22 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 27 Nopember 2021

basmalah.png

Sejarah Dakwah Kaum Habib

Sejarah Dakwah Kaum Habib

Fiqhislam.com - Masyarakat Indonesia mengenal sebutan habib. Panggilan itu merujuk pada tokoh Muslim, yang biasanya masih keturunan Nabi Muhammad SAW.

Dalam sebuah wawancara dengan Republika, Ketua Umum Rabithah Alawiyah Zein Umar Smith menjelaskan, istilah habib bermakna ‘tuan guru’ atau seorang yang berilmu dari kalangan zuriah Rasulullah SAW. “Jadi, semua habib pasti sayyid (keturunan Nabi SAW). Kalau sayid sebenarnya—kalau dia tidak alim— dia bukan habib,” ujarnya.

Sayyid secara harfiah berartu 'tuan'. Istilah itu kemudian menjadi gelar bagi keturunan Fatimah az-Zahra binti Rasulullah SAW dari garis Husain bin Ali bin Abi Thalib. Sementara, sebutan syarif ditujukan bagi keturunan Hasan bin Ali.

Kaum syarif cenderung menyebar dari Jazirah Arab ke wilayah Afrika Utara dan Asia Barat. Sejarah mencatat, beberapa dari mereka pernah memimpin umat, baik sebagai gubernur atau raja.

Sebut saja, penguasa Maroko Raja Muhammad VI. Ia berasal dari Dinasti al-'Alawiyyin al-Filalliyyin. Nasabnya sampai pada Hasan bin Ali. Adapun kaum sayyid cenderung berdiaspora ke arah timur, yakni India dan juga Nusantara.

Pasangan Ali dan Fathimah az-Zahra menurunkan banyak anak cucu. Di generasi kedelapan sejak mereka, terdapat seorang keturunan yang bernama Ahmad bin Isa. Julukannya ialah al-Muhajir, barang kali lantaran dirinya berhijrah dari Irak ke Arab Selatan atau Yaman.

Sebagai seorang mubaligh, ia terus menyebarkan ilmu dan syiar Islam kepada siapapun yang dijumpainya. Sampailah Ahmad bin Isa al-Muhajir di Hadramaut. Masyarakat lokal kemudian mengangkatnya sebagai tokoh panutan.

Ahmad al-Muhajir memiliki empat putra, yakni Ali, Hussain, Muhammad, dan Ubaidillah. Sang bungsu itulah yang menyertainya hijrah dari Basrah ke Hadhramaut. Begitu mendewasa, Ubaidillah dikaruniai tiga anak, yaitu Alwi, Jadid, dan Basri.

Dari ketiganya, hanya Alwi yang lebih banyak dicatat dalam pelbagai manuskrip. Sayyid pertama yang lahir di Hadramaut itu lantas memiliki banyak anak dan cucu. Keturunannya ini disebut sebagai Ba’alawi atau Alawiyyin.

Syed Farid Alatas dalam artikel “Hadhramaut and the Hadhrami Diaspora: Problems in Theoretical History”, proses Islamisasi pelbagai wilayah di pesisir Samudra Hindia tidak lepas dari kaum Alawiyyin. Perkembangan sejarah mereka dapat dipahami dalam empat tahap kronologis.

Pertama, masa sejak abad kesembilan hingga ke-13. Kala itu, Ahmad bin Isa dan cucunya, Alwi bin Ubaidillah, memimpin masyarakat Hadhramaut. Kaum Alawiyyin masih belum mengikuti tarekat sufi tertentu. Belum pula mereka bermazhab Syafii walaupun ulama-ulamanya kerap mengeluarkan fatwa yang sejalan dengan aliran fikih tersebut.

Kedua, era sejak abad ke-13 hingga ke-17. Pada masa ini, komunitas Alawiyyin mulai mengembangkan tarekat Ba’alawi. Pengadopsian jalan sufi itu dirintis sejak seorang salik, Ustaz al-Adhham Muhammad al-Faqih memeroleh ijazah al-khirqa dari Syekh Abu Madyan Syuaib bin al-Husain. Al-Faqih merupakan muqaddam dari generasi ke-13 keturunan Ali-Fathimah.

