22 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 27 Nopember 2021

basmalah.png

Memahami Dakwah Digital

Memahami Dakwah Digital

Fiqhislam.com - Ada dua ayat yang populer terutama dikalangan para da'i atau para mubaligh. Yakni Alquran surat An Nahl ayat 125.

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk," (Alquran surat An Nahl ayat 125).

Dan surat Ali Imran ayat 104:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung." (Alquran surat Ali Imran ayat 104).

Pimpinan Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang yang juga Mustasyar PBNU, KH. Ahmad Mustofa Bisri menjelaskan lafaz ud'u dimaknai sebagai dakwah. Akan tetapi banyak orang yang tidak dapat membedakan antara dakwah dan amar makruf dan nahi munkar. Padahal menurut Gus Mus, dakwah berarti mengajak yang di dalamnya terdapat nuansa membujuk, dan terdapat kehalusan seta kelembutan. Sementara Amar Makruf dan Nahi Munkar mengandung makna perintah.

Sementara lafadz Sabili Rabbika bermakna bahwa sasaran dakwah adalah manusia yang belum berada dalam jalan Allah, di mana jalan Allah itu diartikan sebagai agama Islam. Sedang lafadz bil hikmah dimaknai sebagai Alquran, Sunnah, dan bijaksana.

Sayangnya menurut Gus Mus banyak da'i yang memiliki kapasitas dan kredibilitas serta mengerti konsep dakwah justru tidak menguasai dakwah digital. Pada sisi lain, orang-orang yang tidak memiliki kapasitas sebagai da'i atau ulama namun menguasai teknologi banyak berbicara fatwa di dunia maya. Hal ini pun menurut Gus Mus menjadi tantangan tersendiri dalam dunia dakwah di Tanah Air.

"Menjadi cobaan kita adalah orang-orang yang ahli digital, ahli IT, itu begitu tidak paham sabili rabbika. Sementara yang paham sabili rabbika banyak yang tidak paham tentang digital , tentang IT, ini menjadi cobaan bagi kita," kata Gus Mus saat menjadi narasumber dalam halaqah dakwah dan seminar nasional - Annual Meeting of Islamic Dakwah (AMID) 2021 yang diselenggarakan CariUstadz.id bekerjasama dengan Pusat Studi Alquran, secara virtual pada Sabtu (20/11)

Karena itu menurut Gus Mus ada dua jalan bagi para da'i untuk bisa mengisi ruang-ruang digital dan menyebarkan dakwah yang rahmatan lil alamin. Pertama da'i memperbaharui kemampuannya sehingga menguasai dakwah di dunia maya. Atau kedua, memaksimalkan potensi para santri sebagai dapat mendorong pengembangan dakwah da'i di dunia maya.

Lebih lanjut Gus Mus menerangkan bahwa dakwah itu mengikuti Nabi Muhammad Saw baik ucapan maupun perlakuannya. Maka seorang da'i harus sesuai antara pesan dakwah yang disampaikan kepada umat dengan perilaku kesehariannya.

"Kalau ingin menyampaikan ajaran Rasulullah untuk menuju ke Allah, ya cara dan metodenya juga harus sesuai dengan Rasulullah. Kita ketahui kanjeng Rasul dakwahnya komplit, tidak hanya dengan lisan. Prilakunya juga mengajak, bahkan kehadirannya sendiri mengajak, menarik hati. Maka kalau kita mau mengajak orang untuk sabili rabbika, yang menarik," kata Gus Mus.

Karena itu Gus Mus pun mengapresiasi platform CariUstadz.id yang memudahkan umat Muslim di Indonesia menemukan para da'i yang kompeten dan ramah.

"Saya bersyukur sekali ada program CariUstadz , itu luar biasa bagus sekali jadi orang tidak akan kebingungan. Apalagi dalam carin ustaz, riwayat dari ustaz itu disebutkan nanti kita bisa memilih," katanya. [yy/republika]