22 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 27 Nopember 2021

basmalah.png

Kekerasan Hindu-Muslim, dari Bangladesh Hingga ke India

Kekerasan Hindu-Muslim, dari Bangladesh Hingga ke India

Fiqhislam.com - Kekerasan antara umat Hindu dan Muslim baru-baru ini menjadi sorotan dunia. Kekerasan terkait agama itu melintasi perbatasan dari Bangladesh ke India.

Saat itu, dini hari, ketika Achintya Das, seorang guru berusia 55 tahun di kota Cumilla di Bangladesh dibangunkan oleh dering ponselnya. Di ujung telepon terdengar suara menakutkan.

Penduduk setempat mengatakan kepadanya sesuatu yang sangat serius telah terjadi. Sebuah Alquran ditemukan di kuil yang baru saja mereka dirikan untuk festival Hindu Durga Puja yang akan datang. Kitab suci Islam itu ditempatkan pada patung dewa Hindu Hanuman.

Das, seorang Hindu yang menyelenggarakan festival tersebut di Cumilla, merasa ketakutan muncul dalam dirinya mendengar berita penodaan kitab suci umat Islam di kuil mereka. "Saya bahkan tidak butuh waktu sedetik untuk memahami gawatnya situasi ini. Saya langsung bergegas ke sana," kata Das, dilansir di The Guardian, Selasa (2/11).

Das menggambarkan bagaimana ribuan orang yang marah dan gelisah mulai berkumpul di luar kuil. "Saya tidak tahu dari mana semua orang itu berasal. Mereka mulai menghujani kami dengan batu dan batu bata. Dalam beberapa menit, mereka merusak patung. Itu benar-benar hancur," kata Das.

Yang membuat Das ngeri, petugas polisi kemudian menyita sisa-sisa patung dan melemparkannya ke danau terdekat. Sekitar delapan kuil dan tempat suci diserang hari itu.

Bom molotov dilemparkan melalui jendela dan umat Hindu terperangkap di dalam selama berjam-jam tanpa bantuan. Polisi yang berupaya mengendalikan para perusuh, menewaskan lima orang ketika mereka menembak ke arah kerumunan.

Setelah ketegangan tersulut, butuh lima hari bagi polisi untuk mengendalikan mereka saat mereka menyebar ke seluruh negeri. Dua hari kemudian, pada 15 Oktober, gerombolan dari ratusan ribu orang turun ke distrik Noakhali dan mulai menyerang kuil dan memukuli umat Hindu di dalamnya.

Di Kuil Sree Sree Radha-Madhav yang terkenal, patung-patung suci dirusak dan kemudian diinjak-injak, dokumen dibakar dan kotak uang dijarah dalam serangan yang berlangsung lebih dari dua jam. Ratan Lal Shaha, yang berada di komite kuil, termasuk di antara mereka yang menuduh polisi gagal membantu umat Hindu.

"Di mana polisi ketika serangan berlangsung selama berjam-jam? Kami memanggil mereka, meminta mereka untuk datang," ujarnya.

Seperti halnya Das, dia yakin serangan itu terorganisir. Pasalnya, tujuh candi dan empat tempat puja darurat diserang, kurang lebih pada saat yang bersamaan. Menurutnya, pola serangannya memberi tahunya bahwa itu sangat terencana dan terkoordinasi dengan baik.

Dua orang Hindu terbunuh hari itu, termasuk Jatan Shaha, yang diduga dipukuli sampai mati di kuil Sri Sri Radha Krishna Gour-Nityananda. Adiknya Mukta Rani (41 tahun), menggambarkan serangan itu sebagai lebih buruk dari mimpi buruk.

"Rasanya seperti akhir dunia. Mereka mencoba memaksa membuka pintu kami. Mereka membakar kuil-kuil itu," katanya.

Ia mengatakan kakaknya dibujuk keluar oleh para penyerang dan kemudian dipukuli sampai mati. Tidak ada polisi atau ambulans yang datang membantu.

"Saya tidak percaya itu terjadi. Apa salah kakakku? Dia tidak menyakiti siapa pun. Putra Shaha terus bertanya kapan ayahnya akan kembali. Hatiku begitu hancur," isaknya.

Selain Shaha, ada lagi yang dipukuli sampai mati dalam kekerasan itu, yakni Pranta Chandra Das, seorang pemuja di kompleks candi Iskcon, yang tubuhnya kemudian ditemukan di sebuah kolam. "Saya tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata betapa menyakitkan rasanya. Adik laki-laki saya adalah pria yang baik. Dia tidak pantas menerima ini," ungkap saudaranya, Shanto Das.

Kedua keluarga ini bersama dengan tokoh masyarakat Hindu mengatakan mereka merasa umat Hindu semakin tidak aman di Bangladesh. Banyak yang berbicara dengan ketakutan tentang meningkatnya jumlah pengkhutbah Islam garis keras di Facebook dan Youtube yang memiliki banyak pengikut daring di seluruh negeri.

Insiden pada pagi hari pada 13 Oktober 2021 itu memicu beberapa serangan anti-Hindu terburuk dalam beberapa tahun dan menyebabkan tujuh orang tewas. Kekerasan menyebar melintasi perbatasan ke negara bagian Tripura, India, di mana belasan aksi pembalasan oleh kelompok Hindu sayap kanan Vishva Hindu Parishad (VHP) dan lainnya meningkat menjadi kekerasan dan serangan anti-Muslim.