Ketiga, inilah masa jelang kontemporer, yakni sejak akhir abad ke-17 hingga ke-20. Mulai rentang waktu itulah, sebutan habib mulai tenar di tengah masyarakat lokal tempat mereka tinggal.

Gelar itu untuk merujuk pada kaum ulama panutan dari Alawiyyin. Menurut Syed Farid, dalam periode inilah terjadi gelombang migrasi komunitas keturunan Nabi SAW tersebut ke India, lalu Indonesia. Peran mereka semakin signifikan pada periodisasi terakhir, yakni era kontemporer atau pascakolonial.

Habaib Nusantara

Para habib (plural: habaib) turut berperan signifikan dalam proses dakwah di Indonesia sejak dahulu hingga kini. Seperti nama julukan itu, mereka pun cenderung menebarkan kasih sayang dan cinta yang dilandasi tauhid di tengah masyarakat. Tak mengherankan bila kaum Muslimin lokal pun mencintai dan menghormatinya.

Habib Jindan bin Novel membenarkan anggapan ini. Dai yang juga pimpinan Yayasan al-Fachriyah, Tangerang, Banten, itu mengatakan, kaum sayyid mulanya datang ke Nusantara baik sebagai mubaligh, pedagang, atau bahkan keduanya. Mereka berperangai luhur dan mulia, selalu menebar kasih sayang dan cinta di manapun berada.

Menukil catatan Van den Berg dalam buku Orang Arab di Nusantara, habaib dari Hadramaut mulai marak berdatangan ke Indonesia sejak akhir abad ke-18. Sembari berniaga, banyak di antaranya yang menjadi pendakwah di tengah masyarakat tempatan. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga negeri-negeri jiran, seperti Malaysia, Singapura, atau Brunei Darussalam.

“Di mana pun mereka datang, maka tempat bumi menjadi harum dengan keberadaan mereka,” ujar ulama kelahiran Sukabumi, Jawa Barat, ini dalam sebuah acara diskusi daring yang bertajuk “Menyusuri Jejak Cinta”, beberapa waktu lalu.

Prof Buya Hamka dalam berbagai karangannya juga menyatakan besarnya peran kaum habaib dalam dinamika sejarah dakwah di Nusantara. Menurut penulis buku Sejarah Umat Islam itu, keturunan Ali bin Abi Thalib ikut berkiprah dalam membesarkan Kesultanan Aceh Darussalam. Kontribusinya sangat besar khususnya dalam dunia pendidikan dan dakwah.

Dalam forum yang sama, akademisi UIN Raden Fatah Palembang Dr Muhammad Noupal menyoroti sejarah kaum habaib antara abad ke-19 dan 20, khususnya di daerah Betawi. Untuk menyebutkan beberapa di antaranya, ada Habib Utsman bin Yahya, Habib Husein al-Idrus Luar Batang, Syekh Abdurrahman al-Mashri, Syekh Salim bin Sumair, Habib Ali al-Habsyi Kwitang, Habib Ali al-Attas, serta Guru Mughni.

Habib Utsman, umpamanya, dikenal luas tidak hanya sebagai penceramah, tetapi juga penulis banyak kitab. Karya-karyanya terbit dalam bahasa Melayu maupun Arab.

Tercatat, sekitar 100 kitab telah ditulisnya. Buah tangannya dalam huruf Arab “gundul” masih bisa dijumpai di Gedung Arsip Nasional, Salemba, Jakarta Pusat. Sifat Doe Poeloeh dan Irsyadul Anam adalah dua di antara sekian banyak karangannya yang masih sering dibacakan dalam majelis-majelis taklim di Jakarta dan sekitarnya.

