fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


7 Ramadhan 1442  |  Senin 19 April 2021

Al-Aqsha Diserang, Jokowi Jangan Diam

Al-Aqsha Diserang, Jokowi Jangan Diam

Fiqhislam.com - Satu per satu negara Muslim mengecam serangan Israel terhadap Masjid Al-Aqsa pekan ini. Turki, Mesir, Palestina, dan Yordania termasuk di antara negara awal yang secara tegas, mengutuk sikap semen-mena Israel di kiblat pertama Muslim itu.

Terakhir yang mengeluarkan pernyataan tegas yakni Arab Saudi. Raja Saudi Salman menghubungi langsung Presiden AS Barack Obama, Presiden Rusia Vladimir Putin, Perdana Menteri Inggris David Cameron, Presiden Prancis Francois Hollande, dan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon untuk menyatakan rasa keprihatinannya terhadap tindakan Al-Aqsa.

Salman juga meminta Dewan Keamanan Nasional untuk mengambil langkah tegas agar Israel tidak melanggar kesucian Al-Aqsa.  Sementara itu, Indonesia belum memberikan pernyataan tegas ihwal sikap semena-mena Israel. Wartawan Republika di Istana Kepresiden belum mendengar sikap Presiden Joko Widodo secara langsung tentang penyerangan tersebut.

Adapun pihak Kementerian Luar Negeri mengatakan, Pemerintah RI akan membahas masalah Al-Aqsa dalam rapat PBB. 

Sekretaris Umum Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) Heri Efendi menilai, pemerintahan RI masih sangat kurang dalam memberikan tekanan agar Israel tidak semena-mena terhadap Masjid Al-Aqsa. Padahal, tentara Zionis telah melanggar hukum kemanusiaan internasional.

Mereka dengan semena-mena memasuki Masjid Al-Aqsa, dan melakukan pengrusakan terhadap situs bersejarah ini.  Karena itu, kata Heri,  tidak ada alasan bagi Indonesia, negara mayoritas Muslim terbesar di dunia untuk diam.

"Tidak ada alasan bagi pemerintah untuk tinggal diam melihat pelanggaran hukum internasional ini," ujarnya kepada Republika.co.id, Sabtu (19/9).

Menurut Heri sebagai anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), indonesia bersama dengan negara lain bisa berdiri di depan untuk melawan pelanggaran ini. Tidak hanya sekedar mengecam tapi juga melakukan langkah nyata dalam mencegah tindakan semena-mena Israel.  "Ini merupakan kultural genosida," katanya. [yy/republika]

Buya Syafii: Indonesia Harus Buat Pernyataan Keras

Pemerintah Arab Saudi mengajak para pemimpin negara untuk menolak serangan tentara Israel ke Masjid Al-Aqsa, Palestina.

Penyerangan tentara Israel ke situs suci tersebut mendapat kecamanan dari berbagai pihak, termasuk dari tokoh Islam Indonesia, Ahmad Syafii Maarif. Layaknya Saudi, pemerintah Indonesia harus bergerak menunjukkan ketidaksenangannya terhadap apa yang dilakukan tentara Israel.

"Minimal membuat pernyataan resmi yang keras," ujar pria yang kerap disapa Buya Syafii ini kepada Republika.co.id, Sabtu (19/9).

Bentrok di kawasan Masjid Al Aqsha itu dipicu oleh larangan terhadap Muslim yang hendak beribadah di dalam masjid. Tentara Israel dinilai tidak berhak mencegah Muslim untuk shalat dan berdoa di masjid manapun, apalagi di masjid yang merupakan salah satu tempat suci agama Islam ini.

Israel menginginkan agar penganut Yahudi bisa berdoa di dalam masjid tersebut. Pasukan Israel pun menyerang Muslim di Al-Aqsa dan mencegah warga Palestina memasukinya.

Buya Syafii mengatakan zionisme adalah ideologi rasis dan tidak bisa menjadi bagian dari kemanusiaan. "Penganutnya akan berbuat apa saja, termasuk yang paling brutal," ucapnya.

Amerika Serikat, kata Buya tidak juga menyadari tentang semuanya ini. Hingga kini, negara adidaya kerap mendukung tindakan Israel meski yang jelas-jelas banyak melanggar nilai-nilai hak azasi manusia (HAM). [yy/republika]

Tokoh Islam Serukan Risalah Al Azhar

Meningkatnya eskalasi penistaan terhadap Masjid Al-Aqsa dengan membagi tempat dan waktu, tepatnya pada Ahad (13/9) lalu oleh pihak keamanan zionis Israel dan pemukim yahudi, memicu kemarahan dunia Islam internasional.

