fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


2 Ramadhan 1442  |  Rabu 14 April 2021

Kisah Mantan Biduan Menjemput Hidayah

Kisah Mantan Biduan Menjemput Hidayah

Fiqhislam.com - Tanggal 24 Agustus 2019, Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat di Desa Gedong, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, kedatangan tamu saat serombongan pengurus Dusun Kauman Desa Banyubiru datang ke pesantren untuk mengantarkan seorang nenek berusia 80 tahun. Saat diantar ke pesantren, nenek itu harus dipapah karena kesulitan menaiki gang kecil yang menghubungkan pesantren dengan jalan desa.

Sang nenek berjalan setengah membungkuk karena tulang-tulangnya yang sudah rapuh dimakan usia. Pandangannya sudah memudar, meski sudah mengenakan kaca mata tebal yang nyaris menempel di kelopak matanya. Ia harus mendekatkan pandangannya ke subjek yang ingin dilihatnya.

Meski kerut di atas kulit gelap di wajahnya, sisa-sisa kecantikan masih terlihat. Jika diamati lebih dalam, wajahnya mirip biduan India yang pernah berduet dengan Rhoma Irama; Latta Mengeskhar.

Suaranya pun masih terdengar merdu untuk ukuran wanita berusia menjelang kepala delapan. Nenek itu bernama Thalita Maharani. Ia adalah mantan biduan era 70-an yang sudah kenyang dengan panggung dan tepuk tangan. Meski mengenalkan diri sebagai Thalita, di KTP seumur hidup tertera nama pemberian orang tuanya: Tukiyem. Asli kelahiran Semarang.

Dari keterangan Pengurus Dusun Kauman yang dipimpin Pak Kadus dan Ibu Kadus lengkap dengan ketua rukun tetangga, mereka mengantarkan Nenek Tukiyem yang hidup sebatang kara setelah ditelantarkan keluarganya. Sebelum pulang, Pak Kadus dan Ibu Kadus, Pak RT dan istrinya menceritakan riwayat perempuan itu kepada Winarno, santri pertama Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat.

Mereka lalu menyerahkan Nenek Tukiyem diterima sebagai santriwati di pesantren yang dikhususkan untuk dewasa dan para lansia tersebut. Nenek Tukiyem melengkapi santri non mukim sekaligus menemani Ibu Sudarti, orang tua Winarno.

Setelah rombongan pulang, Nenek Tukiyem diajak berbincang dengan tim skrining yang terdiri dari tim medis, agamis, dan psikolog di gazebo sederhana pesantren. Nenek Tukiyem pun mengaku diusir anak tirinya setelah suaminya meninggal dunia.

"Saya terusir dari rumah suami ketiga yang meninggal tiga tahun lalu. Anak-anak tiri saya tak rela menjadi benalu tua di tengah keluarga ayah kandung mereka."

Nenek Tukiyem pun diusir dan dikirim ke panti jompo. Namun, Nenek Tukiyem pulang lagi dengan jalan kaki sejauh 30 Km. "Lalu saya dibiarkan tinggal tanpa diberi makan hingga akhirnya kelaparan dan meminta bantuan kepada Pak RT yang baik hati itu," ungkap Nenek Tukiyem.

Ia mengaku sangat bahagia Pak RT mau mengantarkannya ke pesantren. “Umurku iki wis tuwo kok yo ora ndang dipundut Pengeran yo (Umurku ini sudah tua tapi kok tidak segera dipanggil Allah),” katanya dengan nada jenaka tapi menyimpan pedih.

Winarno juga sempat mengajak Nenek Tukiyem berbincang. Winarno menangkap keputusasaan Nenek Tukiyem dari kalimat yang diucapkannya. “Nyawa itu milik Allah. Mau kapan diambil ya terserah Allah,” kata Winarno berusaha menghibur. “Memang Mbah siap jika besok dipanggil Malaikat Izrail?"

Nenek Tukiyem tak langsung menjawab. Tatapannya menerawang kosong seperti mencari jawaban. “Memangnya apa lagi yang mesti kutunggu?" jawab Nenek Tukiyem.

“Maksud saya, apa Mbah Tukiyem sudah punya bekal buat sangu ke akhirat?” timpal Winarno.

Nenek Tukiyem tertegun. Mulutnya bergerak-gerak seperti mengecap sesuatu. Ia pun mulai bercerita pengalaman hidupnya.

“Aku ini perempuan pendosa. Aku kira Allah telah menghukumku. Selama hidup aku tak pernah mengenal shalat, puasa, mengaji. Tak mengerti Islam meskipun Islam tercantum dalam KTP-ku. Masa mudaku habis untuk mencari uang dan kenikmatan. Hingga suami pertamaku pun kutinggalkan demi impian hidup bahagia bersama lelaki yang umurnya sepuluh tahun di bawahku. Tetapi dalam lima tahun, kekayaanku berpindah ke tangannya tanpa sisa. Dan ia pun pergi tanpa meninggalkan apa pun bahkan seorang anak."

“Tapi di usia 45 tahun aku masih seperti gadis 30 tahun. Masih cukup memikat buat lelaki hidung belang. Hingga aku pun menikah dengan seorang tuan tanah sesudah perceraiannya yang penuh sengketa dengan istri pertamanya. Aku berharap darinya akan lahir keturunan yang bakal melindungiku di hari tua."

