19 Dzulhijjah 1442  |  Kamis 29 Juli 2021

basmalah.png

MUI: Masjid Harus Jadi Pusat Ekonomi

MUI: Masjid Harus Jadi Pusat Ekonomi

Fiqhislam.com - Ormas-ormas Islam dan pengusaha dinilai memiliki peran penting untuk melahirkan masjid-masjid yang menjadi pusat ekonomi. Untuk itu, ormas Islam perlu diisi oleh lebih banyak pengusaha, dan pengusaha menjadi bagian dari pengurus masjid.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Anwar Abbas mengatakan, ada hadis dari sisi sanadnya agak lemah tapi dari sisi matannya kuat sekali. Hadis tersebut menyampaikan, barang siapa menghendaki dunia ada ilmunya. Artinya, barang siapa yang menghendaki masjid sebagai pusat ekonomi, maka harus ada ilmunya.

"Pertanyaannya adalah pengurus masjid ini ada ilmunya atau tidak (ilmu ekonomi)," kata Buya Anwar saat silaturahim bersama jajaran pimpinan MUI ke kantor Republika, Kamis (22/4).

Menurut dia, agar pengurus masjid memiliki ilmu ekonomi, maka perlu pelatihan dan pendampingan. Untuk itu, hal pertama yang perlu dilakukan yaitu menyebarkan pesan-pesan dan gagasan-gagasan ekonomi dan kewirausahaan. Dengan begitu, kesadaran berwirausaha dari para pengurus masjid timbul.

Sehubungan dengan itu, Buya Anwar mengatakan, perlu ada contoh kisah-kisah masjid yang sukses mengembangkan bisnis diangkat oleh media massa. Begitu para pengurus masjid termotivasi, maka tinggal diberi pelatihan dan pendampingan.

Menurut dia, pemberian pelatihan dan pendampingan bisa dilakukan, meski tanpa intervensi dari pemerintah. Di sinilah, peran ormas-ormas Islam menjadi penting. Sayangnya, keanggotaan ormas-ormas Islam kebanyakan diisi oleh orang-orang yang tidak memiliki mental wirausaha.

"Karena orang-orang yang memiliki mental entrepreneurship ini tidak tertarik dengan ormas-ormas, bisa tidak kita konversi supaya pengusaha-pengusaha ini tertarik untuk aktif di ormas-ormas Islam ini," ujarnya.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini mengatakan, pengusaha-pengusaha ini nantinya bisa menggerakan ormas menjadi sebuah jaringan bisnis. Dia optimistis, jika hal itu terjadi, maka hasilnya akan dahsyat.

Buya Anwar mengatakan, sayangnya pengurus masjid biasanya diisi oleh karyawan yang tidak punya mental wirausaha. Alhasil, apabila masjid mendapatkan uang, maka uangnya tidak dikelola secara profesional. Padahal, menurut dia, apabila uang yang terkumpul di masjid dipergunakan untuk bekerja sama dengan usaha ultra mikro dan mikro, maka jumlahnya bisa bertambah. Meski tidak mengambil keuntungan terlalu besar, namun jumlah kerja samanya banyak, hasilnya akan tetap ada.

Buya Anwar menyebut, salah satu cara agar tercipta ekonomi berbasis masjid yaitu adanya kolaborasi antara pengusaha dan ormas Islam. Tujuannya, untuk mengintervensi pengurus masjid agar bisa menjadikan masjid sebagai pusat ekonomi.

"Menurut saya, pengusaha dimasukan ke dalam jajaran pengurus (masjid), kalau bisa dari 15 pengurus (masjid), tiga orangnya entrepreneur,” ujarnya.

Masjid tanggap bencana

Di Yogyakarta, Masjid Jogokariyan baru saja menerima hibah dua unit mobil bersih-bersih masjid gratis dari Yayasan Haji Anif Medan. Penyerahan ini sekaligus menandai dilaksanakannya program bersih-bersih masjid gratis yang dijalankan Masjid Jogokariyan di DIY.

Ketua Dewan Syuro Takmir Masjid Jogokariyan, Ustaz Muhammad Jazir, mengatakan, hibah termasuk alat-alat pembersih seperti genset, vakum, penyemprot air, sapu, pel dan lain-lain. Program diterapkan dengan konsep satu hari satu masjid sepanjang tahun di seluruh DIY.

“Jadi, satu mobil diisi kru empat orang datang membersihkan masjid dari kamar mandi, tempat wudhu, karpet dan lain-lain,” kata Jazir kepada Republika.

Dia mengatakan, untuk target yang akan dibersihkan sudah didata masjid-masjid yang menjadi prioritas karena kurang mendapat perawatan. Namun, masjid-masjid lain tetap bisa mendaftarkan untuk dibersihkan melalui nomor yang tercantum di mobil bersih-bersih.

Masjid Jogokariyan turut membuka kesempatan pihak-pihak lain yang ingin ikut serta berdonasi untuk program bersih-bersih masjid tersebut. Jazir mengatakan, Yayasan Haji Anif berencana menghibahkan lima unit mobil until bersih-bersih masjid. Namun dia berharap, donasi lain bisa berupa unit-unit mobil untuk tanggap darurat karena Masjid Jogokariyan banyak melaksanakan penanganan bencana.

“Karena Masjid Jogokariyan sejak 2004 sudah mencanangkan sebagai Masjid Tanggap Bencana,” ujar Jazir.

Untuk bersih-bersih masjid, Jazir berharap, Masjid Jogokariyan bisa memberikan inspirasi agar masjid-masjid senantiasa diperhatikan kebersihannya. Apalagi, di DIY saja ada seminar 6.559 masjid dan di Kota Yogyakarta saja ada 438 masjid yang harus dijaga kebersihannya.

“Semoga bisa menginspirasi warga setempat dari masjid-masjid agar rutin membersihkan masjidnya,” kata Jazir. [yy/republika]