15 Dzulhijjah 1442  |  Minggu 25 Juli 2021

basmalah.png

Muslim di Swedia Berasal dari 40 Negara Berbeda

Muslim di Swedia Berasal dari 40 Negara Berbeda

Fiqhislam.com - Islam merupakan agama resmi kedua di Swedia setelah Kristen. Ada hampir lima persen populasi Muslim di Swedia dari total populasi sembilan juta jiwa.  Sebagian besar dari kalangan imigran atau keturunan migran.

Mayoritas Muslim tinggal di kota-kota besar dengan lebih dari 60 persen berada di tiga wilayah kota besar, Stockholm, Goteborg, dan Malmo. Populasi Muslim Swedia sangat beragam. Mereka berasal lebih dari 40 negara yang berbeda.

Di negara ini, Islam datang dibawa oleh para imigran yang lari dari rezim komunis atau konflik regional. Sebagian besar Suni, selain populasi Syiah dan Ahmadiyah.

Selain kaum migran, Muslim asli Swedia kian bertambah. Tidak ada catatan pasti, tapi dapat diperkirakan kelompok Muslim asli Swedia yang mualaf telah mencapai ribuan orang.

Salah seorang mualaf, Mohammed Knut Bernstrom, menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Swedia pada 1998. Yang me-narik, banyak juga mualaf Swedia tertarik masuk tarekat-tarekat sufi.

Yang tersohor, ada pelukis kenamaan Ivan Agueli yang mengikuti tarekat Syadziliyah, penulis filsafat-spiritual Tage Lindbom alias Sidi Zayd, tokoh intelektual dan spiritual Kurt Almqvist, serta Tord Olsson. Tage Lindbom dan Kurt Almqvist ini banyak berbicara tentang filsafat perenial.

Hubungan dengan Ottoman Pengaruhi Pandangan Swedia terhadap Islam

Ottoman Islam bukan hal baru bagi negara monarki ini. Selama paruh kedua abad ke- 17 dan awal abad ke-18, konstelasi politik Swedia membuat mereka harus menjalin hubungan dengan Islam. Jonas Otterbeck dalam "The Depiction of Islam in Sweden", The Muslim World 2002, menuturkan, pesaing politik terkuat Swedia waktu itu datang dari Rusia.

Satu-satunya kekuatan besar yang dianggap bisa diajak berkoalisi adalah Kekhalifahan Turki Utsmani. Maka, pada 1657, atas perintah Raja Karl X Gustav, berangkatlah seorang duta besar Swedia ke Istanbul guna mendapatkan dukungan penguasa Ottoman.

Hubungan keduanya semakin intim ketika Swedia meminta suaka dari Ottoman. Pada 1709, tentara Swedia meng alami kekalahan telak dalam pertempuran di Poltava.

Selama lima tahun, Raja Karl XII menghabiskan waktu di bawah perlindungan Ottoman sebelum kembali ke Swedia. Sebagai balas budi, Muslim dan Yahudi yang datang ke Swedia dari Kekaisaran Ottoman sejak 1718 mendapat jaminan bebas mempraktikkan agama mereka.

Kontak antara Swedia dan Ottoman terus menerus terjalin sepanjang abad ke-18. Di antara kaum elite Swedia, ada orang-orang yang mengagumi peradaban Ottoman. Studi Turki dan Persia didorong oleh kerajaan.

Kedutaan Swedia didirikan di Istanbul yang konon masih ada di samping Mevlevi hanesi di Istaklal Caddesi. Swedia ada lah kerajaan yang membutuhkan dukungan dari Ottoman. Relasi ini sangat memengaruhi pandangan rakyat Swedia terhadap Muslim.

Multikultural Situasi kemudian berubah pada abad- abad berikutnya. Ottoman runtuh. Kini, imigran Muslim dari Asia dan Timur Tengah yang mencari suaka ke Swedia.  Muslim pertama yang tercatat di Swedia adalah etnis Tatar Finlandia. Mereka bermigrasi dari Finlandia dan Estonia pada 1940-an.

Populasi Muslim Swedia meningkat secara signifikan selama kuartal terakhir abad ke-20. Dari hanya beberapa keluarga pada 1950, melonjak ke angka ratusan ribu pada akhir 1980-an. Eksistensi komunitas Muslim mulai kokoh setelah masuknya migran asal Timur Tengah pada 1970-an. [yy/republika]