15 Safar 1443  |  Kamis 23 September 2021

basmalah.png

Tokoh Agama: Jaga Diri dan Orang Lain Termasuk Jihad

Tokoh Agama: Jaga Diri dan Orang Lain Termasuk Jihad

Fiqhislam.com - Di tengah lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia, banyak oknum yang masih menyebarkan informasi hoaks. Sekretaris Umum Muhammadiyah Abdul Mu’ti menyayangkan hal tersebut. Apalagi saat ini, sudah banyak orang yang sakit dan meninggal akibat Covid-19.

“Sayang sekali pada saat jutaan orang menderita sakit dan meninggal akibat Covid-19, masih ada pihak yang membuat dan menyebarkan berita sampah yang tidak bermanfaat,” kata Abdul kepada Republika.co.id, Selasa (13/7).

Dia meminta agar semua pihak hendaknya saling bekerja sama dalam mengatasi dan melawan pandemi Covid-19 sehingga dampak yang ditimbulkan bisa diatasi. Dalam hal ini, pemerintah dinilai untuk bersikap tegas melawan segala macam disinformasi soal Covid-19 dan vaksin.

“Pemerintah punya otoritas untuk menegakkan hukum terhadap individu atau web yang memecah belah, menghasut, menyebarkan kebencian, menghina, dan bentuk perbuatan melanggar hukum lainnya,” ujar dia.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum PP Persatuan Islam (PERSIS), Ustadz Jeje Zaenudin mengimbau agar masyarakat tidak terpengaruh dengan isu-isu yang simpang siur. Terlebih, itu bisa memecah belah masyarakat.

“Pandemi Covid-19 ini fakta. Fakta orang sakit dan meninggal sudah banyak dan bukan hanya di negara kita tapi di negara lain,” kata dia.

Dia menjelaskan ajal usia dan kematian adalah takdir yang dirahasiakan Allah dan manusia tidak bisa menolaknya. Kewajiban manusia adalah mengimani dan mempersiapkan segala perbekalannya.

“Sakit merupakan salah satu di antara wasilah yang menyampaikan kepada ajal usia atau kematian seseorang. Menyepelekan ikhtiar berobat dan menjauhi penyakit dengan argumen kematian adalah takdir yang tidak bisa ditolak merupakan paham jabariyah yang menyesatkan,” jelas dia.

Dia menggarisbawahi berobat dari suatu penyakit dan menghindarkan diri dari segala macam penyakit bukan bentuk untuk menolak kematian melainkan ikhtiar untuk menjaga kesehatan sebagaimana yang telah diwajibkan agama.

Ajaran Islam mengharamkan perbuatan dan tindakan menzalimi maupun dizalimi. Menyebabkan orang lain menjadi sakit, menderita, dan celaka akibat kecerobohan dan ketidakpedulian atas nasib orang lain termasuk sikap zalim pada sesama.

Selain itu, membiarkan diri menjadi sakit atau celaka akibat kecerobohan dan ketidakpedulian terhadap diri sendiri dan orang lain juga merupakan sikap kezaliman.

Oleh karena itu, di tengah kondisi kritis ini, Ustadz Jeje mengajak masyarakat untuk saling menjaga keselamatan jiwa, keluarga, harta benda, umat dan negara. Tindakan ini merupakan jihad fi sabilillah.

“Jangan lemah dan lengah. Tetap semangat dan antusias jaga iman, imun dan aman. Jangan terprovokasi untuk ikut-ikutan melanggar karena iri melihat pihak lain melanggar,” tambahnya. [yy/ihram]