"Tapi sepertinya Allah sudah mengazabku. Dua puluh tiga tahun kami hidup bersama dalam pertengkaran dan perselingkuhan. Tapi aku tetap bertahan karena sudah tidak ada lagi tempat buat menyandarkan hidup. Suaraku sudah tidak laku, digantikan biduan-biduan muda yang lebih molek. Hingga suami ketigaku pun meninggal. Selesailah takdirku. Sudah kuduga pembalasan dendam anak-anak suamiku atas sakit hati ibunya pada bakal menimpaku.”

Winarno berkata, Nenek Tukiyem menceritakan semua itu secara lancar seperti seorang aktor panggung yang hafal seluruh dialog skrip dalam sebuah sandiwara. Dan kini drama kehidupannya telah menjelang episode terakhir. Ia sudah lelah memainkan sandiwara kehidupan yang dijalaninya selama 80 tahun ini.

Dada Nenek Tukiyem terasa lapang sesudah melontarkan semua beban batin yang selama ini ditanggungnya sendiri. “Apakah Allah masih mau menerimaku?” tanyanya kemudian seperti kepada diri sendiri.

“Selama Mbah Tukiyem masih bernafas, pintu ampunan Allah masih terbuka lebar,” jawab Winarno singkat.

Perempuan rapuh itu tampak tertunduk, tapi tidak menangis. Kerasnya hidup telah mengeringkan air matanya.

"Subhanallah, sungguh luar biasa cara Allah mematangkan jiwa hambanya. Ternyata, diawal kedatangan beliau begitu sangat menguras tenaga fikiran bahkan emosi para pengasuh serta teman-teman seasrama. Ternyata latar belakang beliau yang baru saja diutarakannya dan sudah ingin taubat nashuha tidak serta merta membuat hatinya langsung luluh namun masih terlihat sedikit arogan," kata Winarno.

"Jadi ingat kalimat Umar bin Khattab, "Terkadang dengan masa lalu paling kelam, akan menciptakan masa depan yang paling cerah."

"Kalimat itulah yang menjadi virus penyemangat kami para pendamping dan pembimbing Mbah Tukiyem. Dengan mengharap keistiqomahan kami dan hidayah untuk Mbah Tukiyem, kami larut dalam huruf-huruf hijaiyah pagi siang bahkan larut malam. Kami berharap dari sekian banyak huruf yang pernah kami baca bersama kelak akan menjadi asbab rahmat Allah, di saat tidak ada satu pun amal kami yang bisa menolong kecuali huruf-huruf hijaiyah yang kami baca bersama para lansia."

Winarno mengungkapkan, Nenek Tukiyem tinggal menyelesaikan satu jilid lagi paket Qiroati sebelum melanjutkan ke tahap membaca Alquran. Nenek Tukiyem yang awal kedatangan terlihat arogan kini sangat bijaksana. Bahkan, kata Winarno, dia gantian menasihati para pengurus.

"Di saat Nenek Tukiyem dulu jauh dari yang namanya ibadah, kini beliau tak pernah telat tahajud, doa pagi, mengaji pagi, Sholat Dhuha dan juga puasa sunah. Di saat dulu Mbah Tukiyem yang sering menghiba meminta minta kini dia rajin sedekah dari uang yang ia terima dari para dermawan, kami dikagetkan dengan kepergian Nenek Tukiyem untuk menghadap Allah Subhanahuwata'ala kembali ke alam keabadian."

Winarno merawikan, 8 Oktober 2020 pagi, Ustadz Ikhsan agak heran, biasanya Nenek Tukiyem paling pertama setoran bacaan dan biasanya akan melanjutkan menyapu halaman pondok. Namun ditunggu sampai semua santri sudah setoran bacaan hafalan dan bacaan ternyata nenek perindu surga ini belum juga tiba.

Kemudian, Pak Tomy salah satu santri berinisiatif mengetok kamar dan memanggil Nenek Tukiyem. Karena tidak kunjung ada jawaban, Pak Tomy melongok melalui celah pintu dan terlihat sedang meringkuk di pinggir tempat tidurnya, kemudian meminta bantuan salah satu santri putri untuk membangunkannya dikiranya kesiangan. Innalillahi wa innailaihi rojiun, pada 8 Oktober 2020 pagi itu ternyata Nenek Tukiyem sudah dipanggil sang pemilik setiap jiwa, Allah Subhanahuwata'ala.

"Duka campur bahagia, duka karena kehilangan sosok yang luar biasa, bahagia karena kami telah menjadi bagian ia menjemput hidayah. Bismillah, insya Allah beliau Husnul Khotimah, Kami menjadi saksinya."

"Allahummaghfirlahaa warhamhaa wa 'aafihaa wa'fu 'anhaa, wa akrim nuzuulahaa wawassi' mad kholahaa, waghsilhaa bil maai wats salji wal barodi, wa naqqihaa, minadz dzunubi wal khothooyaa kamaa naqqoits tsaubal abyadhu minad danas. Wabdilha daarool khoiron min daarihaa wa ahlan khoiron min ahlihaa wa zaujan khoiron min zaujihaa, wa adkhilhal jannata wa a’idzhaa min adzabil qobrii au min 'adzaa binnaar....aamiin..." [yy/republika]