fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


30 Sya'ban 1442  |  Senin 12 April 2021

Dibalik Sukses Masjid Lautze Dakwahkan Islam di Etnis Tionghoa

Dibalik Sukses Masjid Lautze Dakwahkan Islam di Etnis Tionghoa

Fiqhislam.com - Dalam satu dekade terakhir, nampaknya tak heran jika melihat masyarakat etnis Tionghoa berbondong-bondong menjadi mualaf. Selain karena memang adanya beragam faktor yang membelakangi keputusan para mualaf itu, namun tak boleh dilupakan juga bagaimana kiprah dari komunitas sosial keagamaan yang menaunginya.

Yayasan Haji Karim Oei dan Masjid Lautze boleh dibilang menjadi tonggak bersejarah dalam membina dan merangkul kalangan Tionghoa yang ingin mendekatkan diri terhadap Islam. Kiprah yayasan ini memiliki andil besar dalam bidang pembinaan, pendampingan, serta edukasi kepada komunitas Tionghoa yang ada di Indonesia.

“Ini kan kami memang identik sekali dengan etnis Tionghoa. Jadi sudah menjadi panggilan tersendiri buat kami berikan pendampingan dan informasi-informasi terkait Islam kepada yang berkenan,” kata Ketua Yayasan Haji Karim Oei/Masjid Lautze Ali Karim saat dihubungi Republika.co.id, Jumat (12/2).

Yayasan Haji Karim Oei yang terinspirasi dari kiprah Haji Abdul Karim Oei Tjeng Hien ini berdiri sejak 1988. Kiprah Haji Abdul Karim Oei dalam melakukan pembinaan dakwah secara sosial dan ekonomi pun dapat dilihat dari organisasi yang didirikannya kala itu, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia.

Tokoh Muhammadiyah yang dikenal begitu akrab dengan Buya Hamka dan Presiden Soekarno itu pun tak heran jika memberikan banyak inspirasi terhadap generasi penerusnya. Semangat mendakwahkan Islam secara baik kental sekali dari Haji Abdul Karim Oei, sehingga tak heran kiprah yayasan yang didirikan atas inisiatif ketokohannya pun nampak terlihat.

Ali menceritakan tentang bagaimana makna dakwah yang rahmatan lil-alamin. Memperkenalkan Islam kepada mualaf ataupun orang yang memiliki keinginan untuk masuk Islam bukan harus dilakukan dengan membandingkan agama-agama lainnya dengan Islam.

Lantaran telah banyak saat ini pendakwah yang beretnis Tionghoa yang berdakwah dengan pendekatan-pendekatan perbandingan agama, Ali tak sependapat jika mendakwahkan Islam dengan cara tersebut.

Meski demikian, pihaknya pun menaruh hormat kepada mereka yang memilih cara itu. Namun baginya, Islam adalah agama yang kaffah yang telah sempurna. Sehingga tak elok rasanya bagi dia membandingkan agama Islam dengan agama-agama para mualaf sebelumnya.

“Umat Islam itu sudah percaya bahwa agama yang diturunkan Allah ini adalah agama yang sempurna. Lalu kalau sudah sempurna, untuk apa kita banding-bandingkan (dengan agama lain)?” kata dia.

Dakwah dengan menyerukan pesan kebaikan dapat dilakukan dengan cara yang lebih kreatif. Baik melalui gerakan sosial, ekonomi, maupun gerakan-gerakan lainnya yang dapat menghadirkan nilai manfaat bagi orang banyak.

Pertumbuhan mualaf Tionghoa di Indonesia dirasakan betul kehadirannya oleh Pembina Masjid Lautze 2 Bandung, Hernawan Mahfudz. Sejak 3-4 tahun terakhir Masjid Lautze 2 didirikan, setiap pekannya selalu ada masyarakat yang hendak dibina untuk menjadi mualaf.

“Jadi kalau di (Masjid) Lautze justru niat kita adalah konteknsnya untuk mengakomodasi (masyarakat) Tionghoa yang kepingin jadi Muslim dan Muslimah di Jawa Barat, dan itu butuh tempat kan? Mengapa butuh tempat? Karena mereka tersebar di mana-mana. Kalau nggak diakomodasi, kasihan,” kata Hernawan.

Sadar akidah dan sosial

Sebagai panggilan dakwah, Hernawan menyadari bahwa penekanan terhadap akidah dan aspek sosial harus dijelaskan secara baik kepada para mualaf. Untuk itu tak sedikit aktivitas yang dilakukan Masjid Lautze 2 yang mengarah kepada dua aspek tadi untuk memperkenalkan kepada mualaf pesan kebaikan dari Islam.

Pembinaan akidah dan juga edukasi mengenai agama Islam pun rutin diberikan Masjid Lautze 2 kepada jamaah-jamaahnya yang mualaf. Tak hanya itu, dalam aspek sosial, kerja sama antara Masjid Lautze 2 dengan komunitas China yang non-Muslim pun kerap dilakukan.

“Kalau Ramadhan sebelum pandemi ya, Tionghoa non-Muslim itu sering bantu-bantu bagiin takjil. Kita juga sering bantu mereka, ini hubungannya erat, saling jaga. Kan begitu ya perintah Islam (hablul minannas),” kata dia.

Sehingga Hernawan menjelaskan, kesadaran akidah dan sosial yang kuat dari para mualaf diharapkan dapat menjadi bunga-bunga yang wangi bermekaran yang memberikan kebaikan pada tiap-tiap mata yang memandang, dan hidung yang mencium. Pesan Islam rahmatan lil-alamin akan semakin wangi dengan hadirnya mualaf-mualaf yang berkualitas secara akidah dan sosial. [yy/republika]