fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Ramadhan 1442  |  Selasa 13 April 2021

Mengokohkan Madzhab Syafi'i

Mengokohkan Madzhab Syafi'iFiqhislam.com - Siapa yang tak mengenal Muhammad bin Idris bin al-'Abbas bin Utsman bin Syafi' (150-204 H)? Nasab beliau dan Rasulullah SAW bertemu di kakek beliau yang bernama Abdi Manaf bin Qusay. Sosok keturunan Quraisy dan ahlulbait dari jalur muktamad dan tak diragukan.

Namun, bukan itu yang membuatnya masyhur, melainkan karena ilmu dan fatwanya tersebar ke berbagai belahan dunia, termasuk di nusantara. Kaum Muslimin Indonesia, Malaysia, Brunei, selatan Thailand secara resmi atau tidak mengamalkan ajaran beliau "Mazhab Syafi'i", terutama dalam pengamalan ibadah mahdhah (shalat, zakat, puasa, dan lainnya).

Mazhab Syafi'i adalah salah satu mazhab ahlussunnah yang muktabar. Dasar hukum pijakan mazhab ini bersumber dari yang disepakati ahlusunnah. Alquran, hadis, ijma', dan qiyas. Imam Ahmad Ibn Hanbal (wafat 241 H) berkata, "Ilmu fikih pernah tertutup (jumud) di kalangan para ahlinya hingga Allah membukanya dengan sosok as-Syafi'i".

Salah satu keunggulan Imam as-Syafi'i dan mazhab beliau menjadi lebih kokoh jika kita kembali menelaah sejarah perkembangan ilmu Islam. Imam as-Syafi'i adalah peletak asas ilmu Ushul Fiqih yang merupakan rangkaian ilmu dasar dalam proses pengambilan hukum Islam. Pijakan ini masih dapat kita nikmati hasilnya lewat karya fenomenal beliau, kitab ar-Risalah.

Sebagian ulama memosisikan mazhab ini sebagai jembatan yang mempertemukan dua madrasah fikih sebelum kemunculan mazhab yang empat; madrasah al-Hijaz dengan keteguhan dan konsistensinya berpegang kepada hadis dan atsar (ahlu al-hadits), dan madrasah Kufah (Irak) yang tajam berdalilkan akal dan pendekatan logika (ahlu ar-ra'y).

Mengapa perlu mengokohkan mazhab Syafi'i dalam pendekatan dakwah di nusantara? Pertama, mempelajari dan mengamalkan mazhab Syafi'i adalah mengamalkan pemahaman ahlusunnah wal jamaah itu sendiri.

Adalah keliru jika dikatakan bermazhab tidak dianjurkan dalam mengaplikasikan ajaran Islam, bahkan menuduhnya keluar dari koridor ahlussunnah. Anggapan ini bertentangan dengan sejarah perkembangan Islam hingga hari ini.

Di Afghanistan, Kazakstan, India, Pakistan, Bangladesh, Turki, dan sebagian negara Eropa Timur terkenal dengan pengikut mazhab Hanafi. Di sebagian besar negara di benua Afrika terkenal dengan mazhab Malikinya.

Mazhab Hambali diamalkan oleh sebagian penduduk negeri Syam dan kawasan Teluk. Demikian juga dengan mazhab Syafi'i yang tersebar di berbagai kawasan hingga ke Asia Tenggara sebagai bukti sejarah.

Menelisik sejarah, setelah wafatnya Rasulullah SAW, para sahabat berpencar, sehingga penduduk wilayah yang menjadi tempat menetap para sahabat banyak dipengaruhi mazhab (baca: pendapat) dan fatwa sahabat tersebut.

Zaid bin Tsabit dan Ibnu Umar tetap memilih tinggal di Madinah, Ibnu Abbas di Makkah, Ibnu Mas'ud di Kufah Irak, Ibnu Amr' bin Ash di Mesir, dan sebagianya. Tak terkecuali para tabiin dan tabi' tabii'in setelah generasi sahabat.

Di Madinah terkenal dengan para fuqahaa as-sab'ah, di Makkah mazhab Atha bin Abi Rabah, 'Ikrimah, Thawus. Kedua madrasah ini terkenal dengan Madrasah al-Hijaz.

Di Kufah dikawal oleh beberapa murid Ibnu Mas'ud, di antaranya, al-Qamah, Masruq, Qadhi Syuraih yang kemudian diteruskan oleh imam an-Nakhai'y. Begitu seterusnya hingga kemunculan mazhab empat yang tetap eksis hingga kini.

