fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


30 Sya'ban 1442  |  Senin 12 April 2021

Masjid Syekh Zayed Solo Hibah dari UEA Mulai Dibangun

Masjid Syekh Zayed Solo Hibah dari UEA Mulai Dibangun

Fiqhislam.com - Replika Masjid Sheikh Zayed (Grand Mosque) Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), di Kota Solo mulai dibangun pada Sabtu (6/3). Peletakan batu pertama (ground breaking) dilaksanakan oleh Menteri Energi dan Infrastruktur UEA Suhail Mohammed Al Mazroui, Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumar, Kepala Otoritas Umum Urusan Islam dan Wakaf UEA Muhammed Matar Al Kaabi, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) RI Erick Thohir, Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, serta perwakilan dari UEA Abdulla Salem Al Dhaheri dan Rashid Obaid Al Dhaheri.

Masjid Raya Sheikh Zayed Solo dibangun di lahan bekas depo Pertamina di daerah Gilingan, Kecamatan Banjarsari, seluas 2,9 hektare. Pembangunan masjid tersebut merupakan hibah dari Putra Mahkota UEA Mohammed bin Zayed Al Nahyan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pembangunan masjid tersebut diperkirakan membutuhkan anggaran senilai Rp 5,7 triliun yang semuanya berasal dari pemerintah UEA. Desain masjid bakal dibuat semirip mungkin dengan Grand Mosque UEA.

Menteri Energi dan Industri UEA, Suhail Mohammed Al Mazroui, mengucapkan selamat kepada Bangsa Indonesia atas dimulainya pembangunan Masjid Sheikh Zayed. Pembangunan masjid tersebut merupakan simbol kerja sama dan persahabatan kedua negara khususnya di bidnag keislaman.

Masjid itu dinamakan Sheikh Zayed karena tokoh tersebut sangat berharga bagi Pemerintah UEA karena sebagai pendiri negara UEA, serta simbol bagi masyarakat UEA dalam toleransi kehidupan beragama.

"Kami berusaha agar masjid ini mendekati sama persis dengan masjid yang ada di Abu Dhabi. Masjid itu merupakan simbol dari arsitektur yang begitu istimewa, bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi destinasi wisata," kata Menteri Suhail di acara tersebut.

Suhail berharap masjid yang dibangun di Solo ini bukan hanya mencerminkan ketinggian dari arsitektur bangunan tetapi juga bisa menjadi sumber wisata religi yang membanggakan, sehingga menarik banyak wisatawan.

Menteri Suhail menambahkan, pemerintah UEA sangat bangga dengan Bangsa Indonesia. Dia juga optimistis dengan kepemimpinan Presiden Jokowi, Indonesia dapat menjada bangsa yang kompetitif di bidang ekonomi dan ilmu pengetahuan.

"Saya melihat Indonesia bukan hanya sebagai negara muslim terbesar tapi juga negara Islam terbesar dari segi perekonomian. Kami berharap Indonesia dapat menjadi model bagi dunia Islam secara umum. Saya berharap Indonesia dapat menjadi model kehidupan moderat dan moderasi simbol menuju kesejahteraan dan bagaimana menciptakan lapangan kerja," paparnya.

Menteri Suhail menyatakan, para pemimpin di UEA sangat menghormati Indonesia dan pemimpinnya. Dia menyebut, di UEA ada jalan dan masjid yang dinamakan Joko Widodo.

"Saya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kota Solo dan para menteri yang telah membantu memudahkan proses pembangunan masjid ini, dan kita berdoa semoga diberikan kemudahan dalam segala sesuatu," pungkasnya.

Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, menyatakan, dengan pembangunan masjid tersebut maka hubungan baik antara Indonesia dan UEA akan terjaga dengan baik. Masjid Sheikh Zayed tersebut bakal menjadi pusat kegiatan pendidikan Islam di Solo. "Semoga pembangunan masjid Sheikh Zayed dapat berjalan lancar dan dapat meningkatkan derajat keimanan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa," ucap Gibran.

Sementara itu, Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumar, mengatakan, Masjid Raya Sheikh Zayid Solo akan didedikasikan kepada seluruh umat Islam dan dikelola Pemerintah RI. Saya berharap pembangunan masjid tersebut berjalan lancar dan membawa manfaat besar bagi masyarakat Solo, Jateng dan Indonesia pada umumnya.

"Masjid ini merupakan monumen persahabatan kedua negara. Masjid ini akan menjadi salah satu mercusuar syiar Islam di nusantara dan simbol moderasi umat beragama," jelas Menteri Yaqut.

Masjid yang dibangun dengan hibah penuh tersebut nantinya bukan hanya menjadi tempat sholat berjamaah tetapi berfungsi sebagai tempat kegiatan dakwah, sosial, pusat kegiatan umat dan destinasi religi.

Menurut Yaqut, UEA merupakan negara di Timur Tengah yang sangat terkenal dengan toleransinya. Hal itu diharapkan menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia untuk mengembalikan toleransi yang dimiliki. "Kita akan bersama-sama mengembangkan toleransi, mengembangkan moderasi dalam beragama dan kita bisa terus sejalan dengan pemerintah UEA," pungkas Yaqut. [yy/republika]