fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


30 Sya'ban 1442  |  Senin 12 April 2021

Pasar Muamalah Depok yang Transaksinya Pakai Dirham dan Dinar

Pasar Muamalah Depok yang Transaksinya Pakai Dirham dan Dinar

Fiqhislam.com - Keberadaan Pasar Muamalah di Beji, Kota Depok menjadi perbincangan. Viralnya pasar ini lantaran ada yang mengaitkan keberadaan pasar tersebut dengan munculnya khilafah di Depok. Seperti yang diunggah YouTube channel Kanal Anak Bangsa Tv.

Dalam tayangan tersebut, Rudi S Kamri mengatakan dari literasi yang dia dapat bahwa di Kota Depok ada Pasar Muamalah dengan sistem khilafah. “Saya buka-buka referensi di Depok ini sudah 10 tahun ada Pasar Muamalah. Transaksinya sistem khilafah,” ujar Rudi melalui YouTubenya seperti dilihat SINDOnews, Jumat (29/1/2021).

Ketika mendatangi lokasi di Jalan Raya Tanah Baru, Beji hanya ada beberapa ruko saja. Di sana salah satunya ada toko madu yang dikelola Parman. Informasi yang didapat di lokasi, Pasar Muamalah itu memang ada. Transaksinya memang menggunakan emas dan perak. Namun, ternyata para penjual di sana juga menerima rupiah sebagai alat tukar transaksi. Jika ada orang yang tidak punya uang, maka bisa dilakukan dengan sistem barter.

“Iya memang ada pakai dirham dan dinar. Tapi, kami juga terima rupiah. Bahkan kalau memang benar-benar tidak ada uang ya bisa pakai beras untuk barternya,” katanya.

Hal itu dibenarkan oleh Anto, salah satu pedagang di komunitas tersebut. Sistem barter masih mereka gunakan untuk transaksi. Sedangkan untuk uang dirham juga bisa digunakan. Untuk madu yang dia jual misalnya dipatok harga 2 dirham atau setara Rp150 ribu. “Ya gitu barter. Itu (dirham) kalau yang bisa (punya) saja. Yang ngga bisa ya pakai barter,” ucapnya.

Di Pasar Muamalah dijual aneka kebutuhan, mulai dari madu hingga sembako. Untuk madu yang dijual terdiri dari jenis akasia, trigona dan lainnya. Pasar tersebut biasanya hadir tiap hari Minggu, namun tidak tetap. “Minggu. Sebulan gak nentu juga. Ada madu, roti. Pada umumnya kebutuhan pokok kayak beras minyak goreng, sabun,” sebut Anto.

Penjual berasal dari mana saja karena tidak ada syarat khusus dan uang sewa untuk berjualan di sini. “Syarat ngga ada. Di sini bebas, bebas sewa, ga dipungut biaya. Dari kalangan mana aja mereka boleh dagang,” tuturnya. [yy/sindonews]