4 Jumadil-Awal 1443  |  Rabu 08 Desember 2021

basmalah.png

Nusron Wahid, Penafsiran dan Logika Aneh || Nusron Wahid Antithesis NU || Akar Pemikiran Liberalisme

Nusron Wahid, Penafsiran dan Logika Aneh


Nusron Wahid, Penafsiran dan Logika Aneh


Fiqhislam.com - Siapapun yang menyaksikan Indonesia Lawyer Club (ILC) pada Selasa malam (11/10/2016) akan banyak mengambil pelajaran dan kesimpulan. Dan kesimpulan yang saya sambil sebagai salah satu pemirsa malam itu adalah: ada yang aneh di sana.

Keanehan itu ada pada salah satu narasumber, yaitu Nusron Wahid yang selama ini memang dikenal kontraversial. Kali ini pun dia bersikap aneh, terutama bagi orang yang jeli membaca arah pembicaraannya. Diantara keanehan itu adalah sebagai berikut.

Pertama, seputar penafsiran Al-Quran. Dalam hal ini tentu Al-Quran, karena konteksnya adalah polemaik yang dilontarkan Ahok tentang Qs.5:51. Dimana isinya adalah larangan untuk memilih pemimpin kafir, baik Yahudi maupun Kristen. Dan menurut Nusron, dengan suara lantang dan berapi-api, yang paham tentang maksud di balik teks adalah pembuat teks itu sendiri. Jika itu firman Allah maka yang paham dan mengerti tentang Al-Quran adalah Allah sendiri.

Bahkan, menurutnya bukan MUI, bukan pula Fadli Zon, bahkan bukan Nusron. Tapi dia sok tahu ketika mengatakan “hanya Allah yang tahu”. Seolah-olah dia tahu bahwa yang tahu makna dan paham maksudnya adalah Allah saja. Dari mana dia tahu kalau hanya Allah yang tahu? Bukankah Al-Quran sejak awal untuk hudan lin-nas (petunjuk bagi seluruh manusia, Qs. 2: 185) dan hudan lil-muttaqin (Qs. 2: 2).

Kemudian dia mengutip ayat Allah yang berbunyi al-haqqa min rabbika (Qs. 2: 147) yang sebenarnya pun di sini dia “sok tahu” tentang maksud dan maknanya. Padahal ayat ini jelas, kebenaran itu sudah turun dari Allah, maka jangan ragu. Kalau kebenaran tidak diturunkan, berarti bohong semua ajaran agama ini. Karena perintah shalat, perintah haji, perintah zakat, perintah puasa, termasuk perintah memilih pemimpin tidak ada yang tahu maksud dan tujuannya. Padahal dalam shalat Rasulullah Saw. sudah katakan dengan jelas, “shallu kama ra’aitumuni ushalli” (shalatlah kalian sebagaimana kalian saksikan aku shalat, HR. al-Bukhari). Tentang Haji Rasul saw. bilang, “khudzu ‘anni manasikakum” (ikutilah manasik haji dari aku, HR. al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra). Begitu juga dalam zakat, puasa dan yang lainnya.

Intinya, ada yang dapat menjelaskan maksud firman Allah Subhanahu Wata’ala. yang ada dalam Al-Quran. Dan setelah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. yang dapat menjelaskan Al-Quran adalah para Sahabat. Kemudian para Tabi’in hingga ulama’ mujtahidin sampai hari ini. Bahkan ulama sepakat metode terbaik menafsirkan Al-Quran adalah: Al-Quran dengan Al-Quran, Al-Quran dengan hadits, Al-Quran dengan pendapat Sahabat, dan Al-Quran dengan pendapat Tabi’in. (Lihat, Imam Ibn Taimiyyah (661-728 H), Muqaddimah fi Ushul al-Tafsir, tahqiq: Dr. ‘Adnan Zarzur (Kuwait: Dar al-Qur’an, 1392 H/1972 M), 92-103. Lihat juga, Imam Ibn Katsir (w. 774 H), Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim (Kairo: Dar Ibn al-Haitsam, 1426 H/2005 M), 1/4-5).

Bahkan seorang Tabi’in yang mulia, Abu ‘Abdirrahman as-Sulami menyatakan, “Orang-orang yang dahulu mengajarkan Al-Quran kepada kami, seperti ‘Utsman ibn ‘Affan dan  ‘Abdullah ibn Mas’ud, dan yang lainnya menyatakan bahwa jika mereka mempelajari sepuluh ayat dari Al-Quran mereka tidak mau melewatinya (pindah ke ayat lain) sampai benar-benar menguasai kandungannya dengan baik, yaitu: ilmu dan amal. Mereka berkata, ‘Kami pelajari Al-Quran, ilmunya, dan amalnya sekaligus.” Itu sebabnya mereka bisa memakan waktu yang lama hanya menghafal satu surah Al-Quran.” (Lihat, Imam Ibn Taimiyyah, Muqaddimah fi Ushul at-Tafsir, 35-36. Lihat, Imam Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 1/5).

Oleh karea itu, jika Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam tidak menjelaskan makna-makna dan maksud ayat Al-Quran, maka Firman Allah dalam Qs. An-Nahl [16]: 44 menjadi ‘batal’ dan tak ada fungsinya apa-apa dalam Al-Quran. Karena Allah menyatakan bahwa beliau harus menjelaskan Al-Quran kepada manusia. Selain itu, maka sabda Nabi Saw. yang berbunyi al-‘ulama’ waratsatul anbiya’ (para ulama adalah pewaris para nabi, HR. Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibn Majah) juga tidak bermanfaat sema sekali.

