4 Jumadil-Awal 1443  |  Rabu 08 Desember 2021

basmalah.png

Lima Pria Ditangkap karena Cetak Kalender Muslim Rohingya

Lima Pria Ditangkap karena Cetak Kalender Muslim Rohingya

Fiqhislam.com - Pemerintah Myanmar memenjarakan lima orang warga negaranya yang didakwa telah mencetak kalender berisi gambar penderitaan Muslim Rohingya di Myanmar.

Kelima pria tersebut didenda sebesar USD800 sekira Rp10 juta dengan ancaman dua tahun penjara karena dinilai telah melanggar hukum percetakan dan penerbitan Myanmar yang melarang materi penerbitan yang dapat merusak keamanan, regulasi dan ketertiban nasional.

Kepolisian Myanmar menyatakan, kelima tersangka itu ditangkap seminggu yang lalu di Yangon. Sementara enam orang pelaku lainnya masih dalam pengejaran.

“Mereka terbilang sangat cepat mengakui kesalahannya. Jadi pengadilan mendenda mereka masing-masing sebesar satu juta kyat (sekira Rp10,5 juta),” kata Kepala Polisi Pazundaung, Khin Maung Let kepada AFP, dikutip dari The International News, Rabu (25/11/2015).

Denda sejumlah itu terbilang besar bagi masyarakat Burma yang pendapatan per kapitanya saja USD1200 per tahun.

Khin mengungkap, awalnya diberitahu soal kalender itu dari Facebook. Kemudian petugas menggerebek sebuah percetakan di pinggiran Yangon.

“Kalender itu memuat kata-kata dan foto-foto yang menggambarkan Rohingya sebagai etnis minoritas di Myanmar. Hal seperti itu melanggar hukum hukum di sini dan kegiatan semacam itu merupakan pelanggaran hukum dan mengancam ketertiban nasional,” terang Khin.

Di negara pimpinan Presiden Perempuan Aung San Suu Kyi itu, Rohingya adalah minoritas Muslim yang seringkali tertindas oleh kekerasan komunal di negara yang mayoritas beragama Buddha tersebut.

PBB dan aktivis HAM dunia telah mengutuk perlakuan mereka di negara bagian barat Rakhine, di mana mereka menghadapi pembatasan atas hak bekerja dan berjalan-jalan. Mereka bahkan dibiarkan tinggal di kamp-kamp pengungsian yang suram. Pada pemilu November kemarin, ratusan ribu Mulsim Rohingya juga tidak mendapatkan hak pilihnya setelah kewarganegaraan mereka dicabut pemerintah sebelumnya.

Dilansir dari Tribune, pemerintah mengatakan bahwa mayoritas penduduk Rohingya adalah imigran ilegal dari Bangladesh. Meskipun, faktanya banyak dari mereka yang telah tinggal di negara itu selama beberapa generasi. [yy/okezone]