22 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 27 Nopember 2021

basmalah.png

Ataturk Pilih Sekuler karena Sultan Ottoman Tak Lagi Islami

Ataturk Pilih Sekuler karena Sultan Ottoman Tak Lagi Islami

Fiqhislam.com - Langkah Mustafa Kemal Pasha Ataturk menjadikan Turki sebagai negara republik dan menerapkan sekularisme sebagai revisi atas kemerosotan wibawa dan pengaruh Turki Ustmani terakhir. Kala itu, sikap dan perilaku Sultan dan keluarga sudah jauh dari nilai-nilai Islam. Mereka hidup glamor dan penuh praktik korupsi, sedangkan rakyat hidup susah.

"Kala itu kesultanan Turki mulai merosot dan mengalami dekadensi moral. Sultan membangun istana supermegah dengan menghabiskan 35 ton emas dan menyebabkan utang sangat besar, negara bangkrut," ungkap Duta Besar RI untuk Turki Lalu Muhamad Iqbal dalam program Blak-blakan di detikcom, Rabu (20/10/2021).

Penguasa terakhir Turki Utsmani itu juga menandatangani perjanjian Saint Stefanus atau Perjanjian Sèvres yang intinya menerima kekalahan Turki dalam Perang Dunia I kepada Sekutu pada 10 Agustus.

Mustafa Kemal Pasha Ataturk kemudian menolak tunduk dan memimpin perlawanan terhadap kekuatan Barat yang terus berupaya mencabik-cabik wilayah Turki. "Kalau tidak karena keputusan Mustafa Kemal Pasha Ataturk untuk memerdekakan Turki, negeri itu tak akan seluas dan sebesar seperti sekarang ini," kata Lalu Muhamad Iqbal 1920. Akibatnya, beberapa wilayah kekuasaan Turki harus lepas menjadi Kerajaan Hijaz. Negeri ini kemudian dianeksasi dan menjadi bagian Arab Saudi pada 1932.

Ia mengungkapkan hal itu sebagai respons atas penolakan sejumlah pihak di tanah air terkait rencana menjadikan Ataturk sebagai nama jalan di Ibu kota Jakarta. Mereka yang menolak antara lain menilai Ataturk sebagai tokoh sekuler yang merugikan dan merusak Islam.

Menurut Lalu Muhamad Iqbal, menilai sosok seorang tak bisa hitam-putih dan hanya berdasarkan teks yang sempit. Sebab, segala kebijakan biasanya mempunyai latar belakang sosiologis dan politik tertentu.

Buktinya, bagi rakyat dan para pemimpin Turki, sosok Ataturk, tetap dielu-elukan sebagai pahlawan yang membebaskan negeri itu dari keterpurukan. Mereka menghormatinya dengan memasang foto Ataturk di gedung dan lembaga pemerintahan.

"Bagi rakyat Turki, Kemal Pasha Ataturk adalah pembebas negeri itu dari penjajahan Barat. Semua mengakui jasanya sebagai pendiri Republik Turki," tegas Lalu Muhamad Iqbal.

Hal lain, Ataturk juga mengalami pengalaman tidak menyenangkan di masa kecil. Saat menimba ilmu di lembaga pendidikan Islam dia pernah mengalami beberapa kali tindak kekerasan yang membuatnya kemudian hijrah ke sekolah umum. [yy/news.detik]