22 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 28 Oktober 2021

basmalah.png

Muhammadiyah Coba Menggeser Pemikiran Fikih Tentang Konsep ‘Tafaquhufiddin’

Muhammadiyah Coba Menggeser Pemikiran Fikih Tentang Konsep ‘Tafaquhufiddin’

Fiqhislam.com - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haidar Nasir mengatakan bahwa fikih bukanlah sebuah konstruksi berpikir dalam tradisi keislaman yang dulunya itu beragam.

“Jika kita lihat dalam perkembangan awal pemikiran Islam di penghujung abad pertama hijriah, misalkan kalau di hijjaz itu berkembang dengan apa yang disebut madrasatul rahmah, madrasatul athfal. Di kuffah berkembang juga antara satu aliran tekstual dan kontekstual,” papar Wahid dalam acara diskusi publik dan peluncuran buku ‘Fikih Kebinekaan’ di Gedung Dakwah PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, Kamis (21/08/2105).

Kalau fikih dianggap sebuah produk, lanjutnya, kadang bisa menjadi serba regeat. Maka, di pesantren orang kalau belajar fikih harus belajar ushul fikih lebih dahulu supaya tidak akan terputus bangunan berpikirnya.

“Di pesantren kita belajar sebuah kitab fikih tipis fathul qohar. Di situ rinci sekali pembahsannya bagaimana ahkam al-khomsah tentang berbagai hal sampai hukumnya makan batu,” ungkap Haidar.

Tetapi, lanjut Haidar, di pesantren orang (santri) juga diajari kitab-kitab ushul fikih, seperti kitab ushul fikih klasik jam’ul jawami’. Itu kitab ushul fikih tebal sekali dan hanya santri yang sudah kelas tingkat tinggi yang katam kitab tersebut meskipun juga banyak yang tidak katam.

“Karena di situlah bangunan berpikir, itu semacam paradigma tentang ilmu pengetahuan,” ujar Haidar.

Haidar menyebutkan bahwa Muhammadiyah mencoba untuk menggeser pemikiran fikih pada dasar al-Qur’an tentang konsep tafaquhu fiddin dimana fikih bukan sekadar pikiran-pikiran yang serba ahkam al-khomsah tetapi juga bisa lebih dari itu biarpun praktiknya tidak mudah.

Dan mengenai Fikih Kebinekaan, kata Haidar, sebenarnya Muhammadiyah sudah pernah merintis sebuah buku seperti tafsir tematik yang dasarnya pada tafsir maudhui dan karya tersebut adalah karya yang luar biasa pada zaman majelis tarjih dan pengembangan pemikiran Islam di zaman Buya Syafi’i Ma’arif.

“Waktu itu saya Sekretaris Umumnya. Kalau sekarang saya jadi Ketumnya cuma melanjutkan saja program kerja yang sudah ada, seperti acara-acara seremonila seperti ini, dan saya harus belajar seperti itu,” tandas Wahid. [yy/hidayatullah]