24 Dzulhijjah 1442  |  Selasa 03 Agustus 2021

basmalah.png

Pernyataan Obama Bisa Menjadi Konter Politik Islamofobia

Pernyataan Obama Bisa Menjadi Konter Politik IslamofobiaFiqhislam.com - Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengungkapkan pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama yang menyebut muslim merupakan bagian dari negaranya, akan membawa angin segar bagi komunitas muslim di sana. Namun yang terpenting, pernyataan Obama tersebut dapat menjadi konter politik terhadap kondisi Islamofobia di AS dan dunia.

Ia menilai, saat ini banyak kaum orotodoks di dunia, termasuk AS, yang terus menyebarkan pikiran-pikiran yang menimbulkan Islamophobia. Di AS, kata dia,  sosok Donald Trump merupakan entitas dari kaum ortodoks tersebut.

"Pernyataan Obama bisa menjadi konter politik terhadap pikiran Islamophobia yang dikembangkan orang-orang seperti Donald Trump itu," kata Haedar pada Republika.co.id, Kamis (4/2).

Menurutnya, sudah tidak relevan lagi orang yang berpikiran seperti Donald Trump ada di AS dan negara lainnya. Sebab di negara manapun, setiap agama berhak diberikan tempat, tanpa didiskriminasi.

Haedar menilai pernyataan Obama memang perlu diapresiasi positif oleh umat Muslim di dunia, termasuk Indonesia. "Karena pernyataan Obama seperti memberi angin segar di tengah situasi Islamophobia," katanya.

Din: Pernyataan Obama Faktual dan Historis

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menyambut positif kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama ke masjid di Baltimore. 

Pernyataan Obama yang menyebut  Muslim merupakan bagian dari masyarakat AS juga akan berdampak positif terhadap kehidupan umat di sana. Ia menilai pernyataan Obama tersebut bersifat faktual dan tak bertentangan dengan sejarah negara yang dipimpinnya.

Din mengungkapkan, sejak berabad lalu, kaum Muslim memang telah menjadi bagian dari masyarakat AS. Sebagian besar pemeluknya kata dia, berasal dari benua yang sama dengan Obama, yakni Afrika. "Jadi pernyataan Obama sangat faktual dan historis," jelasnya pada Republika, Kamis (4/2).

Faktual, sebab, menurut Din, pertumbuhan pemeluk Islam di AS kian meningkat. "Dan diprediksi menjadi agama kedua terbesar setelah Kristen," ucapnya.

Terkait tokoh-tokoh yang kerap mendiskreditkan Muslim AS, seperti Donald Trump, misalnya, ia berpendapat mereka tergolong dalam masyarakat ahistoris. Sebab, kata Din, mereka menyangkal fakta dan sejarah negaranya sendiri.

Din menilai, pernyataan Obama tersebut sekaligus menjadi peringatan bagi masyarakat di sana, bahwa pikiran dan penilaian mereka negatif terhadap Islam bertentangan dengan sejarah dan prinsip kebebasan serta kemajemukan yang dianut AS. "Tidak hanya untuk Islam sebenarnya, tapi juga untuk pemeluk agama yang lain," ujarnya.

Obama: Muslim Bagian dari Amerika

Presiden AS Barack Obama menempuh jarak 80 km dari Gedung Putih, Washington DC, menuju Masjid Islamic Society of Baltimore (ISB), Maryland, Rabu (3/2). Untuk pertama kalinya sebagai presiden, ia mengunjungi masjid di wilayah negerinya sendiri.

Sebelum Obama berpidato, kelompok pandu dari sekolah masjid tersebut membawa bendera AS dan Negara Bagian Maryland ke dalam ruang masjid. Di jendela-jendela ruang tersebut terpampang 99 nama Allah SWT yang disebut Asmaul Husna.

''Pikirkan gereja atau sinagoge, atau kuil Anda sendiri dan masjid seperti ini, akan sangat familiar,'' kata Obama, sembari melepas sepatu memasuki ruangan masjid. Lalu, seorang jamaah laki-laki dan perempuan membacakan ayat Alquran tentang toleransi.

Melalui kunjungan ini, Obama ingin meneguhkan kembali bahwa Muslim merupakan bagian tak terpisahkan dari AS. Ia menyesalkan sejumlah perlakuan tak baik terhadap Muslim, termasuk kampanye calon presiden dari Partai Republik yang menyudutkan komunitas Muslim AS.