Adapun Guru Mughni, yang bernama asli Abdul Mughni bin Sanusi, termasuk dalam jajaran simpul jaringan ulama-ulama besar Jabodetabek. Sang alim yang pernah menuntut ilmu di Tanah Suci itu memiliki sejumlah murid yang di kemudian hari menjadi dai yang sangat dihormati di Tanah Air. Sebut saja, KH Noer Ali Bekasi atau KH Muhammad Naim Cipete.

Dr Noupal menjelaskan, antara kaum habaib dan para ulama pribumi memiliki pola yang sama dalam berdakwah. Mereka bahkan saling berbagi pengetahuan dan mendukung sehingga kian kuatlah paham ahlus sunnah waljama’ah (aswaja).

Peneliti sejarah peradaban Islam ini menambahkan, masyarakat Muslim tradisional Ibu Kota mengenal para dai yang disebut “Paku Bumi Jakarta.” Mereka semuanya adalah sayyid, yakni Habib Husein bin Abubakar Alaydrus (Habib Luar Batang), Habib Utsman bin Yahya (Mufti Betawi), dan Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang. Tokoh-tokoh ini digelari pula “Tiga Serangkai Ulama Betawi.”

Seiring bergulirnya waktu, kegiatan dakwah mereka diteruskan oleh murid-muridnya. Di antaranya dalah Guru Manshur, KH Abdullah Syafii, KH Noer Ali, KH Thohir Rohili, dan KH Mu'allim Syafii Hazdami.

Beda zaman, beda pula tantangan yang dihadapi masing-masing generasi. Dalam berdakwah, para ulama Betawi tempo dulu biasa melakukannya di majelis-majelis taklim. Semakin ke era Indonesia merdeka, metode yang ada lebih beragam dan bernuansa modern. Banyak di antaranya yang turut mendirikan pelbagai madrasah atau pondok pesantren.

Pengamat sosial dan budaya, Okky Tirto, mengingatkan bahwa peranan habaib tentunya tidak di Jawa, wabilkhusus Jakarta. Kaum ulama keturunan Nabi SAW itu juga mengadakan rihlah hingga ke Kalimantan, Sulawesi, dan bahkan kawasan Indonesia timur. Okky, yang juga cicit tokoh pers RM Tirto Adhi Soerjo, itu menyebutkan salah satu contoh. Misalnya, Habib Idrus bin Salim al-Jufri.

Dai yang akrab disapa Sayyid Idrus atau Guru Tua itu menyebarkan syiar Islam hingga akhir hayat di Sulawesi Tengah, khususnya daerah Palu dan sekitarnya. Tokoh yang wafat pada 1969 itu dihormati masyarakat lokal sebagai alim yang cinta ilmu dan dakwah. Salah satu wujud perhatiannya pada pendidikan ialah berdirinya lembaga Alkhairaat.

“Kemudian, Alkhairaat sekarang ada di mana-mana, termasuk yang ada di Jabodetabek,” ujar Okky.

Alumnus UIN Syarif Hidayatullah itu meneruskan, kalangan Alawiyyin di Indonesia timur saat itu cenderung berbeda dengan yang ada di Jawa. Dalam arti, mereka berinteraksi dan mengadopsi kebudayaan yang berlainan. Lagi pula, pada masanya pertumbuhan Islam di Palu tidak sepesat di Jawa.

“Jadi saya pikir di Indonesia timur juga cukup berpengaruh, cuma memang tidak semasif di Jawa. Karena pada saat itu kita bisa ingat bagaimana rute pelayaran zaman itu tidak seperti sekarang,” jelas dia.

Demikian gambaran dakwah habaib di Nusantara. Penjelasan singkat ini berupaya menunjukkan, kehadiran kaum alim dari golongan sayyid itu di Nusantara membawa berkah tersendiri. Tidak hanya memiliki semangat dakwah yang tinggi.

Mereka pun berupaya menghadirkan kemajuan yang signifikan di tengah masyarakat tempatnya berada. Semua itu dilakukan dengan niat penuh ikhlas, mengharapkan cinta (hubb) dari Allah Ta’ala. [yy/republika]

Oleh Muhyiddin