Penduduk Muslim diteror, toko-toko Muslim dibakar, dan setidaknya 16 masjid dirusak, empat di antaranya dibakar, dalam kekerasan yang dimulai pada 21 Oktober dan berlanjut hingga pekan lalu.

Juru bicara VHP Vinod Bansal mengklaim laporan kekerasan adalah "berita palsu" yang disebarkan oleh jihadis dan mengatakan itu hanya bentuk aksi demonstrasi damai. Faktanya, para saksi melihat lebih dari 3.000 orang, banyak yang membawa tongkat, batang besi, pedang dan kaleng minyak tanah atau bensin, berbaris melewati distrik di Tripura pekan lalu. Mereka menyerang rumah-rumah dan bisnis milik Muslim.

Tidak hanya itu, bendera saffron, simbol nasionalisme Hindu, ditanam di beberapa masjid. Sementara babi, yang diharamkan dalam Islam, ditempatkan di luar masjid lainnya. Anak benua ini memiliki sejarah panjang ketegangan dan kekerasan komunal, dari mulai pemisahan berdarah India dan Pakistan pada 1947 hingga perang 1971 yang berujung pada pembentukan Bangladesh.

Namun, analis regional mengatakan insiden terbaru merupakan indikasi meningkatnya gelombang intoleransi agama terhadap minoritas di Asia Selatan, terbukti di India, Bangladesh, Pakistan, Sri Lanka, dan Afghanistan. Di India, di bawah pemerintahan partai Bharatiya Janata (BJP), yang dipimpin oleh Perdana Menteri Narendra Modi, minoritas Muslim mendapati dirinya terpinggirkan, diserang oleh politikus dan menjadi sasaran undang-undang diskriminatif saat BJP mengejar agenda nasionalis Hindu.

Di Bangladesh yang berpenduduk mayoritas Muslim, meskipun pemerintah dari perdana menteri Sheikh Hasina diakui sekuler, mereka dituduh memainkan permainan tangan ganda dengan kelompok-kelompok Islam. Di satu sisi, pemerintah Bangladesh menindak garis keras Islam, dan khususnya partai-partai oposisi Islam. Namun, mereka juga menangani Islam politik dengan hati-hati, untuk meredakan kelompok-kelompok kuat.

Hindu membentuk sekitar sembilan persen dari populasi di Bangladesh. Kelompok hak asasi manusia menuduh pemerintah Hasina menciptakan "budaya impunitas" di sekitar serangan terhadap minoritas Hindu, atas kegagalan berulang untuk meminta pertanggungjawaban siapa pun atas insiden seperti ketika ratusan rumah dan kuil Hindu dibakar pada 2016.

"Wilayah ini telah menjadi seperti tong bubuk mesiu dalam hal peningkatan risiko ketidakstabilan sosial dan kekerasan komunal," kata Wakil Direktur Program Asia di lembaga riset Wilson Center, Michael Kugelman.

Kugelman mengarahkan kesalahan pada media sosial, yang menurutnya telah menjadi penyebar kebencian dan racun yang kuat di Asia Selatan, dan memperburuk perpecahan agama yang bergejolak menjadi kekerasan. Bukti menunjukkan insiden awal di Cumilla adalah provokasi sektarian yang disengaja. CCTV muncul untuk mengidentifikasi Ikbal Hossain, seorang Muslim berusia 35 tahun, sebagai orang yang meletakkan Alquran di kuil pada dini hari, dan dia sekarang telah ditangkap.

Akan tetapi, yang menjadi masalah adalah streaming siaran langsung insiden Alquran itu di Facebook, yang kemudian dibagikan dan diunduh ratusan ribu kali. Unggahan itu disertai seruan yang menghasut untuk kekerasan yang tampaknya memicu kerusuhan meluas.

Sementara itu, Hasina berjanji memburu para penyerang dalam insiden kekerasan di Bangladesh. Islami Andolan Bangladesh, sebuah partai politik Islam, mengutuk serangan yang dilakukan oleh mereka yang memiliki kepentingan pribadi dan mengatakan komunitas Islam tidak dapat disalahkan.

"Serangan-serangan ini tidak komunal, mereka bermotivasi politik. Itu dilakukan dengan hati-hati untuk mengacaukan keharmonisan komunal rakyat Bangladesh," kata parpol Islam ini.

Namun, di seberang perbatasan di India, respons terhadap serangan balasan di Tripura sangat berbeda. Polisi, yang dituduh memungkinkan demonstrasi kekerasan VHP, membantah telah terjadi kerusuhan.

Mereka yang rumah dan bisnisnya diserang mengatakan polisi menolak membiarkan mereka mengajukan kasus terhadap kelompok Hindu sayap kanan yang bertanggung jawab. Kepala Tripura Jamat-e-Islami Hind, organisasi Islam terbesar di India, Nurul Islam Mazarbhuiya mengatakan ketegangan agama masih tinggi, dan ada masjid lain yang ditargetkan pada Jumat malam.

"Ada kemungkinan pecahnya kekerasan baru," katanya. [yy/republika]

Oleh Kiki Sakinah