5 Jumadil-Awal 1443  |  Kamis 09 Desember 2021

basmalah.png

Eric Zemmour, Capres Anti-Islam yang Dijuluki 'Donald Trump'-nya Prancis

Eric Zemmour, Capres Anti-Islam yang Dijuluki 'Donald Trump'-nya Prancis

Fiqhislam.com - Eric Zemmour menjadi politisi anti-Islam yang sedang tenar sebagai bakal calon presiden (capres) Prancis . Dia dijuluki media Barat sebagai "Donald Trump"-nya Prancis karena pandangannya yang ultra-nasionalis, anti-migran, dan menargetkan kelompok minoritas seperti lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT).

Zemmour muncul sebagai perwakilan baru sayap kanan ekstrem Prancis, posisi yang selalu eksklusif bagi politisi seperti Marine Le Pen.

Mengutip Marocco World News, Selasa (26/10/2021), beberapa bulan sebelum pemilihan presiden (pilpres) Prancis, yang dijadwalkan pada April 2022, Zemmour yang merupakan politisi Yahudi telah muncul sebagai bakal capres kejutan.

Eric Zemmour telah memposisikan dirinya dalam lanskap politik Prancis sebagai suara yang “kredibel dan dapat didengar” bagi para pemilih anti-Muslim dan Arab.

Pekan lalu, selama wawancara dengan saluran televisi Prancis; France 2, Zemmour mengeklaim bahwa imigrasi harus dibatasi atau Prancis akan menjadi "Republik Islam".

Dia menegaskan bahwa jika dia terpilih sebagai presiden Prancis, dia akan melarang penggunaan bahasa asing sebagai nama depan untuk bayi yang baru lahir. "Di bawah aturan ini, orang Prancis tidak akan diizinkan untuk memanggil putra mereka Mohamed," katanya.

Dalam pandangan Zemmour, cara hidup dan nilai-nilai Prancis terancam karena Islam, dan dia telah tiga kali dihukum karena pidato kebencian rasial dan agama.

Pada 2010, dia dilaporkan mengatakan, "Kebanyakan pengedar narkoba berkulit hitam dan Arab."

Selain itu, pada tahun 2016, dia didenda 3.000 euro karena memprovokasi kebencian agama setelah membuat pernyataan anti-imigran dan Islamofobia.

Pada 2019, ia membandingkan Muslim di Prancis dengan “penjajah”.

Dia juga menuntut agar 2 juta warga asing Muslim diusir dari Prancis, termasuk mahasiswa dari benua Afrika.

Namun, Zemmour mendapatkan begitu banyak momentum dalam jajak pendapat atau survei capres sehingga satu survei minggu ini memproyeksikan bahwa dia dapat memenangkan putaran terakhir pilpres April, dan dapat mengumpulkan 45% suara melawan petahana Emmanuel Macron.

Menurut layanan radio Prancis, Radio France Internationale (RFI), pemilih Zemmour terutama terdiri dari pedagang, eksekutif, dan pengusaha kecil, dengan sedikit afiliasi ke Marine Le Pen.

Menurut data resmi, pada tahun 2017, partisipasi pemilih Muslim sangat tinggi yaitu 62%, dan 92% memilih kandidat dari partai politik Prancis, La Republique En Marche (LREM)—partainya Emmanuel Macron.

Menurut lembaga Prancis; Opinion Way, Macron mendapatkan 2,1 juta suara Muslim.

Menurut Special Eurobarometer 2019, survei opini publik lintas negara, populasi Muslim di Prancis diperkirakan 5% atau 3,35 juta. Lembaga think tank AS; Pew Research Center, memperkirakan populasi Muslim akan meningkat menjadi 8,6 juta atau 12,7% dari total populasi Prancis pada tahun 2050. [yy/sindonews]