Di sini sangat kelihatan bahwa Nusron ingin merusak konsep otoritas keilmuan dalam Islam. Dengan mengatakan tidak ada yang paham akan teks – terutama Al-Quran – sejatinya dia ingin menggugurkan otoritas ulama’. Dan ini bukti adanya loss of adab (hilangnya) adab dalam diri seorang Nusron. Apalagi dalam tradisi NU sangat kental penghormatan kepada para kyai. Di sini Nusron sangat tidak hati-hati, ceroboh, dan kesannya begitu arogan.

Dan, terkaitan masalah kebenaran, karena kebenaran itu sudah diturunkan oleh Allah melalui nabi-nabi-Nya, manusia dipersilahkan memilih: memilih iman atau kufur (Qs. 18: 29). Kalau kebenaran itu belum turun dan tidak diturunkan bersama ajaran nabi-nabi, untuk apa manusia disuruh menentukan sikap: mau jadi kafir atau mukmin?

Kedua, membela Ahok.

Dari poin pertama sebelumnya, dapat dipahamai sejatinya Nusron mau mengatakan apa. Intinya dia ingin katakan kepada semua yang hadir di ILC dan yang menyaksikannya bahwa Ahok tidak bermasalah. Karena menurutnya tidak ada yang paling berhak menafsirkan pernyataan Ahok. Yang tahu apa tujuan dan maksud perkataan Ahok mengenani Firman Allah dalam Qs. 5: 51 adalah Ahok sendiri. Tapi kok Nusron tahu ya itu hanya Ahok yang tahu?

Sebenarnya, siapa yang jeli mengikuti dan mencermati seluruh kata-kata Nusron di ILC maka tidak akan sulit untuk mencari arah pembicaraannya. Intinya: tidak boleh seorang pun menyalahkan Ahok. Karena tak seorang pun yang tahu dan paham apa maksud kata-kata Ahok. Tapi umat Islam bukan tidak cerdas. Pernyataan masing-masing dari MUI, Fadli Zon, Fakhri Hamzah, dan yang lainnya cukup menjelaskan kepada publik bahwa Ahok bermasalah.

Karena demikian maka Nusron tidak juga berhak menafsirkan pendapat mereka, karena tidak juga tidak tahu kebenaran yang mereka sampaikan. Hanya MUI, Fadli Zon, dan Fahri Hamzah yang tahu apa maksud dan tujuan kata-kata mereka. Tapi ummat Islam tahu bahwa memang dalam Qs. 5: 51 setiap Muslim tidak boleh memilih pemimpin yang kafir. Jika hanya tiga ayat yang melarang makan babi umat Islam taatnya luar biasa kepada perintah Allah, mengapa dengan belasan ayat yang melarang memilih pemimpin kafir masih ada intelektual-intelektual aneh yang “membajak” maksud ayat itu. Bukankah ini artinya mereka sok tahu tentang ayat itu. Termasuk Nusron.

Semestinya dia memang jangan sok tahu, termasuk sok tahu tentang orang yang sedang dibelanya mati-matian, Ahok. Kami tahu tuan Nusron berbicara apa. Dan kami tahu tuan Nusron sedang membela siapa. Wallahu A’lam bias-Shawab. [yy/Qosim Nursheha Dzulhadi/hidayatullah]

Nusron Wahid, Penafsiran dan Logika Aneh


Nusron Wahid, Penafsiran dan Logika Aneh


Fiqhislam.com - Siapapun yang menyaksikan Indonesia Lawyer Club (ILC) pada Selasa malam (11/10/2016) akan banyak mengambil pelajaran dan kesimpulan. Dan kesimpulan yang saya sambil sebagai salah satu pemirsa malam itu adalah: ada yang aneh di sana.

Keanehan itu ada pada salah satu narasumber, yaitu Nusron Wahid yang selama ini memang dikenal kontraversial. Kali ini pun dia bersikap aneh, terutama bagi orang yang jeli membaca arah pembicaraannya. Diantara keanehan itu adalah sebagai berikut.

Pertama, seputar penafsiran Al-Quran. Dalam hal ini tentu Al-Quran, karena konteksnya adalah polemaik yang dilontarkan Ahok tentang Qs.5:51. Dimana isinya adalah larangan untuk memilih pemimpin kafir, baik Yahudi maupun Kristen. Dan menurut Nusron, dengan suara lantang dan berapi-api, yang paham tentang maksud di balik teks adalah pembuat teks itu sendiri. Jika itu firman Allah maka yang paham dan mengerti tentang Al-Quran adalah Allah sendiri.

Bahkan, menurutnya bukan MUI, bukan pula Fadli Zon, bahkan bukan Nusron. Tapi dia sok tahu ketika mengatakan “hanya Allah yang tahu”. Seolah-olah dia tahu bahwa yang tahu makna dan paham maksudnya adalah Allah saja. Dari mana dia tahu kalau hanya Allah yang tahu? Bukankah Al-Quran sejak awal untuk hudan lin-nas (petunjuk bagi seluruh manusia, Qs. 2: 185) dan hudan lil-muttaqin (Qs. 2: 2).

