22 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 27 Nopember 2021

basmalah.png

MUI Minta Warga Tidak Kucilkan Nur Tajib Si Nabi Palsu

MUI Minta Warga Tidak Kucilkan Nur Tajib Si Nabi Palsu   Fiqhislam.com - Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, KH Ahmat Busro Damanhuri, meminta warga Bangkalan tidak mengucilkan Nur Tajib, warga Desa Patereman, Kecamatan Modung, yang mengaku Nabi Isa. Menurut Busro, dugaan penistaan agama oleh Nur Tajib dianggap selesai karena yang bersangkutan telah mengakui kesalahannya dan bertaubat.

"Saya minta warga tidak mengganggu Nur Tajib. Masalahnya sudah beres," katanya seusai acara pembinaan akidah terhadap Nur Tajib dan pengikutnya di Kepolisian Resor Bangkalan, Kamis, 28 April 2016.

Untuk mencegah kemungkinan munculnya gangguan terhadap Nur Tajib dan keluarganya, ucap Busro, MUI dan Nahdlatul Ulama di Kecamatan Modung akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat bahwa Nur Tajib telah bertaubat. Selain itu, polisi menjaga Nur Tajib agar tidak diganggu siapa pun.

Menurut Busro, yang paling penting adalah Nur Tajib harus benar-benar menunjukkan sikap bahwa dia telah bertaubat. Dia yakin kemungkinan munculnya gangguan bisa diminimalkan. "Berbuat salah itu biasa, yang penting tidak mengulangi lagi," ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Polres Bangkalan Ajun Komisaris Bidarudin menuturkan keluarga meminta polisi tetap menahan Nur Tajib dan tidak memulangkannya meski telah bertaubat. "Keluarga khawatir ada gangguan dari warga karena masalah seperti ini sensitif," kata Bidarudin.

Atas permintaan itulah, ucap Bidarudin, polisi belum memulangkan Nur Tajib. Saat ini dia diinapkan di ruang penyidik Satuan Reserse Kriminal Polres Bangkalan. Nur Tajib tidak dimasukkan ke sel, sehingga dia bebas beraktivitas.

Pengakuan bersalah Nur Tajib disampaikan Senin, 25 April 2016, setelah bertemu dengan MUI dan Kementerian Agama Bangkalan. Dalam pertemuan itu, Nur Tajib mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan ulama Bangkalan.

Dinasihati Ulama, Begini Perilaku Si Nabi Isa Palsu

Nur Tajib, 40 tahun, warga Desa Patereman, Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan, yang mengaku sebagai Nabi Isa, dipertemukan dengan sekitar 20 pengikutnya di Masjid Kepolisian Resor Bangkalan, Kamis, 28 April 2016.

Pertemuan juga dihadiri perwakilan Majelis Ulama Indonesia Bangkalan, Nahdlatul Ulama Bangkalan, dan Kantor Wilayah Kementerian Agama Bangkalan.

Mengenakan kemeja batik warna krem, celana hitam, dan kopiah putih, Nur Tajib terlihat tanpa ekspresi. Saat masuk masjid, Nur, yang ditahan di Kepolisian Resor Bangkalan, langsung menyalami pengikutnya satu per satu. Dia lebih banyak menunduk.

Ketua Majelis Ulama Bangkalah KH Ahmat Busro Damanhuri memberi wejangan kepada Nur bahwa ajaran Islam telah sempurna. Karena itu dia meminta agar ajaran tersebut tidak ditambah-tambah atau diubah. "Kalau ada yang mengaku sebagai nabi, itu pasti ajaran sesat," katanya.

Busro menuturkan Majelis Ulama telah mengeluarkan sepuluh kriteria ajaran sesat. Di antaranya ialah mempercayai ada nabi setelah Muhammad, mengingkari keaslian Al-Quran, dan mengubah ajaran pokok dalam ibadah salat serta haji. "Agar taubat diterima, harus berhenti berbuat dosa, bertekad tidak mengulangi," ucap Busro.

MS, salah satu pengikut Nur, mengaku tidak pernah dibaiat. Hubungannya dengan Nur, menurut MS, hanya sebatas urusan berobat. Sambil memberi pengobatan itulah, ucap MS, Nur Tajib menyebut dirinya sebagai jelmaan Nabi Isa.

MS menilai ada yang tidak beres dalam diri Nur Tajib. Namun karena merasa tak enak hati untuk membantah, dia hanya manggut-manggut. "Dalam hati saya tidak pernah mengakui dia sebagai Nabi Isa," tuturnya.

Busro menambahkan, bahwa setelah diteliti, warga yang disebut-sebut sebagai pengikut Nur Tajib umumnya ialah pasiennya. Semula Busro khawatir ada warga yang terkontaminasi ajaran sesat Nur Tajib. Namun setelah dicek, ternyata tidak satu pun yang mengakui Nur Tajib sebagai utusan Allah. "Karena hatinya tidak mengakui Nur Tajib sebagai Nabi Isa, maka tidak perlu melakukan tobat massal dengan membaca kalimat syahadat," katanya.

Setelah memberi wejangan, Busro mengajak semua yang hadir di masjid Polres Bangkalan melaksanakan salat zuhur berjemaah. Nur Tajib ikut salat. Dia memilih berdiri di barisan depan, tepat di belakang imam. [yy/tempo]