22 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 27 Nopember 2021

basmalah.png

Nasib Lucuan: Dari Bagito-Gus Dur, McDanny-Habib Rizieq

Nasib Lucuan: Dari Bagito-Gus Dur, McDanny-Habib Rizieq

Fiqhislam.com - Belakangan ribut soal candaan atau humor komedian Dani Jaya Wardhana yang populer dipanggil McDanny yang memaki Habib Rizieq. Apa yang jadi bahan candaanya pun viral. Warganet melalui media sosial marah. Akibatnya, akun instagram banjir tudingan balik. Tak tahan diserbu kemarahan, Dani pun menggembok akunnya itu.

Tak berselang lama, Dani yang memaki Habib Rizieq Shihab (HRS) dengan sebutan fuck (sialan) dalam video yang viral, pun kemudan muncul ke publik. Dia meminta maaf kepada Habib Riziek dan keluarganya serta umat Islam pencinta habib.

McDanny mengaku kala khilaf ketika tengah bercanda dalam sebuah penampilan di panggung yang diiringgi disc jockey (DJ) perempuan. Dia mengaku saat melakukan itu dirinya berada di bawah pengaruh minuman alkohol.

"Saya meminta maaf sebesar-besarnya saya lupa diri terlalu euforia di panggung, maafkan saya," ujar pemeran film Bisikan Arwah Mantan tersebut.

McDanny pun berulang-ulang mengucapkan kata permintaan maaf atas kelakuannya, yang dianggap tidak pantas. Dia ingin mengucapkan maaf sebesar-besarnya kepada seluruh umat Muslim, ormas Islam, terutama kepada para ulama, habaib, dan keluarga besar HRS.

Hal yang sama juga pernah terjadi pada diri komedian kondang Dedi 'Miiing' Gumelar. Di masa awal reformasi, ketika KH Abdurrahman Wahid menjadi presiden dia bertingkah memparodikan kekurangan Gus Dur yang mempunyai kendala penglihatan dan harus berjalan sedikit susah dengan memaki tongkat.

Maka, Mi'ing dengan gagah berani memparodikan atau menghumorkan tampilan Gus Dur sebagai bahan 'lucuan' di acara komedi televisi 'Bagito Show' yang kala itu tengah berada dalam posisis puncak. Mi'ing memerankan seorang tokoh yang berkacata mata hitam yang berjalan dengan tongkat serta berkata sedikit gemetar.

Maka publik pun geger. Apa yang Mi'ing lakukan saat itu memang harus diakui itu tampak dan terasa bila asosiasinya 'mengolok' sang presiden. Alhasil, munculah serangan balik ke Mi'ing. Warga Nahdliyin --khususnya anak mudanya Ansor marah besar.

Tak beda dengan Dani, Mi'ing pun segera minta maaf. Dia mengaku khilaf. Dan entah terkait peristiwa itu atau tidak, tak lama kemudian rating 'acara Bagito Show' anjlok. Tayangan 'Bagito Show' tak lama kemudian menghilang dari layar televisi.

Mengaca kepada dua kasus itu, maka sesuai dengan pernyataan pakar humor dan kelirumologi Jaya Suprana ada nasihat jenius bila: "Humor itu serius. Serius itu humor."

"Ketika saya kembali ke Tanah Air Udara tercinta (pulang sekolah di Jerman), syukur alhamdullilah kesimpulan bahwa humor itu serius dibenarkan oleh seorang pakar lucuan Indonesia: Arwah Setiawan. Saya terkesima,'' kata Jaya Suprana dalam sebuah percakapan.

Uniknya, Jaya Suprana mengatakan pihak lain pun sebenarnya bersikap banyak membuat 'lucuan' seperti para komedian."Setelah mengamati sepak terjang para politisi di panggung politik Indonesia juga sama saja. Bahkan, saya dapat memetik kesimpulan bahwa 'serius' merupakan unsur penting di panggung politik.

"Misalnya serius dalam mengobral janji manis pada masa kampanye pemilu, yang kemudian pada masa pasca pemilu di mana sang pengobral janji yang sudah berhasil duduk di tahta kekuasaan, bersikap serius dalam konsekuen dan konsisten ingkar janji yang diobral pada masa kampanye pemilu,'' kata Jaya Suprana.

Alhasil, jangan anggap enteng lucuan atau humor. Mengapa? Ini karena perkara yang serius dan terkait dengan soal tinggi rendahannya kemampun berlogika seseorang. Bahkan kini dipercaya mereka yang punya selera humor itu sosok orang lebih pintar dari rata-rata manusia.

Maka sebelum meminta maaf atas keceplosan karena mulut usil buat lucuan: Waspadalah..! Ini penting sebab ada ujaran humor yang tak kalah serius juga: 'tertawalah sebelum tertawa dilarang!" [yy/republika]

Oleh Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika