22 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 27 Nopember 2021

basmalah.png

Prancis: Pameran Seni Islam dan Islamofobia

Prancis: Pameran Seni Islam dan Islamofobia

Fiqhislam.com - Pemerintah Prancis mencoba mengambil langkah dan memaksimalkan kekuatan pemersatu yang dimiliki sebuah karya seni. Serangkaian pameran tentang seni dan budaya Islam coba digalakkan, sebagai upaya yang lebih luas memerangi peningkatan sentimen Islamofobia di dalam negeri.

Pameran seni Islam ini disebut akan dibuka di 18 kota Prancis pekan ini, dan akan berlangsung selama empat bulan. Tujuan lainnya, untuk menampilkan keragaman budaya Islam.

Berjudul “Islamic Arts: A Past for a Present”, inisiatif pemerintah ini diorganisir oleh Réunion des Musées Nationaux-Grand Palais, yang dipimpin oleh kepala departemen seni Islam Louvre, Yannick Lintz.

Sekitar 210 karya yang dipinjam dari museum nasional dan regional dipamerkan, termasuk 60 karya agung yang dipinjam dari Louvre.

“Mengkurasi seni Islam hari ini berarti juga berurusan dengan Islamisme dan Islamofobia. Ini bukan hanya masalah Prancis, tetapi ini adalah kenyataan bagi setiap kurator dan direktur seni Islam yang sekarang ada di museum,” kata Lintz dikutip di Art Net, Kamis (25/11).

Lintz menambahkan, setelah serangan 11 September di New York, serangan teroris baru-baru ini di Prancis dan perang yang sedang berlangsung di Suriah, kata Islam sering dikaitkan dengan kekerasan dan terorisme.

Sebagai kurator yang berspesialisasi dalam peradaban Islam dan seni Islam, ia merasa penting untuk memberikan pesan lain tentang apa realitas sejarah Islam, melalui 13 abad seni, peradaban dan kehidupan intelektual.

Tujuan lain adanya pemeran ini adalah membongkar beberapa anggapan dan klise tentang budaya Islam. Pun, untuk menampilkan keragaman budaya dan agama di dunia Islam, menunjukkan budaya Islam melampaui agama, lebih bervariasi dari peradaban Arab dan juga termasuk figuratif seni dan gambar orang, termasuk penggambaran Nabi Muhammad.

Topik terakhir tentang penggambaran Rasulullah SAW ini adalah masalah yang sangat rumit di Prancis, utamanya setelah penembakan 2015 di markas majalah satir Charlie Hebdo yang menerbitkan kartun yang menggambarkan nabi. Kasus lainnya adalah pemenggalan terhadap seorang guru sekolah Prancis, yang menunjukkan gambar Muhammad selama kelas tentang kebebasan berbicara soal agama.

Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang akan dipilih kembali April mendatang, pertama kali mengusulkan gagasan pameran itu dalam pidato Oktober lalu. Dia menekankan pemerintah harus mendorong pandangan lain tentang budaya Islam daripada faksionalisme Islam radikal yang selama ini berlaku.

“Tentu saja proyek kami bukan untuk memancing reaksi negatif. Kami tidak melakukan politik. Kami adalah museum. Kami berurusan dengan mahakarya sejarah seni dan kami menunjukkannya apa adanya,” ucap Lintz.

Lebih lanjut, ia menyebut belum memutuskan karya apa yang dilarang atau tidak. Objek-objek ini adalah semacam duta sejarah, realitas dan kebenaran.

Karya seni yang ada, lanjutnya, menunjukkan kapan pun dan di wilayah mana pun di dunia Islam, kita dapat menggambarkan Nabi. Dan ketika saat ini terdengar hal itu dilarang, itu hanya ide dari beberapa orang, dari beberapa negara, bukan realitas sejarah peradaban Islam.

Beberapa karya yang berasal dari Louvre termasuk benda-benda keagamaan, seperti lampu abad ke-11 dari masjid Yerusalem, dan lampu gantung yang menceritakan kehidupan Yesus dari era Saladin abad ke-12 oleh seorang seniman dari Mosul.

Pameran tersebut juga mencakup benda-benda mewah dengan batu mulia yang berasal dari India milik Raja Prancis Louis XIV, serta karpet Iran yang luar biasa dari abad ke-17.

Juga akan ada elemen kontemporer untuk pameran, dengan karya 19 seniman dari negara-negara di seluruh dunia Islam. Karya tersebut mencerminkan hubungan antara warisan mereka dan masyarakat saat ini.

Memasukkan seni rupa kontemporer dinilai penting bagi kurator, karena pameran ditujukan terutama untuk anak muda. “Penting untuk memberi tahu mereka peradaban ini bukan hanya pada zaman keemasan masa lalu, tetapi juga sejarah yang mencakup 13 abad tanpa gangguan, antara masa lalu dan hari ini,” kata Lintz. [yy/ihram]