20 Safar 1443  |  Selasa 28 September 2021

basmalah.png

Bush Jual Saddam, Trump Jual Siapa?

Bush Jual Saddam, Trump Jual Siapa?Fiqhislam.com - Pakar politik dibuat garuk-garuk kepala karena kebingungan melihat tingkah laku petinggi partai Republik Donald Trump. Perilaku yang aneh, rasis, dan fanatik, dikombinasikan dengan tingkah yang sombong, membuat Trump merasa terasingkan di warga Meksiko, Afrika-Amerika, Muslim, feminis dan partai sayap kiri. Namun, pesan-pesan kebenciannya itu, semakin dipuja-puja oleh para pendukung laki-laki rasis itu.

Bahkan Paus Prancis sebagai ikon kaum Kristen, menghimbau untuk membangun dinding sepanjang 2.500 km guna memisahkan AS dari Meksiko dengan alasan adanya penjahat, pengadaran narkoba, dan pemerkosaan, untuk meningkatkan popularitas Trump.

Seperti dilansir Gulf News, Paus menyebut Trump dipuji karena kerendahan hatinya dan berasal dari rakyat miskin. Semua itu sebagai “penggadaian” dari pemerintah Meksiko

Baru-baru ini sebuah video yang dirilis dari situs CNN menunjukkan, Trump bertobat serta bersikeras akan membayar sejumlah uang $ 8 milyar untuk pembangunan dinding tersebut. Lucunya, Presiden Meksiko Felipe Calderon enggan membayar satu sen pun untuk pembangunan dinding “bodoh” itu, demikian menurut sang presiden itu.

Lantas Trump menjawab, pembangunan dinding ini baru saja dibangun 10 kaki lebih tinggi.

Sedangkan, tidak ada respon positif dengan tindakan Trump tersebut. Justru, beberapa simpatisan Republik jengkel dengan kebohongan yang dilontarkan George W. Bush terhadap Saddam Hussein. Bush menuduh Saddam memiliki senjata penghancur massal di Timur Tengah, yang sekarang melahirkan Iran dan ISIS.

“Saya ingin memberitahu Anda, jika mereka berbohong. Mereka mengatakan ada senjata massal. Padahal tidak ada sama sekali. Dan Mereka tahu jika itu tidak ada,” jelas para penonton, mengejek kelompok Trump.

Kritik untuk Trump

Pun begitu, jangan lupakan kritik pada Trump. Kritik terhadap Trump, nyatanya juga muncul dari sekutu Amerika sendiri. Kritik paling menonjol datang dari Perdana Menteri Inggris David Cameron. Cameron menyebut Trump “memecah belah dan tidak membantu.”

Trump juga bertentangan dengan walikota London. Gara-garanya, Trump berkomentar soal real estate Mogul London. Disebutnya real estate itu merupakan benteng umat Islam radikal dan polisi tidak bisa masuk ke lingkungan itu. Walikota London Boris Johnson mecibir komentar Trump dengan menyatakan, “Omong kosong!”.

Petisi untuk melarang Trump ke Inggris ditandatangani lebih dari 600.000. Padahal Britania Raya adalah salah satu sekutu terdekat Amerika dan bekerja sama dengan Amerika Serikat akan segala sesuatu di dunia ini.

Pemimpin sekutu AS lainnya, Israel, menjauhkan diri dari Trump. Trump membatalkan perjalanan yang direncanakan Desember untuk mengunjungi Israel dan bertemu dengan Netanyahu.

“Perdana Menteri Netanyahu menolak pernyataan Donald Trump baru-baru ini tentang kaum Muslim,” sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh kantornya mengatakan awal pekan ini.

Menteri luar negeri Kanada juga secara terbuka menolak komentar Trump.

“Ini adalah sesuatu yang tidak dapat diterima di Kanada,” kata Stephane Dion.

Trump juga dikritik oleh sekutu Barat lainnya, termasuk politisi di Prancis dan Belanda. Perdana Menteri Perancis menyatakan, “Trump memberikan kebencian dan kebingungan,”.

Sementara Menteri Luar Negeri Belanda Bert Koenders menyebut pernyataan Trump, “Sangat tidak membantu dan sangat diskriminatif.”

Kampanye Trump untuk Meningkatkan Hubungan Internasional

Trump telah menjadikan negosiasi dan reputasi internasional sebagai fitur utama kampanyenya. Ia berjanji bahwa ketika ia menjadi presiden, hubungan dengan negara-negara lain akan menjadi kuat dan sehat.

Namun, dia juga mengeluarkan komentar melarang Muslim, dengan mengatakan bahwa itu adalah langkah penting dalam menghadapi terorisme. Proposal kebijakan yang telah ditolak oleh berbagai pihak.

Jadi, Mungkinkah Trump akan membangun hubungan kuat dan sehat dengan negara lain, ketika ia mengeluarkan kebijakan melarang Muslim ke Amerika? [yy/islampos]