fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


7 Ramadhan 1442  |  Senin 19 April 2021

Hamas Minta Bantuan Malaysia Tekan Israel Soal Masjid Al-Aqsha

Hamas Minta Bantuan Malaysia Tekan Israel Soal Masjid Al-Aqsha

Fiqhislam.com - Kepala Biro Politik Hamas Khaled Meshaal mengatakan Malaysia seharusnya memainkan peran utama dalam melindungi Masjid Al-Aqsa di Yerussalem, Palestina. Sampai saat ini pertikaian di Al-Aqsa masih berkobar akibat penistaan yang dilakukan pasukan dan pemerintah Israel.

Khaled menekankan pentingnya Malaysia untuk bergerak bersama komunitas internasional guna mencegah pencaplokan wilayah Yerussalem oleh Israel. Dalam perbincangan lewat telepon dengan Perdana Menteri Datuk Seri Najib Razak, Khaled secara khusus meminta Malaysia mencegah perebutan Masjid Al-Aqsa oleh Israel.

Pasalnya, Israel sudah terang-terangan menunjukan niat merebut kiblat pertama umat Islam tersebut. Dalam perbincangan itu, Najib mengutuk keras serangan Israel terharap Al- Aqsa. Otoritas tertinggi pemerintahan Malaysia itu mengatakan bahwa Israel berusaha memecah-belah warga Palestina. Hal itu dilakukan supaya perjuangan Palestina tidak terpusat.

”Malaysia berdiri tegak di samping warga Palestina dalam menghadapi perlakukan kejam dan penistaan ini,” ujarnya seperti dilansir dari Astro Awani.

Setelah memperoleh dukungan Malaysia, Khaled menyampaikan rasa terimakasihnya atas apresiasi Perdana Malaysia tersebut. Najib menekankan pemerintahan dan warga Malaysia ada dalam posisi tegas dalam membantu warga Palestina dari agresi Israel.

Jelang Yom Kippur, Israel Batasi Muslim Shalat di Al-Aqsa

Israel membatasi Muslim yang ingin shalat di Masjidil Aqsa, jelang hari libur nasional Yahudi, Yom Kippur, Senin (21/9).

Seperti dilansir Maan news tentara Israel mengusir warga Palestina dari Masjidil Aqsa sejak sore dan menutup semua gerbang kecuali tiga pintu. Mereka hanya membuka gerbang yakni Rantai, Hutta dan Al-Majlis.

Direktur Wakaf Islam di Yerusalem Azzam al-Khatib mengatakan, hanya laki-laki di atas usia 50 tahun yang diizinkan memasuki masjid. Sementara itu wanita benar-benar dilarang untuk beribadah di masjid.

Al khatib mengecam adanya pembatasan dan penutupan gerbang yang dilakukan oleh Israel. Ia tidak mengetahui kapan berakhirnya pembatasan ini.

Polisi Israel mengatakan, ribuan petugas dikerahkan di Yerusalem untuk berjaga jelang Yom Kippur dan Idul Adha. Kegiatan Yom Kippur dimulai Selasa malam hingga Rabu malam.

Yom Kippur merupakan hari suci buat Yahudi.  Warga Yahudi menjadikannya sebagai hari penebusan dosa. Ribuan Yahudi diyakini akan berkunjung ke Tembok Barat.  Tak hanya itu, turis Yahudi diyakini juga akan mengunjungi Al-Aqsa, wilayah yang dianggap mereka sebagai Kuil Suci Sulaiman.

Israel Harus Diseret ke Mahkamah Internasional

Anggota Komisi I DPR, Sukamta, mengatakan Israel kembali berulah dengan membatasi jumlah warga untuk mengunjungi Masjid Al Aqsa. Padahal, mengunjungi Masjid Al Aqsa merupakan hak setiap Muslim.

Lembaga seperti PBB, ujar dia, sudah menyatakan Israel sebagai penjahat perang (war criminal) karena telah berulang-ulang melanggar Konvensi Jenewa dan prinsip-prinsip Hukum Humaniter. Selama ini, Israel tidak melindungi warga sipil dan fasilitas-fasilitas umum, seperti ambulans, rumah sakit, dan seterusnya.

"Bahkan, jurnalis tidak terhindar dari kejahatan Israel ini. Kalau sudah dinyatakan sebagai penjahat perang, segera adili, seret ke Mahkamah Internasional, hukumlah para pemimpin Israel," kata dari Fraksi PKS, Selasa, (22/9).

Menurut Sukamta, dibutuhkan ketegasan dan keseriusan untuk menyelesaikan konflik penjajahan Zionis-Israel di Palestina. Termasuk PBB juga harus bersikap tegas.

Kejahatan-kejahatan yang dilakukan Israel sudah kelewat batas. "Kita tidak bisa toleransi, sudah berkali-kali resolusi PBB tidak diindahkan."

Penjahat perang harus dihadapi dengan perang dan diiringi dengan diplomasi. Apalagi, Bendera Palestina sudah berkibar di PBB. "Saya mendorong Pemerintah Indonesia agar lantang bersuara di forum internasional dan mengajak negara lain untuk menyeret dan mengadili Israel," ujar Sukamta. [yy/republika]