19 Rabiul-Awal 1443  |  Senin 25 Oktober 2021

basmalah.png

Diskriminasi Muslim Amerika

Diskriminasi Muslim AmerikaAmerican Airlines Dituntut Atas Dugaan Diskriminasi Muslim

Fiqhislam.com - Empat pria asal Brooklyn telah mengajukan tuntutan federal senilai 9 juta dollar AS. Hal itu dilakukan untuk membela dua orang teman mereka yang mendapatkan perlakuan diskriminatif dan rasis dari maskapai American Airlines.

Dilansir dari Fox News, Rabu (20/1) mereka menceritakan tindakan rasis dari maskapai tersebut pada Desember tahun lalu. Kedua temannya yang bernama Shan Anand dan Nalmul Alam akan terbang dari Toronto menuju New York.

Tetapi, tiba-tiba seorang pramugari memberikan uang 75 dollar AS agar mereka bisa mengganti penerbangan dengan maskapai lain. Dalam dokumen yang diajukan pada Pengadilan Federal Brooklyn, penggugat mengatakan tindakan rasis itu dilakukan oleh seorang pramugari.

Disebutkan, pramugari tersebut memberikan uang pengganti atas suruhan pilot karena merasa gelisah dengan penampilan dua orang muslim tersebut.

Sampai saat ini, pihak maskapai mengaku masih melakukan peninjauan terhadap gugatan yang telah dilayangkan.

AS Bantah Perlakukan Rasis Politisi Australia Keturunan Pakistan

Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP) Amerika Serikat membantah adanya perlakuan rasis terhadap Mehreen Faruqi, seorang anggota parlemen negara bagian New South Wales, Australia.

Sebelumnya politisi keturunan Pakistan ini diinterogasi saat mendarat di Bandara Los Angeles pekan lalu. Dr Mehreen Faruqi yang merupakan politisi Partai Hijau (The Greens) datang ke AS untuk melakukan studi banding UU narkoba atas biaya sendiri. Dia juga bermaksud untuk mengunjungi keluarganya di sana.

Namun saat di imigrasi bandara LA, dia dan suaminya ditanyai "bagaimana anda bisa memegang paspor Australia" oleh petugas CBP. Keduanya kemudian digiring ke ruangan terpisah untuk diinterogasi.

"Kami dicecar berbagai pertanyaan mengapa kami datang ke AS, kapan terakhir saya ke Pakistan, apa yang saya lakukan di sana, apakah saya pernah ke AS sebelumnya," kata Dr Faruqi sambil menambahkan, dia diminta menunjukkan kartu identitas selain paspor serta diambil sisik jarinya.

Faruqi merasa petugas tersebut telah memperlakukannya secara rasis.

Namun kepada ABC, CBP AS membantah hal itu. "Sebagai bagian dari misi keamanan nasional, petugas kami mengecek validitas surat-surat perjalanan semua pengunjung tanpa melihat negara asalnya, ras, jenis kelamin, agama dan kepercayaannya," demikian dikatakan seorang juru bicara CBP.

"Petugas kami melakukan hal ini setiap harinya," tambahnya. "Bukan hal aneh jika seorang pengunjung diperiksa lebih lanjut."

Dijelaskan, petugas CBP berhasil mencegat rata-rata 27 ribu dokumen perjalanan palsu setiap tahunnya. "CBP menerima lebih dari sejuta pengunjung ke AS setiap 24 jam," jelasnya.

Dr Faruqi datang ke Australia pada 1992 bersama keluarganya, dan bergabung dengan Partai Hijau sejak 2004. Dia saat ini duduk sebagai anggota parlemen negara bagian NSW. [yy/republika]