Semua ini memperkuat bahwa bermazhab secara umum dibolehkan, begitu juga bermazhab Syafi'i secara khusus di Indonesia dan menjadikannya sebagai wasilah untuk memperjuangkan dan menegakkan manhaj ahlussunnah di nusantara adalah maslahat yang besar.

Kedua, mayoritas masyarakat Indonesia mengamalkan mazhab ini, terutama dalam hal ibadah. Unsur al-bashirah dalam berdakwah adalah mengetahui kondisi objek dakwah, sehingga membantu dai menyampaikan dakwahnya.

Termasuk, unsur al-hikmah dalam berdakwah adalah memahami yang diamalkan masyarakat dalam timbangan syariat yang benar tanpa mudah menyalahkan dan memvonis sesat, menyimpang, bid'ah, apalagi pada fase awal amal dakwiy. Dalam kaitan dengan mazhab Syafi'i, dai perlu memahami ini dan menjadikannya sebagai starting point pendekatan dakwah.

Tuntutan al-bashirah dan al-hikmah dari sang dai lebih dipertegas. Jangan sampai karena persoalan khilafiyah muktabarah, apalagi hanya perbedaan afdhaliyah yang diyakini dan dipraktikkan oleh sang dai menjadi penyebab objek dakwah menjauh, bahkan menolak sang dai.

Padahal, jika ia mau "bertoleransi" dalam batasan yang dibenarkan, akan meminimalkan bahkan menihilkan tabir pemisah dai dengan objek dakwahnya. Dalam keadaan tertentu, sang dai dibolehkan oleh para ulama untuk beramal dengan pendapat yang dianggap tidak kuat dikarenakan adanya kemaslahatan yang lebih besar.

Ketiga, pentingnya gerakan pemurnian mazhab Syafi'i. Salah satu yang menarik dari mazhab Syafi'i adalah kekuatan dasar mazhab ini secara umum, baik dari sisi pendalilan naqliy maupun aqliy.

Di tengah masyarakat kita, yang terjadi besarnya pengaruh taklid pengamalan agama. Diperparah banyaknya penisbatan amalan ini kepada mazhab Syafi'i. Gerakan pemurnian mazhab (ta'shil al-mazhab) perlu digalakkan untuk mengembangkan mazhab Syafi'i dari sumber dan pemahaman yang benar.

Keempat, memasyarakatkan mazhab Syafi'i dalam segala aspeknya menjadikan tradisi keilmuan Islam di Indonesia menjadi kokoh. Di antara penyebab eksisnya mazhab Syafi'iyyah dengan sentuhan Asy'ariyah adalah adanya madrasah yang didirikan dengan tujuan tersebut.

Sudah tiba masanya pengajaran mazhab Syafi'i bukan lagi domain pondok pesantren di Indonesia. Ia harus menjadi gerakan terstruktur dan sistematis, mulai dari lembaga formal hingga kajian di masjid.

Dari sisi ini diharapkan adanya kurikulum terpadu yang memasukkan unsur ini ke sistem pembelajaran kita, baik formal maupun nonformal.

Negara atau lembaga yang memelihara tradisi keilmuan melalui mazhab tertentu akan mudah menjaga kesolidan dan kesatuan. Arab Saudi yang konsisten dengan mazhab Hambalinya, semua jenjang pendidikan formal dengan sentuhan Hanabilah.

Begitu juga di sebagian negara Afrika dengan tradisi keilmuan mazhab Malikinya. Dan begitulah harapan terhadap mazhab Syafi'i di Indonesia. Dengan memelihara tradisi keilmuan bernuansa mazhab ini, insya Allah, akan membentengi umat dari pemahaman yang merusak sendi penting keislaman.

Pengaruh liberalisasi dan segala komponen pendukungnya yang menjauhkan umat dari turats dan pemahaman ulama salaf, begitu juga gerakan Syiah yang semakin mengkhawatirkan, insya Allah, dapat dibendung dengan menghidupkan tradisi keilmuan mazhab ini.

Akhirnya, berdakwah dengan manhaj wasathiyah adalah berdakwah dengan dua komponen utama yang dikandung oleh makna washatiyah itu sendiri, yaitu al-'adl (keadilan) dan al-khairiyah (yang terbaik).

Mengokohkan mazhab Syafi'i sebagai pendekatan dakwah merupakan salah satu solusi wasathiyah dalam menjembatani aktivis dakwah dengan objek dakwah secara elegan tanpa perlu menggiring masyarakat kepada persoalan tak penting, apalagi menghambat laju pergerakan dakwah kepada manhaj yang sahih. [yy/republika]

Akhmad Hanafi Dain Yunta
Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar Sulawesi Selatan, Dewan Syariah Wahdah Islamiyah Pusat

 

Tags: madzhab | hadits | sunnah | ulumul