Kemudian dia mengutip ayat Allah yang berbunyi al-haqqa min rabbika (Qs. 2: 147) yang sebenarnya pun di sini dia “sok tahu” tentang maksud dan maknanya. Padahal ayat ini jelas, kebenaran itu sudah turun dari Allah, maka jangan ragu. Kalau kebenaran tidak diturunkan, berarti bohong semua ajaran agama ini. Karena perintah shalat, perintah haji, perintah zakat, perintah puasa, termasuk perintah memilih pemimpin tidak ada yang tahu maksud dan tujuannya. Padahal dalam shalat Rasulullah Saw. sudah katakan dengan jelas, “shallu kama ra’aitumuni ushalli” (shalatlah kalian sebagaimana kalian saksikan aku shalat, HR. al-Bukhari). Tentang Haji Rasul saw. bilang, “khudzu ‘anni manasikakum” (ikutilah manasik haji dari aku, HR. al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra). Begitu juga dalam zakat, puasa dan yang lainnya.

Intinya, ada yang dapat menjelaskan maksud firman Allah Subhanahu Wata’ala. yang ada dalam Al-Quran. Dan setelah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. yang dapat menjelaskan Al-Quran adalah para Sahabat. Kemudian para Tabi’in hingga ulama’ mujtahidin sampai hari ini. Bahkan ulama sepakat metode terbaik menafsirkan Al-Quran adalah: Al-Quran dengan Al-Quran, Al-Quran dengan hadits, Al-Quran dengan pendapat Sahabat, dan Al-Quran dengan pendapat Tabi’in. (Lihat, Imam Ibn Taimiyyah (661-728 H), Muqaddimah fi Ushul al-Tafsir, tahqiq: Dr. ‘Adnan Zarzur (Kuwait: Dar al-Qur’an, 1392 H/1972 M), 92-103. Lihat juga, Imam Ibn Katsir (w. 774 H), Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim (Kairo: Dar Ibn al-Haitsam, 1426 H/2005 M), 1/4-5).

Bahkan seorang Tabi’in yang mulia, Abu ‘Abdirrahman as-Sulami menyatakan, “Orang-orang yang dahulu mengajarkan Al-Quran kepada kami, seperti ‘Utsman ibn ‘Affan dan  ‘Abdullah ibn Mas’ud, dan yang lainnya menyatakan bahwa jika mereka mempelajari sepuluh ayat dari Al-Quran mereka tidak mau melewatinya (pindah ke ayat lain) sampai benar-benar menguasai kandungannya dengan baik, yaitu: ilmu dan amal. Mereka berkata, ‘Kami pelajari Al-Quran, ilmunya, dan amalnya sekaligus.” Itu sebabnya mereka bisa memakan waktu yang lama hanya menghafal satu surah Al-Quran.” (Lihat, Imam Ibn Taimiyyah, Muqaddimah fi Ushul at-Tafsir, 35-36. Lihat, Imam Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 1/5).

Oleh karea itu, jika Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam tidak menjelaskan makna-makna dan maksud ayat Al-Quran, maka Firman Allah dalam Qs. An-Nahl [16]: 44 menjadi ‘batal’ dan tak ada fungsinya apa-apa dalam Al-Quran. Karena Allah menyatakan bahwa beliau harus menjelaskan Al-Quran kepada manusia. Selain itu, maka sabda Nabi Saw. yang berbunyi al-‘ulama’ waratsatul anbiya’ (para ulama adalah pewaris para nabi, HR. Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibn Majah) juga tidak bermanfaat sema sekali.

Di sini sangat kelihatan bahwa Nusron ingin merusak konsep otoritas keilmuan dalam Islam. Dengan mengatakan tidak ada yang paham akan teks – terutama Al-Quran – sejatinya dia ingin menggugurkan otoritas ulama’. Dan ini bukti adanya loss of adab (hilangnya) adab dalam diri seorang Nusron. Apalagi dalam tradisi NU sangat kental penghormatan kepada para kyai. Di sini Nusron sangat tidak hati-hati, ceroboh, dan kesannya begitu arogan.

Dan, terkaitan masalah kebenaran, karena kebenaran itu sudah diturunkan oleh Allah melalui nabi-nabi-Nya, manusia dipersilahkan memilih: memilih iman atau kufur (Qs. 18: 29). Kalau kebenaran itu belum turun dan tidak diturunkan bersama ajaran nabi-nabi, untuk apa manusia disuruh menentukan sikap: mau jadi kafir atau mukmin?

Kedua, membela Ahok.

Dari poin pertama sebelumnya, dapat dipahamai sejatinya Nusron mau mengatakan apa. Intinya dia ingin katakan kepada semua yang hadir di ILC dan yang menyaksikannya bahwa Ahok tidak bermasalah. Karena menurutnya tidak ada yang paling berhak menafsirkan pernyataan Ahok. Yang tahu apa tujuan dan maksud perkataan Ahok mengenani Firman Allah dalam Qs. 5: 51 adalah Ahok sendiri. Tapi kok Nusron tahu ya itu hanya Ahok yang tahu?

Sebenarnya, siapa yang jeli mengikuti dan mencermati seluruh kata-kata Nusron di ILC maka tidak akan sulit untuk mencari arah pembicaraannya. Intinya: tidak boleh seorang pun menyalahkan Ahok. Karena tak seorang pun yang tahu dan paham apa maksud kata-kata Ahok. Tapi umat Islam bukan tidak cerdas. Pernyataan masing-masing dari MUI, Fadli Zon, Fakhri Hamzah, dan yang lainnya cukup menjelaskan kepada publik bahwa Ahok bermasalah.