Tidak terkecuali sejumlah tokoh dari Indonesia dari berbagai elemen yang mengutuk keras atas penistaan kiblat pertama kaum muslimin di dunia dengan menghasilkan Risalah Al-Azhar, Jumat (18/9) di Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
 
Dalam aksi tersebut, salah satu pengurus Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Fahmi Salim mengatakan, MIUMI menolak keras adanya penistaan Masjid Al-Aqsa oleh penjajah Israel.
 “MIUMI menolak keras atas pembagian tempat dan waktu pada Masjid Al-Aqsha,” tegasnya.
 
Hal senada diungkapkan penggagas acara, Ketua Asia Pacific Community for Palestine (Aspac for Palestine) Saiful Bahri. Dalam orasinya, Saiful menyampaikan, secara waktu, zionis Israel memberlakukan jam kunjungan warganya dari pukul 07.00 hingga 11.00 waktu setempat di Masjid Al-Aqsha.  
 
“Khusus hari Sabtu yang merupakan hari besar Yahudi, Masjid Al Aqsa akan dialihfungsikan. Serta hari-hari besar Yahudi. Di hari-hari tersebut Yahudi akan menyerang Masjid Al Aqsa dan mengusir jama'ah yang berada di dalamnya,” jelas Saiful.
 
Kemudian, masih menurut Saiful, secara tempat, umat Muslim kedepannya hanya diperbolehkan untuk mengelola bagian internal Masjid Kubah ash Shakhrah dan Mushalla Al-Marwani.

“Sedangkan bagi Zionis, seluruh tempat pelataran Masjid Al Aqsa dan kawasan yang tidak beratap. Zionis Israel berencana membangun proyek besar sinagog di dalam Masjid Al Aqsa, sebagaimana yang mereka lakukan terhadap Masjid Ibrahim di Hebron,” ungkapnya.
 
Sekretaris Umum KNRP Heri Efendi menyerukan kepada kaum muslimin untuk terus mendoakan para penjaga Masjid Al-Aqsha yang setiap hari terjadi pengusiran, pemukulan bahkan penembakan.

“Lalu, mengutip pernyataan Syaikh Raid Shalah, apakah kita akan menunggu sampai Masjid Al-Aqsa rata dengan tanah?” tegasnya yang langsung disambut hadirin dengan teriakan, tidak dan bertakbir. [yy/republika]

5 Langkah ini Bisa Dilakukan Rakyat Indonesia untuk Al-Aqsha

Penistaan Zionis Israel terhadap Masjid Al-Aqsha belakangan ini mengalami eskalasi. Umat Islam termasuk rakyat Indonesia pun diimbau tetap fokus membela Al-Quds. Lantas bagaimana caranya?

Setidaknya ada lima hal yang bisa dilakukan. Pertama, kata Ketua Adara Relief Internasional (Fokus perjuangan wanita dan anak Palestina) Nurjannah Hulwani, mensosialisasikan kondisi Al-Quds kepada khalayak.

“Menyebarluaskan kebiadaban Yahudi laknatullah,” ujarnya pada acara penyampaian pernyataan bersama 21 tokoh Indonesia di Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta, Jumat (18/09/2015) siang.

Kedua, melakukan penggalangan dana untuk membantu perjuangan umat Islam di Palestina.

Ketiga, terus memanjatkan doa kepada Allah untuk kemerdekaan Palestina.

Umat Islam, katanya dalam acara gelaran Asia Pasific Community (ASPAC) for Palestine itu, punya kewajiban melakukan ketiga hal tersebut.

“Kita berharap semua bisa sujud di Al-Aqsha sebelum kematian kita. Hancurnya Masjid Al-Aqsha adalah hancurnya umat Islam seluruh dunia,” ujarnya yang berbicara dengan nada sesegukan.

Keempat, seperti dikatakan Wakil Sekjen MIUMI Fahmi Salim, yang bisa dilakukan umat Islam adalah bersatu.

“Kaum Muslimin merapatkan shaf, bersatu, karena Israel berani mengambil alih Al-Aqsha,” ujarnya.

Ia pun mengajak segenap umat Islam mendukung perjuangan Palestina, dengan berjihad melalui penggalangan dana, lobi-lobi politik, hukum, dan sebagainya.

“Minimal kita harus mengikhlaskan niat kita dengan doa karena itu yang bisa kita miliki,” ujarnya.

Selain itu, yang kelima, terus melakukan gerakan pemboikotan terhadap produk-produk pendukung Israel.

“Seandainya kita mampu untuk memboikot produk Zionis Israel, itu akan efektif. Beberapa produk sudah ditandai (untuk diboikot),” ujar Ketua ASPAC for Palestine Saiful Bahri.

Senada Saiful, Oke Setiadi mengatakan, banyak perusahaan-perusahaan dunia yang keuntungannya digunakan untuk membiayai Israel. Maka produk-produk perusahaan itu ia setuju untuk diboikot.

“Solusinya kita harus punya produk tandingan,” ujar Sekjen PB Mathla’ul Anwar itu kepada hidayatullah.com usai acara. [yy/hidayatullah]