri Terowongan Belanda di Masjid IstiqlalFiqhislam.com - Di daerah Pintu Air, sekarang telah berdiri dengan megah Masjid Istiqlal. Masjid yang terbesar di Asia Tenggara ini dibangun di atas Gedung Tanah, tapi orang Betawi menyebutnya Gedung Tane.

Awalnya, sebuah taman indah tempat rekreasi dan mejeng para gadis tempo doeloe. Namanya Wilhelmina Park (Ratu Kerajaan Belanda) dari Dinasti Oranye.

Ratu Wilhelmina lahir pada 31 Agustus 1898. Untuk memperingati hari kelahirannya, tiap tahun diadakan pesta besar-besaran, termasuk mengadakan Pasar Gambir. Kemudian, oleh Gubernur Ali Sadikin diselenggarakan Jakarta Fair (Pekan Raya Jakarta) untuk memperingati ulang tahun Jakarta.

Disebut Gedung Tane, gara-gara di bawah tanah dibangun "gedung" yang dipercayai sebagai bungker lengkap dengan terowongannya. Konon, terowongan ini yang dikabarkan tembus sampai Pasar Ikan digunakan untuk kepentingan militer.

Ciliwung dan Tukang Binatu

Di sebelah utara Gedung Tane, ada dua bioskop, yakni Capitol dan Astoria. Dinding timur bioskop Capitol berbatasan dengan Kali Ciliwung yang diarsiteki seperti taman dan dijadikan tempat dansa-dansi warga berduit.

Ruangan hiburan yang di bawahnya sungai kala itu masih jernih dan bening. Di dekatnya, tepatnya di depan Kantor Berita Antara, tempat laki-laki dan perempuan mencuci celana dan pakaian, baik milik sendiri maupun sebagai tukang binatu yang menerima bayaran.

Ketika Ciliwung tidak "segalak dan semesum" sekarang, orang Betawi banyak berprofesi sebagai tukang binatu (dobi). Pakaian dibanting-banting di penggilesan memerlukan badan yang kuat dan sehat.

Ciliwung yang kini ditakuti sebagai penyebab banjir, kala itu memberi manfaat besar bagi penduduk. Ada yang berprofesi sebagai tukang "eretan" yang menyeberangkan orang dari satu tempat ke tempat lain. Di daerah Kali Pasir, Jakarta Pusat, dulu ada Gang Eretan.

Pusat pertokoan Pasar Baru dibangun beberapa saat setelah Gubernur Jenderal Daendels pada awal abad ke-19 memindahkan pusat kota lama di sekitar Pasar Ikan ke Weltevreden. Pasar ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan warga Eropa dan Belanda yang makin banyak berdatangan ke Batavia.

Sampai sekarang, masih kita jumpai penjual dolar dan mata uang asing lainnya. "Dolar, dolar, dolar," sapa penjual dolar di Pasar Baru.

Kisah Bule Belanda Berdansa di Harmoni dan Pasar Baru

Bundaran HI saat ini merupakan tempat ajang demo, unjuk rasa, olahraga, nampang, dan juga mejeng. Lebih-lebih di hari libur Sabtu dan Ahad. Hotel Indonesia awalnya dikelola Grup International Hotel Corporation (IHC), yang merupakan hotel bertaraf internasional (bintang lima) pertama di Indonesia.

HI diresmikan Presiden Sukarno pada 5 Agustus 1962. Hotel ini dibangun sebagai akomodasi untuk kegiatan Asian Games IV yang kemudian dilanjutkan dengan Ganefo (Games of the New Emerging Forces).

Nama tempat hiburan dan mejeng sebelumnya berada di kawasan Harmoni hingga ke Pasar Baru. Harmoni yang gedungnya sudah digusur, merupakan tempat bertemunya ruas-ruas Jalan Gajah Mada, Hayam Wuruk, Majapahit, Segara, Juanda, dan Jalan Suryopranoto. Yang belakangan ini lebih dikenal dengan sebutan Jaga Monyet.

Nama ini sudah melekat dari abad ke-17 ketika kompeni membangun benteng di sini. Di kawasan ini pernah berdiri Hotel des Indes (baca: desen). Kemudian, hotel yang telah berdiri hampir dua abad itu pada 1971 dijadikan pertokoan Duta Merlin.

Hotel des Indes, Tempat Hiburan Orang Berkantong Tebal

Sekitar setengah abad lalu, Hotel des Indes yang merupakan hotel terbaik di Indonesia menjadi tempat orang berkantong tebal menikmati hiburan. Di sini, mereka dapat berdansa-dansi sepuasnya diiringi band-band dan penyanyi terkenal kala itu.

Seperti Nick Mamahit yang membawakan lagu-lagu Amerika Latin. Bing Slamet, Sam Saimun, dan Said Effendi sering menghibur di hotel ini.

Pada masa demokrasi liberal, meski kabinet sampai 1957 belasan silih berganti dan jatuh bangun, situasi Ibu Kota tetap aman. Hampir tidak ada laporan kejahatan, apalagi perampokan dan begal seperti sekarang ini.

Situasi "panas" hanya di sekitar gedung parlemen saat antara partai pemerintah dan oposisi saling serang untuk menjatuhkan. Tapi, tidak terjadi di luar gedung parlemen yang kala itu letaknya di bagian ujung kanan Departemen Keuangan di Lapangan Banteng.

Tidak ada demo-demo antara dua kelompok saling berlawanan. Apalagi, sampai memblokir badan jalan dan membakar foto tokoh-tokoh yang menjadi lawan politiknya.

Becak dan Austin Jadi Kendaraan Primadona

Bagi pemuda, pelajar, dan mahasiswa yang tidak punya cukup uang menonton orang berdansa di Hotel des Indes, dan tempat-tempat hiburan di sekitar Harmoni dan Pasar Baru, kita dapat menonton orang berdansa. Kita dapat mendatangi tempat-tempat hiburan ini--walau hanya menonton dari luar gedung--dengan naik becak. Atau naik ostin, dari kata kendaraan Eropa merek Austin (oplet).

Sebelum hubungan diplomatik RI-Belanda putus pada 1957, warga Belanda masih banyak di Jakarta. Harmoni dan Hotel des Indes merupakan tempat hiburan para bule berduit ini. Karena mobil masih jarang, mereka juga mendatangi tempat hiburan naik becak.

Menurut sejarahnya, becak sudah berada di Batavia sejak 1936, diciptakan orang Cina. Mungkin meniru kendaraan dari negerinya, rickshaw. Nama becak berasal dari be (kuda) dan cak (makan). Artinya, bekerja sekuat kuda untuk bisa makan.

Sesuai dengan Perda No 11 Tahun 1988, becak dilarang beroperasi di Jakarta. Becak memang menimbulkan masalah ketertiban lalu lintas. Tapi, sekarang lebih dahsyat lagi dengan jumlah motor yang jumlahnya seabrek-abrek.

Oleh Alwi Shahab
yy/republika