Karena demikian maka Nusron tidak juga berhak menafsirkan pendapat mereka, karena tidak juga tidak tahu kebenaran yang mereka sampaikan. Hanya MUI, Fadli Zon, dan Fahri Hamzah yang tahu apa maksud dan tujuan kata-kata mereka. Tapi ummat Islam tahu bahwa memang dalam Qs. 5: 51 setiap Muslim tidak boleh memilih pemimpin yang kafir. Jika hanya tiga ayat yang melarang makan babi umat Islam taatnya luar biasa kepada perintah Allah, mengapa dengan belasan ayat yang melarang memilih pemimpin kafir masih ada intelektual-intelektual aneh yang “membajak” maksud ayat itu. Bukankah ini artinya mereka sok tahu tentang ayat itu. Termasuk Nusron.

Semestinya dia memang jangan sok tahu, termasuk sok tahu tentang orang yang sedang dibelanya mati-matian, Ahok. Kami tahu tuan Nusron berbicara apa. Dan kami tahu tuan Nusron sedang membela siapa. Wallahu A’lam bias-Shawab. [yy/Qosim Nursheha Dzulhadi/hidayatullah]

Kalau Hanya Allah yang Bisa Menafsirkan, untuk Apa Alquran Diturunkan?

Kalau Hanya Allah yang Bisa Menafsirkan, untuk Apa Al Quran Diturunkan?


Kalau Hanya Allah yang Bisa Menafsirkan, untuk Apa Al Quran Diturunkan?


Fiqhislam.com - Pendukung Cagub Pejawat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Nusron Wahid, mengkritik keputusan MUI yang menilai Ahok telah menghina Alquran. Salah satunya, Nusron mengatakan yang sah menafsirkan Alquran ialah Allah SWT.

Menanggapi pernyataan tersebut, Wakil Sekjen MUI Tengku Zulkarnain mengatakan, dirinya setuju bahwa Alquran tidak boleh ditafsirkan secara serampangan. Namun, ia tidak setuju dengan pernyataan Nusron Wahid dengan menyerahkan tafsir Alquran adalah hak prerogatif Allah saja.

Dia mengatakan, Alquran diturunkan untuk manusia sebagai petunjuk. Bagaimana dapat mengetahui kandungan kitab suci umat Islam jika tidak dapat menafsirkan Alquran. "Kalau Alquran ditafsirkan Allah saja, maka untuk apa diturunkan?" tegasnya, Kamis (13/10).

Sementara Ketua Umum MUI, Ma'ruf Amin, menegaskan pihaknya netral dalam Pilkada DKI Jakarta, sehingga reaksi MUI soal Gubernur Basuki Tjahja Purnama (Ahok) yang mengutip al-Maidah 51 tidak bisa disamakan sebagai sikap politik.

"Tidak benar secara kelembagaan kami mendukung calon tertentu dalam Pilkada Jakarta. MUI tidak ikut poros mana pun," katanya.

Dia mengatakan, pernyataan MUI terkait Ahok yang mengutip al-Maidah 51 itu tidak bisa dibenarkan. Alasannya, Ahok dinilai tidak seksama dalam melakukan tafsir surah, sebagaimana disebutkan Gubernur Jakarta yang tersurat dan tersirat dalam al-Maidah 51 adalah bohong.

Kendati demikian, Ma'ruf mengatakan, MUI tidak melarang anggotanya untuk melakukan aktivitas demokrasi dengan mendukung calon tertentu. Jika anggota MUI mengambil sikap politik tertentu, maka itu adalah tindakan pribadi atau bukan sikap organisasi ulama tertinggi MUI.

"Orang boleh memilih mana saja. Di MUI ini kami 'warnanya' banyak," ucap Ma'ruf. Warna yang dimaksudkan petinggi PBNU tersebut adalah anggota MUI memiliki latar belakang yang bermacam-macam, termasuk sikap politik.

Seperti diketahui, Nusron Wahid membela Ahok dalam kasus dugaan penistaan agama. Menurut Kepala BNP2TKI, yang paling tahu kandungan surah al-Maidah ayat 51 adalah Allah dan Rasulullah Muhammad SAW.

"Saya ingin menegaskan di sini, yang namanya teks apa pun, itu bebas tafsir, bebas makna. Yang namanya Alquran yang paling sah untuk menafsirkan yang paling tahu tentang Alquran itu sendiri adalah Allah SWT dan Rasulullah. Bukan Majelis Ulama Indonesia, karena kebenaran itu datangnya dari Allah SWT. Itu adalah (dasar) ilmu tafsir," tegasnya. Nusron juga menegaskan yang paling tahu kandungan ayat Alquran surah al-Maidah ayat 51 adalah Allah. [yy/republika]

Nusron Wahid Antithesis NU

Nusron Wahid Antithesis NU


Nusron Wahid Antithesis NU


Fiqhislam.com - Saya cukup terkejut dan sangat terusik dengan sikap Nusron di acara ILC TVOne Selasa (12/06/2016). Baik pada sikap pikirannya maupun sikap bahasa lisan dan tubuh (body language) menunjukkan kerendahan yang sangat. Ketidak mampuan seseorang menyampaikan pemikiran secara elok, walaupun seandainya benar, menunjukkan adanya sesuatu yang salah. Apalagi ketika pemikiran atau pemahaman itu memang, selain ignorant, arrogant, juga memang “blunder”.

Saya banyak tidak setuju dengan pola pikir kaum liberal. Karena liberalisme berbeda dengan logika dalam pemikiran. Logika itu sehat dan perlu. Tapi liberal bisa berarti ketidak inginan terikat dengan batas-batas keagamaan, bahkan yang disetujui sebagai batas fundamental sekalipun.

