fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


26 Ramadhan 1442  |  Sabtu 08 Mei 2021

Nasib Umat Muslim di Uzbekistan

Nasib Umat Muslim di Uzbekistan

Dilarang Shalat di Masjid

Tempat kelahiran imam besar al-Bukhari dan al-Tirmidzi. Di sana setiap orang yang umurnya di bawah 18 tahun, mereka dilarang untuk menghadiri shalat di masjid. Jika tertangkap, orang tua akan didenda sekitar $ 750, yang sama dengan gaji 15 bulan pada upah minimum negara.

Uzbekistan adalah negara terpadat di Asia Tengah dengan kekuatan bersenjata terbesar, dengan 28,7 juta orang, lebih dari 90 persen dari mereka adalah Muslim. Negara ini masuk ke dalam sepuluh besar negara yang memproduksi emas terbaik di dunia, dilengkapi dengan kekayaan mineral, tembaga, gas, dan minyak. Sistem politik sangat otoriter dan tanpa oposisi politik, dengan hukum pembatasan kegiatan keagamaan.

Kemerdekaan yang Tidak Sebenarnya

Tanah Uzbekistan memiliki sejarah yang sangat gemilang dalam sistem perdagangan, yaitu pernah menjadi jantung dari rute perjalanan dagang Sutera kuno yang menghubungkan Cina dengan Dunia Arab dan Roma. Hal itu terjadi saat Uzbekistan masih termasuk bagian dari kekaisaran Muslim berturut-turut selama lebih dari seribu tahun, hingga jatuh ke tangan Uni Soviet selama 200 tahun. Pada tahun 1991 mayoritas masyarakat Uzbekistan yang beragama Muslim merasakan kemerdekaan, namun hanya untuk dikuasai oleh Uni Soviet yang didukung Presiden Islam, Karimov yang telah memerintah negara itu sejak tahun 1989 sampai hari ini.

Setelah Karimov mampu mengalahkan rival politiknya pada tahun 1992, Karimov berbalik mengancam akan menggenggam kekuasaan Islam, menurut Human Rights Watch (HRW). Sejak saat itu, pembatasan telah ditetapkan pada kegiatan keagamaan termasuk pembentukan masjid, pendidikan agama dan materi, dan perjalanan agama, semua dilakukan di bawah undang-undang anti-ekstremisme .

Kegiatan keagamaan telah dikendalikan secara ketat di bawah pemerintahan Uni Soviet melalui Dewan Muslim Asia Tengah dan Kazakhstan, yang kemudian setelah kemerdekaan diganti dengan nama baru yaitu Dewan Muslim Uzbekistan.

Sebagai hasil dari kontrol pemerintah yang ketat atas aktivitas keagamaan, hanya 42 dari 2.200 masjid selamat di kota Andijan pada pertengahan tahun  1990-an. di ibukota Tashkent hanya diizinkan menjaga 240 masjid yang beroperasi dari 1000 masjid. Selain itu, Imam secara perlahan pergi bersama dengan kebijakan pemerintah.

Tindak Kekerasan

Di bawah klaim fleksibel pertempuran “ekstremisme Islam”, rezim Karimov membenarkan berbagai pelanggaran hak asasi manusia yang mencakup pembunuhan di luar hukum dan penyiksaan.

Abduvali Mirzoev, seorang imam independen terkemuka yang memimpin Islam Andijan paling terkenal, menghilang di bandara Tashkent pada tahun 1995. Selama bertahun-tahun pemerintah tegas membantah mengetahui keberadaannya.

Pada bulan Desember 2014, Syaikh Abdullah Bukhoroy, seorang imam Uzbek terkemuka dan kritikus pemerintah Uzbekistan, ditembak mati di Istanbul.

Kembali pada bulan Mei tahun 2005, tentara Uzbek menembaki semua orang yang melakukan demonstrasi damai di kota Andijon, mereka membunuh sebanyak 1.000 orang, para pengunjuk rasa mendukung pengusaha yang telah diadili pemerintah, karena diduga ada hubungannya dengan ekstremisme Islam.

Setelah pembantaian Andijon pada tahun yang sama, PBB mengirimkan pelapor khusus untuk memantau situasi hak asasi manusia di Uzbekistan. “Jelas bahwa penyiksaan merupakan masalah endemik di Uzbekistan, sehingga saya menyimpulkan itu merupakan praktek sistematis di dalam negeri,” kata Theo van Boven, mantan Pelapor Khusus PBB yang mengurusi masalah kekerasan. Sepuluh tahun kemudian, PBB masih menyerukan tindakan untuk “mengatasi keadaan mengerikan dari hak asasi manusia di Uzbekistan”.

