pustaka.png.orig
basmalah.png.orig


12 Dzulqa'dah 1442  |  Selasa 22 Juni 2021

Bolehkah Ngaji dari Internet?, Begini Kata Ustaz Ahmad Sarwat

Bolehkah Ngaji dari Internet?, Begini Kata Ustaz Ahmad Sarwat

Fiqhislam.com - Kemajuan teknologi zaman ini telah mengubah gaya hidup manusia tak terkecuali bagi para penuntut ilmu. Internet menjadi hal yang sangat penting sehingga tak sedikit orang bergantung kepadanya.

"Jangan ngaji dari internet". "Ngaji kok sama Mbah Google"!Ungkapan-ungkapan seperti ini sering kita dengar sebagai nasihat dalam belajar agama.

Mari kita simak pesan Ustaz Ahmad Sarwat Lc MA (pengasuh Rumah Fiqih Indonesia) terkait fenomena ini. Beliau menuliskan catatan ini lewat media sosialnya.

"Para kiyai dan guru serta para ulama sering kali melarang kita belejar agama lewat internet. Termasuk guru saya almarhum KH Ali Musthafa Ya'qub. Di ruang kuliah beliau kerap mengomeli kita mahasiswanya: Ngaji kok sama Mbah Google?" cerita Ustaz Ahmad Sarwat.

Sebenarnya, kata Ustaz Sarwat, larangan untuk tidak belajar agama lewat internet tidak mutlak juga. Ya pilih-pilih juga siapa nara sumbernya.

Kalau yang ceramah sekelas Syeikh Dr Ali Juma'ah, Grand Syeikh Dr Ahmad Thayyib, Dr Wahbah Az,-Zuhaili, Dr Said Ramadhan Al-Buthi, Syeikh Dr Hasan Hitou, tentu jadi lain ceritanya. Sebab mereka termasuk ulama rujukan umat yang memang pakar di bidangnya.

Jadi, bukan tidak boleh mengaji via internet, tapi yang tidak boleh itu kalau yang bikin konten bukan pakar di bidangnya. Seperti pendeta mualaf yang bicara fiqih. Artis insaf nyalah-nyalahin ulama. Motivator sok kritik aqidah. Penyanyi rohani mempermasalahkan bid'ah. Pesinetron ngeributin Sunnah.

Padahal tak satu mereka yang pernah belajar ilmu agama lewat jalur yang serius. Cuma dari gaul doang, hasil cerita dan ngobrol-ngobrol agama. Tidak pakai kitab dan tanpa guru resmi berstatus ulama ahli di bidang salah satu cabang displin ilmu agama.

"Kalau ditracing satu per satu riwayat pendidikan agamanya, pasti parah banget," kata Pendakwah asal Jakarta ini.

Yang langsung gampang terdeteksi itu masalah penguasaan ilmu alat, seperti Nahwu Sharaf. Kasih satu baris ayat Qur'an dan suruh mereka meng-i'rab kata per kata. Pasti langsung panas dingin, gemeteran dan pucat pasi wajahnya.

Jadi yang dibilang jangan ngaji dri internet itu maksudnya kalau yang jadi narasumbernya tokoh-tokoh yang bukan ahli di salah satu disiplin ilmu agama. Sayangnya,justru yang model begini yang mendominasi konten-konten keagamaan di media sosial. Sehingga kesannya, internet itu isinya sampah.

"Sayangnya lagi, para ulama yang betulan punya ilmu masih malu-malu untuk bikin konten di media sosial. Ini bahasa halus saya saja. Sebenarnya saya ingin bilang bahwa mereka itu kalah strategi dan kecolongan, tapi belagak tidak tahu dan pasrah, tidak mau usaha. Tidak merasa geram dengan maraknya kejahilan di depan mata," kata Dai lulusan Universitas Islam Imam Muhammad Ibnu Suud LIPIA, Fakultas Syariah Jurusan Perbandingan Mazhab.

Menurut Ustaz Ahmad Sarwat, jihad ilmu di media sosial adalah medan perang kita yang nyata dan sesungguhnya. Dan namanya jihad, pasti butuh biaya. Minimal buat kuota, kamera dan printilannya.

Kalau dalam ayat zakat disebutkan bahwa Fii Sabilillah itu salah satu Asnaf penerima zakat, maka alokasi beli peralatan 'perang cyber' nampaknya perlu dipikirkan matang-matang.

"Tapi perang cyber yang saya maksud bukan jadi buzzer yang ngeributin urusan politik. Perang cybernya adalah dengan membanjiri medsos dengan ilmu-ilmu keislaman yang original.Dan yang bisa melakukannya hanya para ulama yang berkompeten di bidangnya," tutupnya. Wallahu A'lam. [yy/sindonews]