fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


3 Ramadhan 1442  |  Kamis 15 April 2021

Sebanyak 429 Serangan Islamofobia Terjadi di Prancis Tahun 2015

Sebanyak 429 Serangan Islamofobia Terjadi di Prancis Tahun 2015

Fiqhislam.com - Aksi kriminal yang dilatari kebencian terhadap umat Islam (Islamofobia) di Prancis meningkat pesat. Menteri Dalam Negeri Prancis Bernard Cazeneuve mengungkapkan, kekerasan Islamofobia bertambah tiga kali lipat menjadi 400 tindak kejahatan selama tahun 2015.

"Lebih dari setengahnya, terjadi setelah insiden Charlie Hebdo pada Januari silam," kata dia seperti dilansir Daily Sabah, Kamis (21/1).

Tidak hanya umat Islam, umat Kristen, dan Yahudi di Prancis juga mengalami kekerasan dalam jumlah yang cukup tinggi. Menurutnya, sepanjang tahun 2015, terdapat 810 aksi kekerasan terhadap simbol-simbol agama Kristen.

Sementara itu, pada tahun yang sama, ada 806 aksi anti-Yahudi di Prancis. “Saya sangat menentang tindakan demikian,” katanya.

Pemicunya bisa dilihat dari insiden penyerangan Paris yang dilakukan ISIS dan menewaskan 130 orang. Dampaknya, tensi Islamofobia kian meningkat di Prancis. Kaum pengungsi asal Suriah di Eropa juga acapkali mengalami kekerasan hanya karena agama yang mereka anut.

Presiden Pusat Kajian Islamofobia Nasional, Abdallah Zekri menuturkan, sebanyak 429 serangan Islamofobia terjadi di Prancis sepanjang tahun lalu. Prancis sendiri merupakan negara dengan populasi Muslim terbanyak di Eropa, yakni sekitar 4-5 juta jiwa atau 6 persen dari total penduduk Prancis.

Umat Islam Prancis banyak menggunakan jaringan media sosial untuk menunjukkan sikap anti-ekstremisme. Berbagai simbol, semisal #NotInMyName dan #IamAMuslim, berupaya mempertegas pernyataan bahwa Islam tidak mengajarkan kekerasan.

Cara Muslim Prancis Menghapus Islamofobia

Pascaserangkaian serangan teror di Prancis, para pengurus masjid-masjid di sana berinisiatif untuk menyediakan tempat sebagai sarana bersilaturahim dan berdiskusi bagi warga sekitar.

Kegiatan yang dilakukan setiap akhir pekan tersebut dimaksudkan untuk mendorong integrasi dan menghapus stereotip negatif terhadap umat Islam.

Pada akhir pekan lalu, misalnya, banyak orang dari beragam latar belakang agama berkunjung ke masjid-masjid di Prancis untuk mengikuti kegiatan ini.

Mereka yang datang akan disuguhkan teh dan makanan ringan, lalu melakukan perbincangan hangat bersama para Muslim di sana. Keharmonisan segera tampak ketika umat Islam dan warga di sana saling bertukar pikiran dan mengeluarkan pendapat tentang topik-topik tertentu yang mereka diskusikan.

“Ini hal yang sangat baik, melihat bahwa Muslim bersedia menjangkau dan menunjukkan para warga bahwa mereka juga adalah bagian dari negara ini. Mereka juga berdiri untuk perdamaian dan masyarakat tidak perlu takut,”
ujar Rim Sarah Alouane, seorang aktivis hak asasi manusia dan kebebasan sipil dari Toulouse 1 University Capitole, seperti dilansir Aljazirah.

Ada 2.400 masjid di penjuru Prancis yang terlibat dalam kegiatan itu. Dewan Agama Islam Prancis (CFCM) adalah lembaga yang juga memprakarsai terselenggaranya acara tersebut. Ide kegiatan yang mirip seperti acara open house itu juga disambut baik oleh pemerintah di sana.

Pascaterjadinya serangan teror, masyarakat Prancis segera terjangkit gejala Islamofobia. Hal itu tentu tidak lepas dari klaim yang dilakukan oleh Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Akibatnya, beberapa Muslim di sana sempat mengaku bahwa mereka mengalami perlakuan rasis oleh warga sekitar. [yy/republika]