fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


7 Ramadhan 1442  |  Senin 19 April 2021

Konflik Agama di Cinderella Prancis

Konflik Agama di Cinderella Prancis

Fiqhislam.com - Konflik di Republik Afrika Tengah pada mulanya ada lah konflik politik. Namun, dari arena perebutan ke kua saan, konflik kemudian berkembang menjadi kon flik agama. Negara yang dijuluki Cinderellanya Perancis itu pun terkoyak.

Kawasan penghasil berlian, emas, mi nyak, dan uranium, ini, dulu pernah menjadi bagian Kesultanan Sudan. Pada 1875, Sultan Su dan, Rabih az-Zubayr, memerintah ka wasan Oubangui, termasuk sekujur wilayah yang kini bernama Republik Afrika Tengah. Mulanya,Rabih az-Zubayr adalah seorang panglima perang yang menguasai kawasan Zaribas yang menjadi basis pasukan budak. Saat itu, kawasan tersebut berada di bawah wilayah kekuasaan pasha Mesir, sedangkan Mesir adalah wilayah otonom di bawah Khilafah Usmani.

Bangsa Eropa, khususnya Perancis, Jer man, dan Belgia, datang ke sana pada akhir abad ke-19, sekitar tahun 1885. Pe rancis ke mudian membuat koloni Ubangi-Shari —yang merupakan gabungan nama Ubangi dengan Sungai Shari— pada 1894. Uba ngi belakangan berubah nama menjadi Bangui, dan kini menjadi ibu kota Republik Afrika Tengah. Mulanya, kawasan tersebut merupakan bagian dari Kongo Perancis. Kemudian, pada 1 Desember 1958, berubah namanya menjadi Republik Afrika Tengah. Selajutnya, kawasan ini merdeka dari penjajahan Perancis pada 13 Agustus 1960.

Kemerdekaan yang semula menyandang cita-cita mulia untuk mengenyahkan rasis me dan menggusur tribalisme, kemudian ja tuh ke tangan autokrat. Satu autokrat di ganti de ngan autokrat lain, melalui kudeta demi ku deta (lihat Negara yang Berkubang Kudeta).

Kudeta terakhir

Kudeta terakhir dilakukan oleh Michel Djotadia. Dia adalah seorang Muslim yang memimpin Seleka (berarti koalisi), yang merupakan gabungan faksi-faksi pembe ron tak. Seleka resmi muncul pada 15 September 2012, dan mengambil alih kekuasaan dari ta ngan Jenderal Francois Bozize pada 24 Maret 2013. Kendati bukan organisasi keagamaan, sebagian besar anggota Seleka adalah Muslim.

Pada Agustus 2013, muncul tandingan Seleka. Para lawan politik Djotadia, ter uta ma Jenderal Bozize, diduga berada di be lakang pendirian Milisi Anti Balaka, yang personelnya adalah penganut Kristen dan animis, serta bekas pasukan yang masih loyal kepadanya. Milisi ini kemudian terlibat bentrok dengan Seleka, yang membuat si tuasi Afrika Tengah menjadi tidak kondusif.

Banyaknya tekanan akhirnya membuat Djotadia membubarkan Seleka pada Sep tember 2013. Tapi, Anti Balaka justru tak di bu barkan. Dan, Anti Balaka ternyata tak se kadar melawan pemerintah berkuasa dan mem buru para bekas milisi Seleka, tapi men jadikan semua Muslim sebagai target. Dan, cerita tragis pun dimulai. Populasi Muslim yang hanya 15 persen atau sekitar 750 ribu orang, kemudian diburu, dibunuh, diusir dari rumah, desa, dan kota-kota di Afrika Tengah.

Karena telanjur menjadi konflik agama, konflik ini pun menjadi sulit direm, kendati Djotadia telah turun dari kursi presiden. Dan Mus lim, dari etnis apapun dia berasal, apa kah keturunan Sudan, Chad, atau penduduk asli, semuanya diburu dan diusir. Muslim pen duduk asli yang masih bertahan di ru mah, desa, dan kota, dipaksa masuk Kristen atau mati.

