20 Jumadil-Akhir 1443  |  Minggu 23 Januari 2022

basmalah.png
ISLAM INDONESIA

Din: Corak Islam Indonesia Dilirik Dunia

Din: Corak Islam Indonesia Dilirik Dunia


Fiqhislam.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyelenggarakan Halaqah dan Diskusi Internasional bertema Indonesia dan Kepemimpinan dalam Dunia Islam di Kantor MUI pada Kamis (9/11). Dunia yang tengah menghadapi permasalahan besar, melirik nilai-nilai jalan tengah yang ada di Indonesia serta melirik corak Islam Indonesia.

"Indonesia mayoritas berpenduduk agama Islam memiliki tanggung jawab untuk menampilkan peran global, baik di dunia Islam maupun dunia," kata Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban, Prof Din Syamsuddin kepada Republika.co.id, usai memberikan pidato pembuka acara Halaqah dan Diskusi Internasional di Kantor MUI.

Din mengatakan, Indonesia diharapkan lebih meningkatkan perannya di kancah global. Sebab, apa yang diharapkan dunia Islam kepada Indonesia banyak. Pertama, Indonesia dipandang sebagai negara yang punya modal nilai seperti Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

Menurut Din, nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika dilirik oleh dunia. Sebab, peradaban dunia saat ini sedang mengalami kerusakan, ada perseturuan antar bangsa dan clash of civilization (pergesekan peradaban). Dunia sedang memerlukan satu ideologi tengah, seperti model Pancasila dan Bhinkea Tunggal Ika.

"Kedua, (dunia) melirik corak Islam di Indonesia, Muslim yang berbudaya tengah, wasathiyah, rahmatan lil alamin. Dunia sedang memerlukan itu sekarang," ujarnya.

Tentu, kata Din, ada beberapa hal lain yang bersifat ekonomi dan budaya Indonesia yang juga dilirik dunia. Seperti diketahui budaya di Indonesia sangat plural, hal ini juga dilirik dunia. Jadi, sebenarnya banyak hal-hal yang bisa ditawarkan kepada dunia. "MUI sudah mulai berbicara kerjasama untuk lebih meningkat peran Indonesia di masa depan," ujarnya.

Din yang juga Ketua Dewan Pertimbangan MUI menginformasikan, dunia dan khususnya dunia Islam, tengah mengalami permasalahan besar. Terjadi kerusakan yang bersifat akumulatif. Pada bagian-bagian tertentu, di dunia Islam, juga sedang porak poranda. "Oleh karena itulah Indonesia bersama beberapa negara lain memiliki tanggung jawab untuk menanggulanginya," ujarnya. [yy/republika]

Din: Corak Islam Indonesia Dilirik Dunia


Fiqhislam.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyelenggarakan Halaqah dan Diskusi Internasional bertema Indonesia dan Kepemimpinan dalam Dunia Islam di Kantor MUI pada Kamis (9/11). Dunia yang tengah menghadapi permasalahan besar, melirik nilai-nilai jalan tengah yang ada di Indonesia serta melirik corak Islam Indonesia.

"Indonesia mayoritas berpenduduk agama Islam memiliki tanggung jawab untuk menampilkan peran global, baik di dunia Islam maupun dunia," kata Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban, Prof Din Syamsuddin kepada Republika.co.id, usai memberikan pidato pembuka acara Halaqah dan Diskusi Internasional di Kantor MUI.

Din mengatakan, Indonesia diharapkan lebih meningkatkan perannya di kancah global. Sebab, apa yang diharapkan dunia Islam kepada Indonesia banyak. Pertama, Indonesia dipandang sebagai negara yang punya modal nilai seperti Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

Menurut Din, nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika dilirik oleh dunia. Sebab, peradaban dunia saat ini sedang mengalami kerusakan, ada perseturuan antar bangsa dan clash of civilization (pergesekan peradaban). Dunia sedang memerlukan satu ideologi tengah, seperti model Pancasila dan Bhinkea Tunggal Ika.

"Kedua, (dunia) melirik corak Islam di Indonesia, Muslim yang berbudaya tengah, wasathiyah, rahmatan lil alamin. Dunia sedang memerlukan itu sekarang," ujarnya.

