21 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 31 Juli 2021

basmalah.png

Mengapa Manuskrip Karya Ulama Nusantara tak Cantumkan Nama?

Mengapa Manuskrip Karya Ulama Nusantara tak Cantumkan Nama?


Fiqhislam.com - Intelektual dan ulama Nusantara sejak masa silam gemar menghasilkan karya tulis, baik itu berkaitan dengan ilmu Alquran, fikih, tauhid, tasawuf, hadis, pertanian, dan lain sebagainya.

Banyak karya mereka yang kini menjadi beragam manuskrip dari abad ke-17 hingga abad ke-19.

Sebagai contoh, pelbagai manuskrip yang berasal dari kalangan ulama klasik Cirebon, Jawa Barat. Hampir semua manuskrip tersebut tidak mencantumkan nama penulisnya.

Sejarawan IAIN Syekh Nurjati Cirebon Tendi menjelaskan, ada asumsi yang berkembang di kalangan ahli manuskrip bahwa kaum ulama dan intelektual Nusantara pada zaman dahulu menjadikan kegiatan menulis sebagai salah satu bentuk perlawanan terhadap kolonialisme.

Pemerintah kolonial Belanda selalu berupaya menjaga stabilitas kekuasaannya atas Nusantara. Penguasa asal Eropa itu juga menjalankan politik pengawasan terhadap produk-produk tulisan tokoh lokal. Karena itu, kalangan intelektual atau ulama Nusantara yang bisa menulis kemudian bersiasat. Dengan alasan itulah, hampir semua manuskrip yang berasal dari abad ke-17 sampai ke-19 tidak mencantumkan nama penulisnya karena politik ancaman Belanda.

"Jadi, sebagai aksara yang digunakan penguasa yakni aksara Latin saat itu adalah aksara yang dominan, meski hanya sedikit pribumi yang menguasainya. Namun, tetap digunakan sebagai aksara resmi saat itu," kata Tendi saat bercerita kepada Republika.co.id, Senin (29/7).

Ulama di Cirebon pada masa itu tak jauh berbeda daripada umumnya agamawan lokal. Mereka menulis dengan bahasa Arab, Jawa, Melayu dan Sunda. Selain itu, mereka juga menggunakan aksara Jawa, Arab, dan Jawi atau Pegon. Alas tulis yang digunakan yaitu kertas Eropa, daluwang, lontar dan kertas bergaris.

Tendi menjelaskan, aksara Pegon lahir dari tradisi Islam yang bersemai dengan bahasa dan aksara lokal. Ini telah menjadi alternatif bagi masyarakat Pribumi untuk mengungkapkan pendapat dan menyuarakan suaranya. Fenomena ini pada akhirnya membuat pemerintah kolonial merasa terancam dan mewaspadainya.

"Nah, media tulis menulis alternatif itu pada perkembangannya menjadi media komunikasi antar orang-orang yang berkumpul dan berserikat untuk melawan Belanda, mereka membangun jaringan dengan perantara aksara tersebut," ujarnya.

Faktor Rendah Hati

Pemerintah kolonial Belanda berusaha membatasi kegiatan tulis-menulis yang dilakukan kaum Pribumi. Tujuannya untuk membendung komunikasi antartokoh, ulama dan intelektual lokal. Dengan begitu, Belanda berharap mereka tidak memiliki kekuatan lagi untuk membangkitkan perlawanan. Kondisi seperti itu menjadi alasan bagi para penulis Pribumi untuk tidak mencantumkan nama di dalam karya tulis mereka.

Tendi yang juga penulis buku Sejarah Hari Jadi Kabupaten Kuningan menjelaskan, ancaman Belanda membuat para penulis tidak mencantumkan namanya adalah salah satu asumsi. Selain itu, ada asumsi lain terkait tidak tercantumnya nama mereka. Asumsi itu adalah lantaran mereka adalah ulama yang sangat rendah hati. 

Hal tersebut juga disampaikan Sekretaris Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Cabang Cirebon, Nurhata. Menurut dia, meski ada ribuan naskah keagamaan di Cirebon, sebagian besar naskah tidak menyebutkan nama penulis dan waktu penulisannya. Sebab, ada faktor kerendahan hati para penulis naskah keagamaan. Mereka tidak menganggap diri sendiri penting untuk diketahui publik.

"Nama diri sang penyalin atau penulis naskah pada umumnya tidak disebutkan dalam naskah, ini terkait semacam suatu konvensi bahwa nama diri penulis tidak begitu urgen dalam suatu karya," kata Nurhata.

Kalaupun nama penulis disebutkan, menurut dia, biasanya ditulis dengan nada-nada merendah. Seperti menulis "hamba orang fakir", "tidak mengerti sastra", dan lainnya.

Menurutnya, sikap tawadhu semacam itu tampaknya sudah menjadi bagian dari etika penulisan pada masa lalu. Seperti penulis naskah Kitab Merad (koleksi Keraton Kacirebonan), sang penulis mengaku dirinya sebagai orang yang tidak berakhlak. Kemudian penulis naskah Tarekat Syattariah Muhammadiah mengaku dirinya orang "bodoh" dan "miskin."

"Kerendahan hati seorang penulis karena suatu keniscayaan bahwa apa yang ditulisnya tidak lebih dari hasil menyalin atau mengubah dari suatu teks lain yang sudah tersedia, meskipun dalam praktiknya membutuhkan kemampuan besar serta ketelitian," kata Nurhata.

Menurut dia, para penulis naskah di masa lalu menyadari bahwa karyanya bukan lagi milik pribadi. Karena yang dilakukannya hanya mengadaptasi suatu teks atau kitab ke dalam rangkaian aksara dan bahasa yang mudah dimengerti masyarakat setempat.

Dia juga menjelaskan bahwa naskah keagamaan yang ditemukan di Cirebon sebagian besar sudah diadaptasi untuk disesuaikan dengan konteks sosial yang ada. Para penulis atau penyalin naskah memahami betul konteks sosial budaya di Cirebon. Naskah-naskah keagamaan yang pada mulanya beraksara Arab dan bahasa Arab, diberi terjemahan bahasa Jawa dengan aksara Jawa dan Pegon. Namun, kebanyakan naskah tidak memuat informasi penanggalan atau waktu penulisan. [yy/republika]