22 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 27 Nopember 2021

basmalah.png

109 Tahun Muhammadiyah: Sepak Terjang dalam Dakwah, Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar

109 Tahun Muhammadiyah: Sepak Terjang dalam Dakwah, Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar

Fiqhislam.com - Dalam panggung sejarah Indonesia, di antara peran menonjol Muhammadiyah adalah konsistensinya dalam dakwah kebaikan dan amar ma’ruf nahi mungkar. Di antara inspirasi gerakan ini adalah ayat:

وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٠٤

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran [3]: 104)

Dakwah Khair

Terkait dakwah khair (kebaikan), sejak awal sudah dicontohkan oleh KH. Ahmad Dahlan. Menariknya, dakwah ini bukan sebatas teori, tapi yang ditonjolkan adalah amal usahanya. Suatu hari, dalam kuliah Subuh, berulang kali KH. Ahmad Dahlan mengajarkan tafsir Surah Al-Ma’un. Ayat ini diulang-ulang terus tiap kajian pagi sehingga Pak Soedja’ bertanya, “Kiai! Mengapa pelajarannya tidak ditambah-tambah?”

“Apakah kamu sudah mengerti betul?” tanya KH. Ahmad Dahlan kepada muridnya itu. “Kita sudah hafal semua, Kiai.” Kemudian disambung oleh KH. Ahmad Dahlan, “Kalau sudah hafal, apa sudah kamu amalkan?” Sang murid menjawab, “Apanya yang diamalkan? Bukankah Surah Al-Ma’un pun berulangkali kami baca unuk rangkapan Al-Fatihah di kala shalat?”

Ternyata, maksud KH. Ahmad Dahlan mengulang pengajian Surah Al-Ma’un bukan sekadar dibaca, dihafal dan dipahami, tapi berikut ini jawaban beliau, “Bukan itu yang saya maksudkan. Diamalkan artinya dipraktikkan, dikerjakan. Rupanya saudara-saudara belum mengamalkannya. Oleh karena itu mulai pagi ini, saudara-saudara agar pegi berkeliling mencari seorang miskin. Kalau sudah dapat, bawa pulanglah ke rumahmu masing-masing. Berilah mereka mandi dengan sabun yang baik, berilah pakaian yang bersig, berilah makan dan minum, serta tempat tidur di rumahmu. Sekarang juga pengajian saya tutup, dan saudara melakukan petunjuk-petunjuk saya tadi.” (Solichin Salam, K.H. Ahmad Dahlan Reformer Indonesia, 1963:79).

Kisah tersebut menunjukkan betapa yang dipentingkan oleh KH. Ahmad Dahlan sejak awal adalah bagaimana ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur`an dan Sunnah itu bukan sekadar dijadikan sebagai ilmu pengetahuan tapi amal perbuatan. Ini persis gambaran sahabat Nabi ketika belajar al-Qur`an. Dalam kitab “Mabāhits fī ‘Ulūmil-Qur`ān” (2000: 6) karya Syekh Mannā’ Al-Qaṭṭān disebutkan bahwa kata Abu Abdirrahman As-Sulami para sahabat apabila belajar sepuluh ayat dari Nabi Saw, mereka enggan melewatinya atau berganti ke ayat lain, sebelum memahami dan mengamalnya. Artinya, mereka tidak akan menambah ayat sebelum bisa diamalkan. Dan inilah yang dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan sejak awal dalam menanamkan kepada santrinya yang kemudian dicontohkan dalam amal usaha Muhammadiyah.

Tidak mengherankan jika sejak awal KH. Ahmad Dahlan, selain mengajak umat pada waktu itu untuk kembali kepada Islam yang murni, juga yang tak kalah penting membuat mereka peduli kepada kepentingan sosial umat Islam. Maka di kemudian hari tidak mengherankan jika dari rahim Muhammadiyah lahir banyak lembaga pendidikan, rumah sakit, koperasi dan lain sebagainya yang merupakan amal dakwah konkret yang secara konsisten dijalankan Muhammadiyah hingga saat ini.

Pada tahun 1925, Muhammadiyah sudah memiliki 29 cabang dengan 4.000 anggota. Pada tahun itu juga, sudah memiliki 8 Holland Indlandse School, 1 Sekolah Guru di Yogyakarta, 32 Sekolah Dasar 5 tahun, 1 Shcakelschool. 14 madrasah dengan 119 guru dan 4.000 murid, 2 klinik di Yogyakarta dan Surabaya dengan daya tampung 12.000 pasien, satu rumah miskin dan 2 rumah yatim piatu.

Perhatikan, menurut data tahun 1985 saja, lembaga pendidikan yang didirikan Muhammadiyah sudah mencapai 12.400 di seluruh Tanah Air. Dari TK hingga SLTA. Bahkan, sampai tahun 1990, Perguruan Tinggi Muhammadiyah sudah sebanyak 78 buah. (Arif Munandar Riswanto: 2010) Bagaiamana dengan sekarang? Jelasnya semakin berkembang dan semakin banyak. Dari amal usaha ini, tidak mengherankan jika banyak tokoh yang berjasa besar untuk agama, bangsa dan negara seperti: Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, Kahar Mudzakkir, Prof. Rasjidi, dan lain sebagainya yang perannya sangat besar di Indonesia.

Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Di bidang amar ma’ruf nahi mungkar pun dalam panggung sejarah Indonesia, Muhammadiyah juga istiqamah. Dalam buku “Makin Lama Makin Tjinta Setengah Abad Muhammadiyah” (1962: 111), saat membahas tentang Kepribadian Muhammadiyah disebutkan bahwa sejak awal Muhammadiyah merupakan gerakan Islam. Maksudnya ialah gerakan dakwah Islam dan amar ma’ruf nahi mungkar.

Terkait konsistensi dalam bidang ini, dalam buku “1 Abad Muhammadiyah, Istiqamah Membendung Kristenisasi & Liberalisasi” (2010) disebutkan bahwa: “Sejak awal, Muhammadiyah bukan hanya peduli pada soal takhayul, bid’ah dan khurafat, tetapi juga sadar akan tantangan Kristenisasi dan liberalisasi yang diusung oleh Freemason. Kelompok terakhir ini terkenal dengan jargonnya: liberty, egality, dan fraternity. Freemason mulai beroperasi di Indonesia tahun 1764 dan dibubarkan oleh Bung Karno pada tahun 1961. Organisasi inilah yang rajin menggelorakan semangat dan slogan “Freedom” (kebebasan) di berbagai penjuru dunia.”

Selain itu yang tak kalah penting, “Sejak awal pendiriannya, Muhammadiyah sadar benar akan tantangan semacam itu. Maka, hingga saat ini, dengan keyakinan yang kuat itulah, warga Muhammadiyah – melalui Anggaran Dasar (AD) Muhammadiyah, menyatakan, bahwa “Muhammadiyah berasas Islam” (pasal 4). Sedangkan tujuan organisasi atau persyarikatan Muhammadiyah adalah tegas dan lugas: “Maksud dan tujuan Muhammadiyah ialah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.” (pasal 6).”

Hal lain yang tak kalah penting, dalam catatan Solichin Salam (1963) di antara sebab berdirinya Muhammadiyah adalah tantangan yang mengancam eksistensi umat Islam berupa zending dan missi Kristen di Indonesia. Maka tidak mengherankan jika di antara amal usaha Muhammadiyah yang menonjol adalah pendidikan, kesehatan dan sosial. Karena pada waktu itu, kristenisasi juga bergerak di ranah itu. Kegiatan Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah-nya bisa dikatakan sebagai solusi di tengah maraknya kristenisasi sejak zaman kolonial.

Senada dengan Solichin, daalam buku “Membendung Arus” Dr. Alwi Shihab mencatat bahwa salah satu faktor penting yang memicu KH. Ahmad Dahlan mendirikan lembaga Muhammadiyah adalah kuatnya penetrasi Kristenisasi dan pembentukan Freemasonry yang berkolaborasi dengan pemerintah kolonial Belanda.

Semua itu secara konkret dicontohkan langsung oleh KH. Ahmad Dahlan. Dalam buku “Muhammadiyah Setengah Abad” (1962) juga disebutkan bahwa dalam kegiatan untuk membela Islam, KH. Ahmad Dahlan sering melakukan tukar pikiran dengan para pemuka Kristen, misalnya Pastur van Lith, van Driesse, Domine Bakker, Dr. Laberton, dan masih banyak yang lainnya.

Alkisah, suatu hari ada Pastur Dr. Zwemmer yang di dalam khutbahnya sering menghina Islam. Akhirnya pastur itu diundang untuk berdialog di pengajian Muhammadiyah yang diadakan oleh KH. Ahmad Dahlan. Sayangnya ia tak berani datang.

Akibatnya, pamor pastur itu redup. Bahkan Ki Hajar Dewantoro dalam Surat Kabar Darmo Kondo menyatakan, “Pastoor Dr. Zwemer tidak mampu menghadapi K.H. Ahmad Dachlan.” Bahkan suatu hari ada pendeta bernama Dr. Laberton ditantang saat bertukar fikiran kalau yang benar adalah agama Kristen maka KH. Ahmad Dahlan akan masuk Kristen, jika sebaliknya, maka dia harus masuk Islam. Ternyata Dr. Laberton kalah dan tak mampu mempertahankan kebenaran agamanya. Ketika kalah, di tetap tidak mau masuk Islam.

Semua kisah ini menunjukkan betapa sejak awal, Muhammadiyah, sebagaimana yang dicontohkan oleh KH. Ahmad Dahlan, bukan saja peduli terhadap permunian ajaran Islam dari syirik, takhayul, bid’ah dan semacamnya, tapi juga peduli terhadap tantangan kristenisasi, kolonialisme dan lain sebagainya dalam bingka amar ma’ruf dan nahi mungkar. Kelak di antara tokoh Muhammadiyah yang konsen dalam masalah ini seperti KH. Abdullah Wasi’an, sang kristolog Muhammadiyah yang sangat disegani.

Semoga di usia yang 109 tahun ini, Muhammadiyah dengan segenap aset SDM dan lembaganya, bisa tetap istiqamah dalam dakwah khair, serta amar ma’ruf dan nahi mungkar. Tidak ada kata berhenti, apapun halangannya. Sebagaimana KH. Ahmad Dahlan yang suatu ketika oleh muridnya dibujuk istirahat waktu sakit lumayan parah. Kata beliau, “Saya mesti bekerja keras untuk meletakkan batu yang pertama dari pada amal yang besar ini. Kalau saya lambatkan dan saya hentikan karena sakitku ini, tidak ada orang yang sanggup meletakkan dasar itu.” (Hamka, Orang-orang Besar Islam: KH. A. Dahlan, 1952: 15). [yy/hidayatullah]

Mahmud Budi Setiawan