22 Dzulhijjah 1442  |  Minggu 01 Agustus 2021

basmalah.png

Prof. Mahfud MD Bongkar Kaum Pembela LGBT

Prof. Mahfud MS Bongkar Kaum Pembela LGBTFiqhislam.com - Pakar Hukum Tata Negara yang juga mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Prof. Mahfud MD membongkar kebobrokan pembela Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT).

Melalui akun Twitter @mohmahfudmd mengungkapkan pembela LGBT itu ada empat macam.

“Pembela LGBT ada 4: 1) Yg tulus demi HAM tp spihak; 2) Yg genit mencari panggung politik; 3) Yg mencari bayaran; 3) LGBT sendiri,” ujar Guru Besar Ilmu Hukum Univesitas Islam Indonesia Yogyakarta ini.

Dana kampanye/propaganda LGBT memang besar dan menggiurkan. Badan PBB United Nations Development Programme (UNDP) menganggarkan 8 juta dolar AS (sekitar Rp 108 miliar) untuk mendukung komunitas lesbian, gay, biseksual, transgender (LGBT) di Indonesia.

Mahfud mengatakan LGBT itu penyakit jiwa yang harus disembuhkan. “Ada ahli yg mengatakan LGBT itu genetik. Tp jauh lbh byk ahli yg bilang, LGBT itu penyakit yg hrs disembuhkan. Blm ada bukti LGBT genetik.”

Selain itu, Mahfud mengatakan saat ini Indonesia sudah darurat LGBT.

Mahfud juga menyatakan para pendukung LGBT yang berlindung dibalik HAM sangat tidak tepat.

“HAM tak slalu mutlak-universal. LGBT bertentangan dgn nilai ketuhanan, moralitas, & budaya Indonesia. Psl 28J (UUD),” tulis Mahfud. [yy/eramuslim]

Prof. Yusril: Hukum Islam Soal LGBT Harus Diperjuangkan Jadi Hukum Positif di Indonesia

Pakar Hukum Tata Negara, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc, berpendapat bahwa hukum Islam tentang LGBT harus diperjuangkan menjadi hukum positif di Indonesia.

Sebagaimana dilansir Sharia.co.id, Jum’at (26/2/2016), Yusril menjelaskan bahwa sebenarnya semua agama melarang LGBT. Di dalam Islam, perilaku tersebut jelas disebut fahisyah (perbuatan keji). Begitu juga di dalam Kitab Perjanjian Lama yang dipakai oleh kaum Nashrani dan Yahudi, disebutkan bahwa bangsa Sodom dan Gomoroh diadzab Tuhan gara-gara melakukan homoseks.

Dia juga mengungkapkan bahwa gerakan LGBT sudah menjangkau anak dan remaja, dan jelas meresahkan.

“Bila LGBT berkembang, maka bisa terjadi pemusnahan sebuah bangsa!” tegasnya.

Yusril mengamini pernyataan Menhankam Ryamizard Ryacudu bahwa gerakan LGBT sebenarnya merupakan proxy war.

Yusril mendesak pemerintah dan DPR untuk menyusun undang-undang guna mencegah perkembangan LGBT, sebagai wujud perlindungan terhadap tumpah darah rakyat Indonesia. [yy/eramuslim]

Peneliti: Penularan HIV-AIDS Didominasi Kalangan Homoseksual

Peneliti sekaligus Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin, dr Dewi Inong Irana, SpKK menyatakan, bahaya utama bagi para pelaku lesbian, homoseksual, biseksual, dan transgender (LGBT) adalah HIV-AIDS.

Ia juga menjelaskan bahwa hampir tidak ada pasangan sejenis yang tidak melakukan seks.

“Bisa tidak (pelaku) LGBT tidak berhubungan seks? Bahkan mereka berganti-ganti pasangan,” ujarnya dalam seminar bertema “LGBT dalam Perspektif Keilmuan” di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Jum’at (26/02/2016).

Perilaku inilah, jelas Inong, yang menjadikan pelaku LGBT rentan untuk tertular penyakit HIV-AIDS yang belum ditemukan obatnya itu.

Dokter yang pernah meneliti 500 waria dan homoseksual usia 14-50 tahun di Jakarta Utara (2000) ini menerangkan, risiko tertinggi penularan HIV-AIDS ada pada pasangan MSM (man having sex with man).

“Infeksi Menular Seksual (IMS) tertinggi itu pada (pertama) MSM atau gay; kedua vagina; dan ketiga oral,” ungkapnya.

Jadi, “Kata siapa aktivitas oral tidak bisa tertular HIV-AIDS,” imbuh Inong sambil menunjukkan gambar lidah yang terinveksi HIV-AIDS.

Inong mengaku, ia dan kebanyakan dokter spesialis kulit dan kelamin cukup dipusingkan dengan fenomena LGBT ini.

“Tak usah bicara hak asasi dan sebagainya, ini yang kami hadapi setiap hari. Betapa banyak orang yang hancur hidupnya karena terkena HIV-AIDS,” pungkasnya. [yy/hidayatullah]

Homoseksual Dikeluarkan dari Daftar Penyakit karena Unsur Dominasi-Politis

American Psychiatric Association (APA) mengeluarkan homoseksual dari daftar penyakit karena unsur politis dan dominasi. APA merupakan organisasi psikiater terbesar di dunia.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia Seksi Religi, Spiritualitas dan Psikiatri (RSP) PDSKJI, Dr Fidiansjah SpKJ, membenarkan hal itu.

“Benar, itu diakui,” kata Dr Fidiansjah saat ditemui hidayatullah.com di kediamannya di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Kamis (11/02/2016) malam.

Menurutnya, wajar jika APA mengeluarkan homoseksual dari daftar penyakit. Sebab, 5 dari 7 orang tim APA task force DSM merupakan pelaku homoseksual, 2 lainnya aktivis LGBT.

Makanya, kata dia, dalam dinamika di kalangan ilmuwan pun, karena pelaku homoseksual mendominasi, sehingga bisa menghasilkan kesepakatan yang berupa terminologi tersebut.

“Ibaratnya kalau diambil kuorum, mereka yang menang, hanya karena mereka yang mendominasi,” jelas Fidiansjah. 

“Kita tidak bisa menghindari peranan dampak politis dan kekuasaan (di APA. Red),” lanjutnya.

Menurut mantan Direktur Utama Rumah Sakit Jiwa Magelang ini, tak semua psikiater di dunia menyetujui APA dalam hal ini.

Di kalangan psikiater Amerika pun, ungkapnya mencontohkan, ternyata banyak yang tidak sepakat dengan pengeluaran homoseksual dari daftar penyakit.

Sebagaimana diketahui, pada tahun 1973, APA telah mengeluarkan homoseksual dari daftar penyakit.

Hal itu tertuang dalam DSM-III (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) maupun ICD-10 (The International Statistical Classification of Diseases). Dalih ini yang selalu dijadikan rujukan bagi kaum pro-LGBT.

DSM merupakan ‘kitab’ yang berisikan kriteria gangguan mental. Sedangkan ICD suatu sistem klasifikasi penyakit dan beragam jenis tanda, simptoma, kelainan, komplain dan penyebab eksternal penyakit. [yy/hidayatullah]