pustaka.png.orig
basmalah.png.orig


12 Dzulqa'dah 1442  |  Selasa 22 Juni 2021

Amerika Hingga Denmark Tertarik Ikuti Kaderisasi Ulama di Masjid Istiqlal

Amerika Hingga Denmark Tertarik Ikuti Kaderisasi Ulama di Masjid Istiqlal

Fiqhislam.com - Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar menyebut masjid yang dikelolanya kini telah berubah. Menurutnya, Masjid Istiqlal yang sekarang tidak hanya untuk menjadi tempat ibadah saja, melainkan juga sebagai tempat memberdayakan umat.

Nasaruddin menuturkan, pihaknya telah menjalin kerja sama di bidang pendidikan dengan lembaga Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) untuk mengaderisasi para calon pemuka agama. Nantinya, kata dia, para calon ulama akan ditempa pendidikan setara S-2 atau S-3 di Masjid Istiqlal. Baca juga: Renovasi Pertama Sejak 42 Tahun, Jokowi Resmikan Pemugaran Masjid Istiqlal

"Masjid ini bukan seperti tempat beribadah yang lalu-lalu, tetapi yang paling penting Masjid Istiqlal juga untuk memberdayakan umat. Dan yang paling penting kita mendirikan pendidikan kader ulama, setara S-2 hingga S-3, kerja sama dengan PTIQ," katanya dalam keterangan video yang diunggah Kemenko Polhukam, Sabtu (30/1/2021).

Informasi kerja sama tersebut, kata Nasaruddin, ternyata sudah terendus hingga luar negeri. Tak tanggung-tanggung, berbagai macam negara mulai dari yang ada di Benua Eropa hingga Asia tertarik mengirimkan para kadernya ke Indonesia. "Jadi formalnya PTIQ, tetapi kurikulum lokalnya adalah di Istiqlal. Kenapa PTIQ, karena persyaratannya harus hapal Alquran karena calon imam dan calon majelis ulama di daerah. Eh, ternyata di luar negeri kecium, banyak negara, seperti Amerika, Denmark, Afghanistan mau mengirimkan utusannya untuk ikut pengkaderan ulama ini," tuturnya.

Mendengar kabar tersebut, Nasaruddin pun turut bergembira. Menurutnya, ketika ditanya kenapa memilih Indonesia senagai tempat belajar agama Islam, bukan ke negara lain seperti Mesir, para perwakilan negara tersebut mengatakan bahwasanya Islam di Indonesia sangat cocok dengan kultur mereka. "Menarik ya. lalu saya tanyakan kenapa di Indonesia bukan di Mesir. Katanya Islam di Indonesia lebih familiar dengan kultur masyarakat kami yang moderen," ujarnya. [yy/sindonews]