Saya sangat logis. Bahkan menganggap bahwa agama dan iman sekalipun itu memiliki basis logika yang kuat. Tapi tidak berarti batas-batas atau dalam bahasa agama “huduud” harus diinjak-injak atas nama logika. Karena selogis apapun pemikiran manusia, niscaya memiliki keterbatasan, bahkan cenderung menjadi perangkap kekeliruan. Oleh karenanya memang pada akhirnya, logika tetap harus dipergunakan pada batas-batas yang telah ditetap oleh ketetapan langit (wahyu).

Nusron tidak saja liberal. Tapi karakter yang mengekpresikan liberalisme dia dibangun di atas karakter yang tidak berakhlak. Kata-kata kasar, mimik wajah, mata terbelalak, dan jelas menampakkan emosi yang tidak terkontrol, semuanya menunjukkan siapa Nusron sesungguhnya.

Sejujurnya saya tidak terlalu kenal Nusron. Dan saya juga tidak terlalu ingin membuang energi, waktu dan pemikiran untuk membicarakannya. Karena sesungguhnya tidak terlalu bermutu untuk dibahas. Tapi dalam acara ILC itu terdapat beberapa hal yang sangat menggelitik, bahkan mengusik intelektualitas, bahkan sensitifitas iman saya.

Pertama, pernyataan bahwa yang berhak memahami Al-Quran adalah hanya Allah dan RasulNya. Pernyataan ini sangat paradoks dengan posisi keagamaan Nusron yang selalu mengatakan bahwa teks-teks agama itu harus dengan logika. Bahkan yang menentukan kebenaran adalah logika manusia, seperti pada posisi dasar liberalisme.

Kedua, pernyataan di atas sejatinya bertentangan dengan tujuan dasar Al-Quran untuk dipahami oleh manusia: “Inna anzalnaahu Qur’aanan Arabiyan la’allakuk ta’qiluun“. Intinya Al-Quran diturunkan untuk dipahami. Dan kalau hanya Allah dan RasulNya yang paham makna Al-Quran, untuk apa diturunkan kepada manusia? Apalagi jika memang Al-Qur’an itu ditujukan sebagai petunjuk (hudan linnas). Bisakah manusia menjadikannya sebagai manual hidup jika tidak memahaminya?

Ketiga, pernyataannya tentang pernyataan Ahok bahwa hanya Ahoklah yang paham. Nusron secara tidak langsung mengatakan semua orang harus menutup telinga dan mata dari sikap dan kata Ahok. Ada dua kemungkinan dalam hal ini. 1. Boleh jadi karena kebutaan dan ketulian Nusron menghendaki semua manusia buta dan tuli. Sehingga tidak perlu lagi atau berpura-pura tidak tahu lagi apa yang diucapkan oleh Ahok. 2. Boleh juga karena Yusron sudah menempatkan Ahok pada posisi Tuhan yang firmanNya absolut dan hanya dia yang paham.

Keempat, penampilan Nusron dengan mimik wajah yang emosional, kata-kata yang tidak terkontrol, nampaknya memang satu karakter dengan orang yang ingin dimenangkannya. Tampil dalam setting diskusi, apalagi disiarkan secara langsung le seluruh pelosok tanah air melalui televisi nasional, sangatlah tidak pantas dengan emosi yang tidak terkontrol. Biasanya sikap seperti itu sekaligus menjadi ukuran kedalaman ilmu dan kematangan kejiwaan seseorang.

Kelima, mungkin yang paling mengusik adalah sebagai kader NU (semoga benar) sikap Nusron adalah antithesis dari karakater NU yang tradisinya menghormati para ulama. Ketika Nusron berteriak-teriak menunjuk-nunjuk ulama, langsung atau tidak, maka dalam bahasa jalanan itu namanya “kurang ajar”.

Oleh karenanya semua pihak harus mencari cara agar Nusron ini tidak lagi mengulangi. Perbedaan pendapat okelah. Saya mendukung adanya perbedaan pendapat, termasuk dalam penafsiran teks-teks agama. Tapi hendaknya dilakukan pada batas-batas syar’i, dan yang lebih penting dibangun di atas dasar “khuluqi”. Wallahu al-Muwaffiq ilaa aqwamit thoriq (penutup ala NU). [yy/Imam shamsi Ali/islampos]

Menelusuri Akar Pemikiran Liberalisme

Menelusuri Akar Pemikiran Liberalisme


Menelusuri Akar Pemikiran Liberalisme


Fiqhislam.com - Liberalisme telah masuk ke dalam semua kelompok masyarakat manusia. Tidak terkecuali kaum muslimin. Indonesia sebagai Negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam pun demikian. Pengaruh liberalisme telah merasuk ke dalam semua lini kehidupan banyak masyarakat kaum muslimin di negeri ini.

Selain faktor internal kaum muslimin yang lemah dari sisi komitmen mereka terhadap agamanya, terutama persoalan yang berkaitan dengan akidah, tersebarnya aliran pemikiran liberalisme tidak lepas dari peran Barat yang sangat giat menyebarkannya melalui kekuatan politik, ekonomi dan teknologi informasi yang mereka miliki. Dan disinyalir, kaum muslimin adalah sasaran utama dari invansi pemikiran ini. Karena, sebagaimana yang dikatakan oleh Samuel P. Huntington dalam bukunya yang berjudul “Clash Of Civilization” (Benturan Peradaban), setelah jatuhnya aliran Komunisme, maka tantangan Barat selanjutnya adalah Islam. Menurutnya, “bahaya Islam” lebih berat dari peradaban-peradaban yang lain seperti Cina, Jepang dan negeri-negeri Asia Utara yang lain.