''Di masjid ini, tahun lalu, ada dua kali ancaman terhadap anak-anak Anda semua,'' kata Obama dalam pidatonya. Sejumlah perempuan berjilbab di wilayah ini menjadi target kala itu. ''Kami melihat anak-anak dirisak. Kami melihat masjid menjadi sasaran vandalisme.''

Lalu, Obama mengisahkan tentang orang tua Muslim dan anaknya yang khawatir menjadi target perlakuan tak baik karena agama yang mereka yakini. Ia pun menceritakan isi surat yang dikirim remaja Muslim berusia 13 tahun kepada dirinya. Remaja itu merasa takut.

Seorang ibu juga pernah mengirimkan surat dan menyatakan, ''Hati saya sedih karena setiap malam membayangkan bagaimana anak perempuan kami diperlakukan di sekolah.'' Obama menggambarkan pula anak-anak yang merasa khawatir jika dikeluarkan dari negeri ini.

Obama menegaskan, serangan terhadap Islam berarti serangan terhadap semua agama. ''Ketika kelompok agama mana pun menjadi target serangan, kita semua mempunyai tanggung jawab untuk menentangnya.''

Di sisi lain, Obama menjelaskan secara singkat mengenai sejarah Muslim di AS. Sejak awal, AS telah mengakui keberadaan komunitas Muslim. Menurut dia, bapak pendiri AS, Thomas Jefferson, secara khusus menyebut Muslim ketika ia berbicara kebebasan beragama. Karena pernyataannya itu, kata Obama, orang-orang yang berseberangan dengan Jefferson menudingnya Muslim.

''Jadi, saya bukanlah yang pertama dituding demikian,'' katanya. Obama yang Kristen, selama ini diyakini sebagai Muslim oleh sebagian kelompok di AS.

Obama juga mendesak anak-anak muda Muslim untuk mengabaikan pandangan yang memaksa mereka memilih antara keyakinan dan patriotisme. ''Anda bagian dari Amerika juga. Anda bukanlah Muslim atau warga Amerika. Anda adalah Muslim yang juga warga Amerika.''

Presiden ISB Maqbool Patel menyatakan, komunitas Muslim merasa terhormat dengan kunjungan Obama. Ia menyatakan, ISB merupakan salah satu organisasi terbesar di AS. Ribuan keluarga berafiliasi dengan pusat kegiatan Islam tersebut.

Menurut perwakilan Council on American Relations (CAIR) Maryland Zainab Chaudry, banyak organisasi termasuk CAIR telah meminta Obama berkunjung ke masjid. ''Terutama untuk merespons sentimen anti-Muslim yang saat ini meningkat,'' katanya, seperti dilansir Aljazirah.

Karena itu, ia merasa sangat bahagia akhirnya Obama melakukan kunjungan yang memang sudah lama ditunggu. Pada 2015, insiden yang menargetkan masjid, pelecehan, serta intimidasi meningkat. Insiden tersebut membuat khawatir 3,3 Muslim yang tinggal di AS.

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menilai kunjungan Obama ke masjid, dan menyatakan Muslim adalah bagian dari Amerika, akan berdampak positif bagi kehidupan komunitas Muslim AS. Menurut Din, pernyataan Obama itu faktual dan tak bertentangan dengan sejarah negara yang dipimpinnya.

Sejak berabad-abad lalu, kaum Muslim memang telah menjadi bagian dari masyarakat AS. Sebagian besar pemeluknya berasal dari Afrika. ''Dengan demikian, Obama juga mengingatkan, pandangan negatif terhadap Islam bertentangan dengan sejarah dan prinsip kebebasan serta kemajemukan yang dianut AS,'' kata Din kepada Republika, Kamis (4/2).

Karena itu, ia menyebut, tokoh-tokoh yang kerap mendiskreditkan Muslim AS, seperti calon presiden dari Partai Republik, Donald Trump, tergolong dalam kelompok ahistoris. Sebab, mereka menyangkal fakta dan sejarah negaranya sendiri.

Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar menyatakan, langkah proaktif Obama yang mendekati masjid akan sedikit demi sedikit mengikis Islamofobia di sana. Kunjungan ini juga bakal membuat warga AS yakin tak semua pemeluk Islam itu garis keras. [yy/republika]