Di beberapat tempat, Muslim penduduk asli masih ada yang ditoleransi keha diran nya. Tapi, ada syaratnya. Bagi yang tak mau mur tad, harus membayar denda; ada pula yang tak boleh lagi shalat, tak boleh menge nakan pakaian tradisional Muslim, dan tak boleh membangun masjid yang telah rusak dan dihancurkan. "Kami hanya bisa shalat di ru mah, sendiri, secara rahasia," kata Ali I, warga Desa Bania, kepada Amnesty In ternasional. Warga lainnya, Abdou Y, di Mbaki, me ngatakan, "Adalah illegal bagi kami untuk beribadah," Agar bisa shalat, dia me ngata kan, "Kami harus bersembunyi, menger jakannya dengan cepat, dan melakukannya sendiri. Shalat berjamaah Jumat sudah tidak mungkin lagi dilakukan.

Sejumlah Muslim lainnya mengatakan mereka tetap tak berani shalat kendati shalat sendiri di rumah. Karena, kalau sampai ada yang melihat, mereka akan benar-benar mendapat masalah besar. Entah sampai kapan Muslim yang masih nekad mempertahankan keislamannya di tengah kepungan Milisi Anti Balaka itu akan bertahan.

Bencana kemanusiaan

Sejak konflik bernuansa agama itu me letus pada 2013, jumlah korban warga si pil di Afrika Tengah telah mencapai sekitar lima sampai enam ribu orang. Ratusan ribu lain nya terdampar di kamp-kamp pengungsian atau hengkang ke negara tetangga. Hampir lima ratus masjid di seantero Afrika Tengah rusak dan hancur, dan adzan kini tak terdengar lagi, kecuali di kantong-kantong Muslim yang dijaga Pasukan Perdamaian PBB. Kantong-kantong ini hanya dihuni sekitar 30 ribu Muslim. Jadi, sebagian besar Muslim telah pergi dari Afrika Tengah.

Terseretnya Afrika Tengah ke dalam kon flik agama yang disimbolkan secara te rang benderang dengan pemaksaan Muslim untuk murtad, penghancuran masjid, pela rangan beribadah, dan lain-lain, telah me ngubah kon flik menjadi bencana kemanu siaan. "Upaya sistematis dengan menjadikan Muslim seba gai target telah mengubah konflik yang terjadi sejak Maret 2013 itu menjadi pembersihan et nis skala besar. Tujuan Anti Balaka sangat me ngerikan: menyingkirkan penduduk Mus lim, apa pun ongkosnya," tulis Khalid A Bey doun, dalam artikel bertajuk Convert or Die: Ethnic Clean sing in CAR, yang dimuat Aljazeera.

Khalid menilai media tidak fair mem beritakan peristiwa di Afrika Tengah, hanya karena korbannya adalah Muslim. Berbeda dengan kasus ketika Boko Haram menculik para siswa Kristen di Nigeria yang mendapat tempat yang sangat besar dalam pembe ritaan. Atau, ketika terjadi bentrok di Sudan, yang segera diframing oleh para selebiriti dan organisasi-organisasi di Amerika dengan slogan "selamatkan Kristen berkulit hitam di selatan dari Arab Muslim di utara" dan mendesak peristiwa itu diintervensi.

Khalid menegaskan apa yang terjadi di Afrika Tengah adalah sebuah krisis kema nusiaan internasional. Tapi, karena pemberitaan atas tragedi tersebut sangat kurang, perhatian dunia internasional pun minim, dan dunia baru melihat apa yang terjadi di Afrika Tengah setelah semuanya terlambat. Setelah sebagian besar Muslim telah terusir dari rumah, desa, dan kota. "Kurangnya pemberitaan terhadap kasus ini sangat menguntungkan Milisi Anti Balaka. Jumlah mereka terus bertambah dan kekerasan yang mereka lakukan semakin meningkat," tulis Khalid.

Jika Milisi Anti Balaka tak dibubarkan, persoalan memang tak akan selesai, dan Muslim akan terus diburu, dipaksa dibaptis, atau dibunuh, bak inkuisisi kejam yang pernah terjadi di Spanyol terhadap Muslim dan Yahudi. Sampai kapan pembiaran ini berlangsung?  [yy/republika]