Selain itu, keyakinan Barat terhadap konsep liberal di antaranya juga diinspirasi oleh tesis Francis Fukuyama dalam “The End Of History” (Akhir Sejarah) yang menyebutkan bahwa demokrasi liberal adalah titik akhir dari evolusi sosial budaya dan bentuk pemerintahan manusia.[1]

Sebagai umat Islam, tentu kita tidak ingin peradaban Islam yang di bangun diatas akidah dan nilai-nilai agama Allah ini dirusak oleh orang-orang kafir dengan pemikiran-pemikiran luar itu. Islam adalah agama yang sempurna dengan ajaran yang bersumber dari wahyu Allah, Pencipta yang Mahamengetahui segala kebutuhan makhluk-makhluk-Nya. Karenanya Islam tidak membutuhkan isme-isme dan ideologi dari luar. Allah berfirman:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Maidah [5]: 3)

Sejarah Liberalisme

Sejarah kemunculan liberalisme terbentang dari sejak abad ke-15, saat Eropa memulai era kebangkitan (Renaissance) mereka sampai sekitar abad ke-18 masehi, setelah sebelumnya dari sejak abad ke-5, orang-orang Eropa hidup dalam era kegelapan (Dark Ages).[2]

Dr. Abdurrahim Shamâyil mengatakan, “Liberalisme secara teori politik, ekonomi dan sosial tidak terbentuk dalam satu waktu dan oleh satu tokoh pemikir, akan tetapi ia dibentuk oleh sejumlah pemikir. Liberalisme bukan pemikiran John Luke (w 1704), bukan pemikiran Rousseau (1778), atau pemikiran John Stuart Mill (w 1873), akan tetapi setiap dari mereka memberikan konstribusi yang sangat berarti untuk ideologi liberalisme.”[3]

Sejarah liberalisme dimulai sebagai reaksi atas hegemoni kaum feodal pada abad pertengahan di Eropa. Sebagaimana diketahui, Kristen adalah agama yang telah mengalami perubahan dan penyimpangan ajaran. Pada tahun 325 M, Imperium Romawi mulai memeluk agama Kristen yang telah mengalami perubahan tersebut, yaitu setelah agama Kristen merubah keyakinan tauhid menjadi trinitas dan penyimpangan-penyimpangan yang lainnya.

Pada saat yang sama, sistem politik yang dianut oleh penguasa untuk memerintah rakyatnya ketika itu adalah feodalisme; sistem otoriter yang zalim, menekan dan memasung kebebasan masyarakat. Sistem feodal berada pada puncaknya di abad ke-9 Masehi ditandai dengan munculnya kerajaan-kerajaan dan hilangnya pemerintahan pusat. Kaum feodal terbagi menjadi tiga unsur ketika itu; (1) intitusi gereja, (2) kaum bangsawan dan (3) para raja. Semuanya memperlakukan rakyat yang bermata pencaharian sebagai petani dengan otoriter, zalim dan sewenang-wenang.[4]

Kehidupan beragama dibawah institusi gereja juga sarat dengan penyimpangan. Tersebarnya peribadatan yang tidak memiliki landasan dalam kitab suci dan merebaknya surat pengampunan dosa adalah diantaranya. Paus Roma, ketika mereka membutuhkan dana untuk membiayai aktifitas Gereja, mereka menerbitkan surat pengampunan dosa dan menghimbau masyarakat untuk membelinya dengan iming-iming masuk surga. Pendapat-pendapat tokoh agama pun bersifat absolut dan tidak boleh digugat. Alquran juga menyebutkan di antara penyimpangan mereka:

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At Taubah [9]: 31)

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” (QS. At Taubah [9]: 34)

Penyimpangan keyakinan, ditambah dengan sistem politik otoriter inilah faktor utama yang kemudian melahirkan pemikiran liberal. Saat masyarakat tertekan dan hidup dalam kezaliman, muncullah reaksi yang bertujuan kepada kebebasan hidup. Hal yang telah menjadi sunnatullah.[5]

Kesadaran masyarakat Eropa yang ingin bebas dari segala bentuk tekanan itu mengharuskan mereka untuk melakukan tranformasi pemikiran. Diantara proses transformasi pemikiran ini adalah reformasi agama. Pada akhir abad ke-15, muncul seorang tokoh Gereja asal Jerman bernama Martin Luther (w 1546), kemudian diikuti oleh John Calvin (w 1564), lalu John Nouks (w 1572). Mereka melakukan perlawanan terhadap Gereja Katolik yang kemudian mereka beri nama Protestan.[6]

Gerakan reformasi agama yang dilakukan oleh Luther ini memiliki pengaruh besar dalam sejarah liberalisme selanjutnya. Rumusan pemikiran Luther dapat disimpulkan menjadi beberapa poin berikut:

  1. Otoritas agama satu-satunya adalah teks-teks Bible dan bukan pendapat tokoh-tokoh agama.
  1. Pengingkaran terhadap sistem kepausan gereja yang berposisi sebagai khalifah almasih.
  1. Menegasikan keyakinan pengampunan atau tidak diampuni (dari institusi geraja).
  1. Ajakan kepada liberalisasi pemikiran, keluar dari tirani tokoh agama dan monopoli mereka dalam memahami kitab suci, klaim rahasia suci serta pengabaian peran akal atas nama agama.[7]

