20 Jumadil-Akhir 1443  |  Minggu 23 Januari 2022

basmalah.png
ISLAM INDONESIA

Idealnya Korupsi Sulit Mengakar di Dunia Islam

Idealnya Korupsi Sulit Mengakar di Dunia Islam


Fiqhislam.com - Korupsi, kata Syekh Ihsab Ali Abd al-Husain dalam bukunya yang berjudul an-Nahj al-Islami fi Mukafahat ar-Risywah, sulit mengakar di negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim. Ini karena Islam adalah agama yang antikorupsi.

Larangan berikut sanksi tegas ditujukan bagi para koruptor. Agama melarang umatnya mengambil segala sesuatu, apalagi harta yang bukan miliknya sendiri. Ada banyak dalil yang menegaskan larangan korupsi.

“Dan, janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS al-Baqarah [2]: 188).

Pada hadis riwayat Ahmad Rasulullah SAW mengatakan pa ra penyuap, penerima, dan perantara suap mendapat laknat Allah SWT. Di akhirat jelas koruptor akan mendapatkan siksa. Di dunia sebagian ahli fikih bahkan membolehkan penerapan hukum had berupa tangan atau kaki secara menyilang bagi penggelap uang negara.

Menurut Syekh Ihsab, korupsi muncul oleh faktor in ternal dan eksternal. Dari internal pelaku korupsi tindakan melawan hukum itu timbul akibat lemahnya iman. Iman yang kuat niscaya akan membentengi seseorang da ri tindak maksiat apa pun, tak terkecuali korupsi.

Faktor eksternal, antara lain, rezim yang korup. Lingkaran birokrasi yang korup akan memantik keinginan korupsi. Bila atasan korup maka berpotensi memancing aksi serupa dari bawahan. Rendahnya kesejahteraan juga disinyalir menjadi biang korupsi, lemahnya pengawasan dan rumitnya birokrasi. [yy/republika]

 

Tags: Korupsi