Tentu, kata Din, ada beberapa hal lain yang bersifat ekonomi dan budaya Indonesia yang juga dilirik dunia. Seperti diketahui budaya di Indonesia sangat plural, hal ini juga dilirik dunia. Jadi, sebenarnya banyak hal-hal yang bisa ditawarkan kepada dunia. "MUI sudah mulai berbicara kerjasama untuk lebih meningkat peran Indonesia di masa depan," ujarnya.

Din yang juga Ketua Dewan Pertimbangan MUI menginformasikan, dunia dan khususnya dunia Islam, tengah mengalami permasalahan besar. Terjadi kerusakan yang bersifat akumulatif. Pada bagian-bagian tertentu, di dunia Islam, juga sedang porak poranda. "Oleh karena itulah Indonesia bersama beberapa negara lain memiliki tanggung jawab untuk menanggulanginya," ujarnya. [yy/republika]

Survei: Toleransi Umat Islam pada Non-Muslim Sangat Tinggi

Survei: Toleransi Umat Islam pada Non-Muslim Sangat Tinggi


Survei: Toleransi Umat Islam pada Non-Muslim Sangat Tinggi


Fiqhislam.com - Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta telah melakukan survei intoleransi dan radikalisme. Hasilnya, dalam survei ini dibagi menjadi dua kategori yakni intoleransi internal antar sesama umat Islam dan intoleransi eksternal antara umat Islam dengan non-Islam.

Direktur PPIM Saiful Umam mengatakan tingkat toleransi umat Islam terhadap umat agama lainnya lebih tinggi daripada toleransinya kepada sesama umat Islam yang berbeda paham keagamaan, baik dari segi opini maupun aksi.

"Masing-masing ada sikap dan opini. Opini adalah persepsi, sedangkan sikap lebih kepada keterlibatan mereka (pada aksi-aksi intoleransi dan radikalisme),” kata Saiful kepada Republika di Jakarta, Kamis (9/11).

Ia menduga, tingginya angka intoleransi terhadap sesama umat agama Islam adalah salah satunya karena dimasukannya pertanyaan soal Ahmadiyah dan Syi'ah. Siswa dan mahasiswa yang memiliki opini intoleran internal adalah 51,1 persen dan sikap intoleran internalnya adalah 34,1 persen. Sementara siswa dan mahasiswa yang memiliki opini intoleran eksternal adalah 34,3 persen dan sikap intoleran eksternalnya adalah 17,3 persen.

“Siswa dan mahasiswa lebih toleran kepada penganut agama lain dari pada kelompok yang dipersepsikan berbeda paham keagamannya meski satu agama Islam. Mereka lebih bisa menerima orang Kristen daripada orang Ahmadiyah, Syiah, atau sempalan lainnya,” jelasnya.

Setidaknya, ada empat faktor penting yang menjadikan siswa dan mahasiswa menjadi intoleran yaitu guru, akses internet untuk pengetahuan agama, persepsi tentang kinerja pemerintah, dan persepsi tentang umat Islam sebagai korban.

Dalam penelitian ini target populasi adalah siswa dan guru di tingkat SMA dan mahasiswa dan dosen perguruan tinggi, yang berada di lingkungan Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Survei ini dilakukan pada rentang waktu antara 1 September sampai 7 Oktober 2017. Penelitian ini dilakukan di 34 provinsi di Indonesia, di mana untuk setiap provinsi dipilih secara acak 1 kabupaten dan 1 kota.

Jumlah sekolah diambil menggunakan teknik proportional sampling sehingga kabupaten atau kota yang lebih banyak jumlah sekolahnya memiliki jumlah sampel sekolah yang lebih banyak pula. Total jumlah sampel dalam survei ini adalah 2.181 orang, yang terdiri dari 1.522 siswa dan 337 mahasiswa serta 264 guru dan 58 dosen pendidikan Agama Islam.

Penelitian ini menggunakan dua alat ukur untuk mengukur tingkat intoleransi dan radikalisme. Pertama, alat ukur Implicit Association Test (IAT) untuk melihat potensi intoleransi dan radikalisme secara implisit. Kedua, menggunakan kuesioner self report dalam menilai intoleransi dan radikalisme serta faktor-faktor yang mempengaruhi intoleransi dan radikalisme. [yy/republika]