Gerakan ini disebut sebagai gerakan liberal karena ia bersandar kepada kebebasan berfikir dan rasionalisme dalam menafsirkan teks-teks agama.[8]

Perlawanan terhadap gereja dan feodalisme terus berlanjut di Eropa. Runtuhnya feodalisme menutup abad pertengahan dan abad selanjutnya disebut dengan abad pencerahan (Enlightment). Beberapa tokoh pemikiran muncul. Di Perancis, Jean Jacues Rousseau (w 1778) dan Voltaire (w 1778) adalah diantara pemikir yang perannya sangat berpengaruh. Karya-karya mereka berdua menjadi inspirasi gerakan politik Revolusi Perancis pada tahun 1789, puncak dari perlawanan terhadap hegemoni feodal.

Namun, gerakan yang tadinya sebagai reformasi agama, pada perkembangan selanjutnya perlawanan terhadap gereja mengarah kepada atheisme. Para pemikir dan filusuf Perancis rata-rata adalah para atheis yang tidak mengakui keberadaan agama. Sejarah panjang agama Kristen dari sejak penyimpangan dan perubahan ajaran hingga perang agama yang meletus akibat reformasi Luther memunculkan kejenuhan yang berakibat hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap agama. Kebebasan rasional (akal) secara mutlak akhirnya menjadi ciri utama dari gerakan ini.[9]

Dr. Abdulaziz al Tharify mengatakan, “Pengagungan terhadap akal semakin nampak pada waktu-waktu revolusi. Mereka mengangkatnya dan mempertuhankannya. Sebagian mereka bahkan mengatakan bahwa ini adalah penyembahan terhadap akal. Para tokoh revolusi mengajak orang-orang untuk meninggalkan agama, terkhusus agama katolik, mereka memutuskan hubungan Perancis dengan Vatikan. Dan pada tanggal 24 November 1793 M, mereka menutup gereja-gereja di Paris, merubah sekitar 2400 fungsi gereja menjadi markaz-markaz rasionalisme dan untuk pertama kalinya digagas soal kebebasan kaum wanita.”[10]

Intinya, titik tolak liberalisme berangkat dari perlawanan terhadap penguasa absolut raja dan institusi gereja yang mengekang kebebasan masyarakat.[11]

Pengertian Liberalisme

Secara etimologi, Liberalisme (dalam bahasa inggris Liberalism) adalah derivasi dari kata liberty (dalam bahasa inggris) atau liberte (dalam bahasa Perancis) yang berarti “bebas”. Adapun secara terminologi, para peneliti mengemukakan bahwa Liberalisme adalah terminologi yang cukup sulit untuk didefinisikan. Hal itu karena konsep liberalisme yang terbentuk tidak hanya dalam satu generasi, dengan tokoh pemikiran yang bermacam-macam dan orientasi yang berbeda-beda.

Dalam al Mawsû’ah al ‘Arabiyyah al Âlamiyyah dikatakan, “Liberalisme termasuk terminologi yang samar, karena makna dan penegasannya senantiasa berubah-ubah dalam bentuk yang berbeda dalam sepanjang sejarahnya.”[12]

Namun demikian, liberalisme memiliki esensi yang disepakati oleh seluruh pemikir liberal pada setiap zaman, dengan perbedaan-perbedaan trend pemikiran dan penerapannya, sebagai cara untuk melakukan reformasi dan menciptakan produktifitas. Esensi ini adalah, bahwa liberalisme meyakini kebebasan sebagai prinsip dan orientasi, motivasi dan tujuan, pokok dan hasil dalam kehidupan manusia. Ia adalah satu-satunya sistem pemikiran yang hanya menghendaki untuk mensifati kegiatan manusia yang bebas, menjelaskan dan mengomentarinya.[13]

Dr. Sulaiman al Khurasyi mengatakan, “Liberalisme adalah aliran pemikiran yang berorientasi kepada kebebasan individu, berpandangan wajibnya menghormati kemerdekaan setiap orang, meyakini bahwa tugas pokok negara adalah melindungi kebebasan warganya seperti kebebasan berfikir dan berekspresi, kepemilikan swasta dan yang lainnya. Aliran pemikiran ini membatasi peran penguasa dan menjauhkan pemerintah dari kegiatan pasar. Aliran ini juga dibangun diatas prinsip sekuler yang mengagungkan kemanusiaan dan berpandangan bahwa manusia dapat dengan sendirinya mengetahui segala kebutuhan hidupnya.

Dalam Acodemik American Ensiclopedia dikatakan, “Sistem liberal yang baru (yang termanifestasi dalam pemikiran abad pencerahan) memposisikan manusia sebagai tuhan dalam segala hal. Ia memandang bahwa manusia dengan seluruh akalnya mampu memahami segala sesuatu. Mereka dapat mengembangkan diri dan masyarakatnya melalui kegiatan rasional dan bebas.”[14]

Karakteristik Liberalisme

Walaupun liberalisme bukan terdiri dari satu trend pemikiran, namun kita dapat mengenali aliran ini dengan karakteristik khusus. Karakter paling kuat yang ada dalam aliran ini adalah:

–  Kebebasan Individu

Setiap orang bebas berbuat apa saja tanpa campur tangan siapa pun, termasuk negara. Fungsi negara adalah melindungi dan menjamin kebebasan tersebut dari siapapun yang mencoba untuk merusaknya. Oleh karena itu, liberalisme sangat mementingkan kebebasan dengan semua jenisnya. Kekebasan berkreasi, berpendapat, menyampaikan gagasan, berbuat dan bertindak, bahkan kebebasan berkeyakinan adalah tema yang mereka ingin wujudkan dalam kehidupan ini.

