22 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 27 Nopember 2021

basmalah.png

Siswa Muslim Kalifornia Merasa tak Aman di Sekolah

Siswa Muslim Kalifornia Merasa tak Aman di Sekolah

Fiqhislam.com - Hampir 56 persen siswa Muslim di Kalifornia mengatakan mereka merasa tidak aman, tidak diinginkan, atau tidak nyaman di sekolah. Menurut survei yang dirilis Kamis (28/10), perasaan ini didapat karena identitas agama yang mereka anut.

Peneliti dari Council for American-Islamic Relations (CAIR) cabang Kalifornia mengatakan, hasil ini adalah persentase tertinggi sejak kelompok advokasi mulai melakukan survei tentang perundungan terhadap siswa Muslim di sekolah pada 2013. Grup ini merilis temuan survei setiap tahun.

Sekitar 700 siswa menanggapi survei, yang dilakukan antara Januari hingga Agustus. Kebanyakan responden merupakan siswa dari kelas lima sampai kelas 12, dengan sebagian besar berada di sekolah menengah. Sebagian besar siswa yang mengikuti survei, 267 siswa, berasal dari wilayah Los Angeles.

Pengacara pengelola hak-hak sipil untuk CAIR-LA Amr Shabaik mengatakan temuan penelitian ini mengkhawatirkan. Masih dari penelitian yang sama, 20 persen responden menyebut mereka rela membolos sekolah guna menghindari perasaan itu.

“Tahun ini, kami melihat jumlah siswa yang mengatakan mereka merasa tidak aman, tidak diinginkan, atau tidak nyaman di sekolah yang tertinggi yang pernah kami lihat,” katanya dikutip di Daily Breeze, Ahad (31/10).

Hal lainnya yang disebut mengkhawatirkan adalah temuan yang menunjukkan satu dari empat guru, administrator atau orang dewasa lainnya di sekolah, membuat komentar ofensif kepada siswa tentang Islam atau Muslim. Kondisi ini menjadikan semakin pentingnya menilai lingkungan sekolah dan menegakkan kebijakan tanpa toleransi dalam hal intimidasi. Sekolah juga disebut perlu memberikan pelatihan pengamat kepada guru, mengembangkan kurikulum anti-rasialis dan kursus studi etnis.

Hampir 48 persen responden mengatakan mereka melihat penurunan perundungan setelah sekolah beralih ke pembelajaran jarak jauh karena pandemi Covid-19. Di sisi lain, 32 persen siswa mengatakan mereka tidak merasa nyaman terbuka tentang identitas Muslim mereka di sekolah.

Satu dari tiga siswi juga melaporkan jilbab mereka ditarik atau disentuh dengan cara yang menyinggung. Secara keseluruhan, 47 persen responden mengatakan mereka diintimidasi di sekolah sebelum penutupan Covid-19.

Laporan tersebut juga berusaha mengumpulkan contoh intimidasi dari siswa di seluruh Kalifornia. Seorang mahasiswi berusia 18 tahun di Brentwood mengatakan dia disebut "teroris," dan "keponakan Osama Bin Laden" di antara hinaan rasial lainnya.

Dia mengatakan pernah dengan sengaja bolos sekolah pada peringatan serangan teror 11 September, karena teman-temannya akan bertanya apakah dia 'merencanakan sesuatu'. "Mengingat banyak Muslim yang juga keturunan Asia, mereka menghadapi rasialisme dan pelecehan selama pandemi seiring kejahatan kebencian anti-Asia dan insiden kebencian melonjak," kata Shabaik.

Direktur Eksekutif CAIR-LA Hussam Ayloush menyebut Kalifornia memiliki jumlah insiden tertinggi. Hal ini mengingat kondisi populasinya yang paling beragam dan merupakan rumah bagi populasi Muslim terbesar di Amerika Serikat.

“Kami merayakan keragaman dan sikap progresif Kalifornia, tetapi kami juga memiliki jumlah yang lebih tinggi (insiden intimidasi dan kebencian) karena kami memiliki populasi yang lebih besar di sini,” ujar dia.

Ia menekankan, survei tersebut menunjukkan intimidasi terhadap siswa Muslim tetap menjadi kejadian umum di sekolah-sekolah Kalifornia. Perundungan dan intimidasi Islamofobia terus menjadi masalah yang dihadapi siswa setiap hari.

“Penting untuk diingat, ini tidak terjadi dalam ruang hampa dan tidak hanya terjadi di California. Retorika politik dan bagaimana Muslim digambarkan di Hollywood dan media, mengalir ke sekolah dan masyarakat. Penindasan di sekolah adalah masalah serius yang merugikan kesehatan siswa kami," ucapnya. [yy/republika]