22 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 27 Nopember 2021

basmalah.png

MUI: 300 Dai Ditargetkan Terstandardisasi Tahun Ini

MUI: 300 Dai Ditargetkan Terstandardisasi Tahun Ini

Fiqhislam.com - Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) terus melanjutkan program standardisasi dai. Hal ini sebagai upaya MUI untuk memenuhi target 300 dai yang terstandardisasi tahun ini.

Ketua Komisi Dakwah MUI KH Ahmad Zubaidi mengatakan, program standardisasi dai MUI angkatan kelima telah dimulai pada Senin (11/10) lalu. Melalui program ini, MUI ingin memberikan kemudahan bagi para penyelenggara dakwah dalam merekrut narasumber.

"Sebab belakangan ini ada kegamangan dari penyelenggara dakwah baik yang formal maupun informal dalam mencari dai," kata Kiai Zubaidi kepada Republika, Selasa (12/10).

Ia menjelaskan, mereka gamang karena khawatir dai yang dipilih tidak memiliki kompetensi yang diharapkan. Maka, dengan standardisasi dai yang diselenggarakan MUI ini, para alumninya memiliki jaminan bahwa mereka memiliki standar kompetensi sebagai dai.

Ia menerangkan, standar yang dimaksud di sini adalah kompetensi konten keislaman dan isu-isu Islam kontemporer serta moderasi atau wasathiyah dalam pemahaman Islam dan paham kebangsaannya. Menurut dia, kompetensi kebangsaan sangat penting bagi para dai alumni program standardisasi dai MUI. Sebab, MUI telah memutuskan bahwa NKRI dengan Pancasila sebagai dasar negara sudah final.

"Maka, para dai pun diharapkan menyampaikan apa yang telah menjadi keputusan MUI ini," ujar Kiai Zubaidi.

Sementara, Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah KH Muhammad Cholil Nafis mengatakan, program standardisasi dai ini mempunyai dua tujuan utama, yakni taswiyatul afkar dan tansiqul harakah.

"Pertama, taswiyatul afkar atau menyatukan persepsi. Peran organisasi sebagai wasilah atau alat, bukan merupakan tujuan. Karena Islam adalah pegangan kita bersama," kata Kiai Cholil melalui pesan tertulis.

Kedua, tansiqul harakah atau mengharmonikan langkah. Setiap dai, menurut dia, memiliki warna dan metode masing-masing ataupun cara penyampaian yang khas. Keragaman tersebut bisa menjadi potensi besar untuk menguatkan dunia dakwah.

Kiai Cholil berharap, dengan tujuan taswiyatul afkar dan tansiqul harakah, ragam warna yang dimiliki oleh para dai dapat berpadu menjadi instrumen yang indah. Dengan demikian, ketika para dai terjun ke masyarakat, tidak ada saling serang antardai, tetapi saling berbagi peran, saling melengkapi, dan mengisi khazanah dunia dakwah.

"Standardisasi yang diselenggarakan ini berarti bergabungnya para dai dalam payung besar MUI sebagai khadimul ummah dan shadiqul hukumah, bukan perpanjangan pemerintah. Jadi, kita berhak juga mengoreksi. Itu adalah posisi MUI, termasuk peran dai yang perlu melakukan ini," ujarnya. [yy/republika]