Kebebasan dalam pandangan mereka tidak berbatas, selama tidak merugikan dan bertabrakan dengan kebebasan orang lain. Kaidah kebebasan mereka berbunyi, “Kebebasan Anda berakhir pada permulaan kebebasaan orang lain.”[15]

Rasionalisme

Penganut liberalisme meyakini bahwa akal manusia mampu mencapai segala kemaslahatan hidup yang dikehendaki. Standar kebenaran adalah akal atau rasio. Karakter ini sangat kentara dalam pemikiran liberal. Rasionalisme diantaranya nampak pada:

Pertama, keyakinan bahwa hak setiap orang bersandar kepada hukum alam. Sementara hukum alam tidak dapat diketahui kecuali dengan akal melalui media indera/materi atau eksperimen. Dari sini kita mengenal aliran filsafat materialisme (aliran filsafat yang mengukur setiap kebenaran melalui materi) dan empirisme (aliran filsafat yang menguji setiap kebenaran melalui eksperimen).

Kedua, negara harus bersikap netral terhadap semua agama. Karena tidak ada kebenaran yang bersifat yakin atau absolut, yang ada adalah kebenaran yang bersifat relatif. Ini yang dikenal dengan “relatifisme kebenaran”.

Ketiga, perundang-undangan yang mengatur kebebasan ini semata-mata hasil dari pemikiran manusia, bukan syariat agama.[16]

Perspektif Islam

Dari latar belakang sejarah liberalisme yang telah dipaparkan di atas, kita dapat menilai bahwa liberalisme jelas sangat bertolak belakang dengan ajaran Islam. Sejarah kemunculannya yang sangat dipengaruhi oleh situasi sosial-politik dan problem teologi Kristen ketika itu dapat kita jadikan alasan bahwa Islam tidak perlu, dan tidak akan perlu menerima liberalisme. Karena sepanjang sejarahnya, Islam tidak pernah mengalami problem sebagaimana yang dialami oleh agama Kristen. Oleh karena itu, tidak ada alasan mendasar bagi Islam untuk menerima konsep liberalisme dengan semua bentuknya.

Apalagi jika ditilik dari konsep pokoknya, pemikiran liberalisme sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Kebebasan mutlak ala liberalisme adalah kebebasan yang mencederai akidah Islam, ajaran paling pokok dalam agama ini. Liberalisme mengajarkan kebebasan menuruti semua keinginan manusia, sementara Islam mengajarkan untuk menahannya agar tidak keluar dari ketundukan kepada Allah. Hakikat kebebasan dalam ajaran Islam adalah, bahwa Islam membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk, kepada penghambaan kepada Rabb makhluk.

Begitu pun dengan otoritas akal sebagai sumber nilai dan kebenaran dalam ‘ajaran’ liberalisme. Sumber kebenaran dalam Islam adalah wahyu, bukan akal manusia yang terbatas dalam mengetahui kebenaran. Dengan demikian, menerima liberalisme berarti menolak Islam, dan tunduk kepada Islam berkonsekwensi menanggalkan faham liberal. Wallâhu ‘alam wa shallallâhu ‘ala nabiyyinâ Muhammad.

Ustadz Abu Khalid Resa Gunarsa, Lc / Muslim.Or.Id


[1] al Librâliyyah, Nasy`atuhâ wa Majallâtuhâ, Dr. Abdurrahim Shamâyil al Sulami
[2] Usus al Nahdhah al Râsyidah, hal. 9, Ahmad al Qashash.
[3] al Librâliyyah Nasy`atuhâ wa Majallâtuhâ
[4] Haqîqatu al Librâliyyah wa Mawqiful Islâm minhâ, hal. 29, Dr Sulaiman al Khurasyi
[5] Idem, hal 30.
[6] Al ‘Aqliyyah al Librâliyyah, Dr. Abdul aziz al Tharify.
[7] Lihat Muhâdharât fî al Nashrâniyyah, hal. 224 [Haqîqatu al Librâliyyah wa Mawqiful Islâm minhâ, hal. 34]
[8] Haqîqatu al Librâliyyah wa Mawqiful Islâm minhâ
[9] Lihat al Nidzâm al Siyâsy al Islâmy wa al Fikri al Librâly, hal. 39-47, Dr. Muhammad al Jauhay Hamad al Jauhary.
[10] Al ‘Aqliyyah al Librâliyyah, hal. 70, Dr. Abdul aziz al Tharify
[11] Artikel “Melacak Akar dan Manifesto Liberalisme”
[12] Al Mawsû’ah al ‘Ârabiyyah al Âlamiyyah, 21/247 [al Librâliyyah Nasy`atuhâ wa Majallâtuhâ]
[13] Mafhûm al Hurriyyah, hal. 39, Abdullah al ‘Arawi [al Librâliyyah Nasy`atuhâ wa Majallâtuhâ]
[14] Haqîqatu al Librâliyyah wa Mawqiful Islâm minhâ, hal. 12-13.
[15] al Librâliyyah Nasy`atuhâ wa Majallâtuhâ
[16] Haqîqatu al Librâliyyah wa Mawqiful Islâm minhâ, hal. 24-25 dengan penyesuaian.