“Ancaman atau tindak kekerasan seperti, pemerkosaan, dan penggunaan gas beracun untuk memblokir pasokan udara”, adalah salah satu teknik penyiksaan yang terjadi di penjara Uzbek terhadap tahanan perempuan yang dipenjara karena keyakinan agama, menurut laporan tahun 2015 dari Komisi Amerika Serikat Kebebasan Beragama Internasional (USCIRF).

“Penyiksaan diduga dilakukan untuk memaksa orang dewasa dan anak-anak untuk meninggalkan keyakinan agama mereka atau hanya untuk membuat pengakuan,” tambah laporan itu.

Amnesty International mendaftar dan menjelaskan daftar lengkap non-teknik penyiksaan yang dilakukan oleh otoritas Uzbek sebagai berikut: pemukulan, sesak napas, jarum dimasukkan di bawah kuku tangan dan kuku kaki, kejutan listrik, pemerkosaan dan pelecehan seksual pada perempuan dan laki-laki, intimidasi psikologis, paparan suhu ekstrim, kekurangan makanan dan air, dan kurang tidur.  April 2015 pada Laporan yang berjudul “Rahasia dan Kebohongan: Pengakuan Paksa tentang Penyiksaan di Uzbekistan,” detail cerita dari salah satu korban.

Kematian Nilufar Rahim Jonova

“Pemerintah Uzbek telah dipenjara dan disiksa beberapa aktivis di dunia dengan menguasai politik, jurnalis independen, dan tokoh-tokoh lainnya,” kata Steve Swerdlow, peneliti Asia Tengah di Human Rights Watch.

Sebuah kasus yang menarik perhatian organisasi hak asasi manusia adalah kematian Nilufar Rahim Jonova di penjara. Karena ayah dan suaminya adalah tokoh agama terkenal dan kritikus rezim Karimov di Tajikistan dan Iran, ia ditangkap pada tahun 2011 dan dipaksa untuk memberikan wawancara TV, mereka menuduh dia terhubung dalam sebuah organisasi teroris oleh.

menurut HRW, Nilufar Rahim Jonova dipenjara selama 10 tahun. Pihak berwenang Uzbek mengirim mayat Nilufar ke rumah kakaknya di Tajikistan dengan perintah untuk “mengubur tubuhnya sekarang” tanpa memberi kesempatan untuk melakukan post-mortem, Pemeriksaan untuk mengetahui penyebab kematiannya. Suami Nilufar mengatakan bahwa istrinya tidak menderita penyakit kronis apa pun.

Almarhum Nilufar hanya satu tahanan di antara lebih dari 12.000 Muslim Uzbek yang dipenjara, menurut USCIRF.

Beberapa dari tahanan mendapat tambahan tahun penjara mereka karena ketahuan melaksanakan sholat, hal itu dianggap sebagai bagian dari “pelanggaran aturan penjara.”

Ketakutan dalam Beragama

Muslim, Kristen, dan agama yang lainnya hidup dalam ketakutan karena pengawasan dari pemerintah, menerapkan hukum yang ketat dalam membatasi kebebasan beragama.

Pada bulan Agustus 2014, undang-undang baru diberlakukan yang memungkinkan “pemerintah daerah untuk bekerja dengan informan resmi dalam mencegah aktivitas kelompok agama tidak terdaftar,” menurut USCIRF.

Hukum Uzbek mencegah teks keagamaan untuk dibaca, di luar dari kelompok agama yang terdaftar. Pada bulan Mei 2014, seperti dilansir USCIRF, pengadilan Tashkent didenda karena ketahuan “menyimpan secara ilegal” teks-teks agama di rumah, dan memerintahkan untuk menghancurkan buku tersebut.

Dan karena ajaran agama swasta dilarang, guru agama Islam Mehrunissa Hamdamova dihukum pada tahun 2010 untuk tujuh tahun penjara karena mengajar perempuan tentang Islam.

Hal ini tidak mengherankan, menemukan anggota komunitas agama yang  menghancurkan teks-teks suci mereka sendiri karena takut akan penyitaan dan penggerebekan polisi atau pihak berwenang Uzbek yang melarang semua orang yang berusia 18 tahun untuk menghadiri shalat di masjid. [yy/islampos]