14 Safar 1443  |  Rabu 22 September 2021

basmalah.png

Curhatan Muslim Pedalaman Papua kepada Ustaz Fadhlan

Curhatan Muslim Pedalaman Papua kepada Ustaz Fadhlan

Fiqhislam.com - Presiden Yayasan Al Fatih Kaffah Nusantara, Ustaz Fadhlan Gharamatan menilai kelangsungan generasi Muslim Papua tergantung dari kesediaan umat Islam membantu.Ia mengakui, bantuan yang diberikan kepada umat Islam di Papua perlu diperkuat.

'Saya malu, saya menangis, ketika ada kepala suku Air Garam dengan bahasa tradisional berkata kepada saya‎ butuh bantuan untuk pembangunan rumah da\'i, fasilitas pembinaan untuk generasi muda,dan papan untuk masjid yang sudah reyot,' kata dia, Jumat (25/9).

Menurutnya, kalau bukan umat Islam siapa lagi yang akan peduli dengan regenerasi Muslim Papua. Kalau tidak ada yang peduli tentu pengaruhnya sangat besar terhadap dakwah umat Islam. 'Dakwah kita tentu terancam,' ucapnya.

Saat ini, kata Ustaz, cukup banyak pelajar Muslim Papua yang tengah studi di Jawa dan daerah lainnya. Mereka akan kembali ke daerah masing-masing, berdakwah di tanah kelahirannya.

Kepala Suku Ajak Umat Islam Perkuat Dakwah di Papua

Pendidikan Islam di generasi Muda Papua perlu diperkuat. Ini dimaksudkan agar regenerasi umat Islam di Papua tak berhenti.

Kepala Suku‎ Muslim di Jagara, Arif Lani mengungkap regenerasi sudah berjalan. Namun, tantangannya tak mudah. Pertama, sarana pendidikan Islam untuk anak dan tenaga pendidik juga kurang.

Di Wamena misalnya, untuk fasilitas sekolah, praktis hanya ada Madrasah Werasugun Asso dan Pondok Pesantren Al Istiqomah di Walesi dan Yayasan Pendidikan Islam di Wamena. ‎Hingga saat ini, tidak ada lagi penambahan jumlah sekolah.

‎Kedua, dakwah di masjid hanya berlangsung saat Jumatan saja. Terlebihnya, tidak ada kegiatan rutin sehingga penguatan akidah cenderung lemah. ‎"Masalah ini bisa apabila umat Islam peduli. Caranya, dengan melengkapi masjid dengan fasilitas pendidikan dan pembinaan," kata dia, Jumat (24/9).

Menurut Arif, dampak dari kurang kuatnya pendidikan Islam sejak dini terlihat ketika memasuki usia nikah. Banyak dari mereka yang akhirnya menikah dengan non-Muslim, dan akhirnya keluar dari agama Islam.

Belum lagi pergaulan dengan lingkungan non-Muslim. Ini tentu akan memberikan pengaruh besar terhadap generasi Muslim baru Papua. "Pergaulan ini tidak bisa dihindarkan. Tapi bisa mencegah dampaknya ketika akidah generasi muda diperkuat," kata dia.

Untuk tenaga pendidik, lanjutnya, walaupun sebenarnya ada namun alokasi untuk pendidikan di wilayah pegunungan cenderung tidak memenuhi kebutuhan. Mereka yang sudah terdidik justru memilih wilayah lain seperti Jayapura. ‎"Di Kabupaten Jayawijaya misalnya, hanya ada 14 sarjana. Tidak semua sarjana kembali ke daerah asalnya,"kata dia.

Memang, lanjut Arif, ada bantuan tenaga pendidikan setiap tahun datang. Namun, jumlah yang datang dan pergi tentu tidak sama. Jadi, tidak ada kepastian apakah akan ada tenaga pendidik yang menyiapkan generasi baru Muslim Papua.

"Tidak mungkin terus mengandalkan orang tua," katanya.

Sebelumnya, AFKN memberikan bantuan kepada Masjid Khairul Ummah Tolikara dan Islamic Center Al Aqsa, Walesi, Jayawijaya. Bantuan yang diberikan berupa uang tunai sebesar 150 juta rupiah dan puluhan karpet sajadah. [yy/republika]