15 Safar 1443  |  Kamis 23 September 2021

basmalah.png

Mengapa Milenial Menyukai Ustaz yang Melek Digital?

Mengapa Milenial Menyukai Ustaz yang Melek Digital?

Fiqhislam.com - Dinamika pemikiran kaum muda Muslim yang tergambarkan pada sejumlah penelitian menunjukkan adanya proses pencarian identitas di kalangan generasi milenial yang belum selesai. Atau bahkan baru memasuki proses awal pencarian identitas. Pencarian identitas itulah yang berkontribusi pada maraknya geliat mendalami agama.

Periode pada proses pencarian identitas itu sejatinya pembentukan karakter awal berdasarkan pengetahuan awal yang belum begitu mendalam. Chaider Bamualim Dkk dalam buku Kaum Muda Muslim Milenial: Konservatisme, Hibridasi Identitas, dan Tantangan Radikalisme menjelaskan alasan mengapa kaum milenial menggemari ustadz yang melek digital.

Dijelaskan bahwa generasi milenial yang mengakrabi teknologi digital telah menjadikan media sosial dan sumber-sumber informasi daring sebagai salah satu media pembelajaran, termasuk dalam mempelajari Islam.

Bila dulu para ulama membaca buku dan menuliskan pemahaman mereka secara mendalam dan sistematis untuk membahas persoalan yang membuat pandangan mereka dianggap otoritatif, kini otoritas itu setidaknya yang dipersepsikan kalangan milenial diperoleh dari sumber-sumber digital.

Ketokohan seorang pemuka agama bagi generasi milenial ditentukan oleh popularitasnya dan frekuensi kemunculannya di media-media massa, terutama media elektronik. TV dan internet menjadi rujukan yang banyak kalangan muda akses dalam mendapatkan informasi tokoh yang mereka idolakan.

Namun demikian, meski mendapatkan akses informasi mengenai informasi tokoh yang diidolakan, dalam penelitian yang diadakan oleh Chaider Bamualim Dkk dijelaskan, para informan mengenal para ustadz tersebut hanya melalui media digital. Mayoritas mereka tidak mengenalnya secara langsung, datang secara offline ke dalam pengajiannya, apalagi membaca buku-buku karya ustadz tersebut.

Hal ini berbanding terbalik dengan popularitas ustadz lokal di kalangan milenial. Di sejumlah daerah dengan karakter Islam yang kental, misalnya Aceh, nampaknya tidak terlepas dari fenomena serupa. Hasil penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dalam buku ini menyebutkan ustadz popular yang viral dan dikenal kaum muda Aceh masih sama.

Tidak banyak saat ini tokoh-tokoh keagamaan lokal yang disebut oleh kaum muda Muslim di Aceh dan kemudian mereka idolakan. Di Manado, sebagaimana hasil penelitian menyebutkan, temuan yang sama juga mewarnai penelitian atas fenomena tersebut.

Pengaruh paham keagamaan dari media sosial lebih tampak dari figur penceramah yang sering diakses oleh para informan. Beberapa nama penceramah, khususnya di Youtube, yang kerap disebut para informan antara lain Hanan Attaki, Khalid Basalamah, Ustadz Adi Hidayat, Felix Siauw, Ustadz Abdul Somad, Syekh Aidh Al-Qarni, Zakir Naik, Ustadz Arifin Ilham, Habib Rizieq Syihab, Muzammil, Ustadz Jefri Al-Bukhari, hingga Aa Gym.

Untuk penceramah perempuan, dikenal nama-nama yang disebutkan informan antara lain Okky Setyana Dewi, Mamah Dedeh, Dian Irawati, hingga Ummi Pipik. Beberapa alasan mencuat atas pilihan-pilihan tersebut, yakni dianggap lebih menarik dalam hal penyampaian materi, tafsir, dan dalil-dalil yang disampaikan mudah dimengerti, jelas, dan tidak terlalu rumit serta cukup menghibur.

Selain itu, materi yang banyak diakses adalah seputar persoalan anak muda, pacaran, motivasi, pernikahan muda, dan ukhuwah Islamiyah. Beberapa informan tahu atau pernah menonton tayangan ceramah Habib Rizieq dari FPI, namun mereka mengaku kurang tertarik dengan penceramah ini karena dianggap terlalu keras. Sedangkan khusus terhadap penceramah Felix Siauw, beberapa informan dari kalangan rohis merasa tertarik dengan materi ceramahnya mengenai kisah dan alasan, motivasi serta keputusan Felix menjadi mualaf. [yy/republika]